468x60bannerad

Monday, November 10, 2014

Presiden Joko Widodo: Gotong Royong Membangun Bangsa



Ada sekembang asa yang muncul di dalam diri berjuta-juta rakyat Indonesia ketika mendengar nama Joko Widodo. Rakyat kini telah memilikinya sebagai pemimpin baru bangsa dan negara. Rakyat pun pantas menyampaikan selamat atas pelantikan Ir. H. Joko Widodo sebagai Presiden ketujuh Republik Indonesia. Tentu saja, di balik ungkapan selamat itu, teriring pula berbagai harapan yang disematkan di pundaknya.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 149, November 2014

Friday, November 7, 2014

Linda Afriani: Kagumi Warna Kehidupan



Fashion dan kecantikan lekat dengan kehidupan wanita masa kini. itulah sebabnya seorang Linda Afriani memilih menekuni bisnis di bidang fashion sekaligus kecantikan. Bukan tanpa alasan jika wanita asli Jakarta yang kini menetap di Yogyakarta ini memilih industri mode dan kecantikan sebagai bisnis utamanya saat ini. menurut Linda, meski jauh dari keriuhan sorot lensa kamera, dunia fashion yang dikenal lekat dengan wanita pun tetap terkoneksi dengan urusan kecantikan. Linda yang merasa jatuh cinta dengan dunia desain ini mengatakan bahwa fashion terbaik akan membuat wanita terlihat lebih cantik, apalagi jika ditunjang dengan kecantikan jiwa dan raga.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 149, November 2014

Thursday, November 6, 2014

Salman Al Farisi: Indonesia Punya Potensi



Bukan rahasia lagi jika negara kita memiliki berjuta potensi baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Namun sayangnya, masih banyak yang belum tergarap dengan baik sehingga peluang Indonesia untuk bisa naik kelas dengan mengekspor barang ke luar negeri pun belum maksimal. Salman Al Farisi, yang kini menjabat sebagai Duta Besar LBBP untuk UEA mengatakan bahwa sebenarnya Indonesia memiliki insan kreatif yang mampu mengolah sumber daya alam yang masih berlimpah. Salah satunya Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Dengan kekayaan batu permata yang melimpah, kini banyak produk hasil tambang yang diekspor ke Dubai dan Abu Dhabi.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 149, November 2014

Wednesday, November 5, 2014

Nursalam A. Tabusalla: Memasyarakatkan Golf



Terlahir dari keluarga pencinta sepakbola tapi malah mencintai olahraga golf, itulah sosok Nursalam Tabusalam, President Director Senayan National Golf Club. Awalnya Nursalam menyukai sepakbola dan posisi favoritnya adalah penjaga gawang. Olahraga golf mulai dikenalnya pada usia 16 tahun, adalah sang ibu yang prihatin setiap melihat Nursalam pulang dari bermain sepakbola selalu mengalami lecet dan luka di sekujur badannya.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 149, November 2014

Monday, November 3, 2014

Hamonangan Damanik: Cemburu Positif

Usia masih terbilang kepala tiga, tapi sudah menduduki posisi Corporate GM Sales & Marketing di Intiwhiz International, sebuah hospitality management yang merupakan salah satu anak perusahaan dari Intiland Development,Tbk. Hamonangan Damanik atau Monang biasanya di panggil, pria kelahiran Jakarta ini memiliki segudang pengalaman diberbagai posisi jabatan di hotel - hotel di Indonesia maupun Malaysia, mulai dari posisi cleaning service hingga posisi general manager seperti sekarang ini.

Hal itu tercapai karena pada dirinya sering muncul rasa cemburu positif atau tertantang saat merasa dirinya ditekan oleh kekuasaan yang lebih tinggi dari dirinya.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 149, November 2014

Sunday, November 2, 2014

M. Nasir Mattusin: Optimalkan Potensi Diri

Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang multi talenta. Oleh karena itu, saat ini banyak orang berkarier bukan di bidang ilmu yang mereka pilih sewaktu duduk di bangku kuliah. Seperti sosok yang satu ini, M. Nasir Mattusin. Pria kelahiran Meranjat, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, 31 Mei 1957 ini mengaku pendidikannya bukan berasal dari bidang perhotelan melainkan alumnus Universitas Islam Negeri. Meski demikian, Nasir memutuskan untuk belajar bersungguh-sungguh dan mengoptimalkan potensi yang ada dalam dirinya.

“Saya meyakini bahwa jika kita sudah menguasai satu bidang dan kita memberanikan diri keluar dari bidang tersebut kemudian menekuni bidang lainnya, maka akan banyak hal yang dikuasai. Meski saya tidak memiliki latar belakang pendidikan di industri ini, namun dengan kerja keras dan pengalaman bekerja selama 34 tahun di perhotelan membuat saya semakin mengetahui seluk beluk industri ini,” papar pria yang kini menjabat sebagai General Manager Aston Solo Hotel ini kepada Kabare.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 149, November 2014

Dr. Dri Arbiningsih, SS., Mphil.: Luncurkan Album Persembahanku

“Tak ada lagu, maka tak ada musik,” demikian kutipan dari pencipta lagu ternama, James F. Sundah. Adanya kalimat ini memberikan pencerahan bahwa sejarah musik yang menghiasi kancah musik Indonesia sejak tahun 1950-an di era Irama dan Lokananta Records hingga hari ini didasari oleh kekuatan lagu-lagu, fenomenal serta monumental dan merupakan penanda berbagai zaman.

“Sayangnya, di Indonesia pendokumentasian sejarah, khususnya lagu-lagu kurang tergarap baik. Saya memiliki kepedulian untuk mengangkat kembali lagu-lagu di era 1950-an untuk diperkenalkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Karena banyak sekali karya-karya emas dari Ismail Marzuki, Sam Saimun, Oesman dan lain sebagainya yang lirik dan nadanya sangat bagus meski sederhana,” ujar alumni Jurusan Ilmu Filsafat UGM ini kepada Kabare.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 149, November 2014

Saturday, November 1, 2014

Yulianto Sochebu: Jaringan Membuat Mudah

Pria satu ini mengaku memiliki keinginan luar biasa untuk belajar banyak hal di saat-saat awal bekerja di perhotelan. Yulianto Sochebu saat itu ingin dapat melayani tamu dengan baik, lebih-lebih tamu asing, meski dia lebih banyak bekerja “di belakang layar”. Awalnya dia bekerja di bagian akunting sebagai auditor. Kemudian sempat di bagian front office meski kemudian kembali lagi ke bagian akunting.

Karena keinginannya yang kuat, di waktu senggang Yuli mengasah kemampuannya interaksi dengan tamu asing. Bermodal 3 lagu berbahasa asing dan bakat entertainment, ia pun lantas dilirik salah satu petinggi Inna Garuda untuk pindah divisi menjadi manager marketing.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 149, November 2014

Thursday, September 4, 2014

Ignatius Jonan, Rumuskan Tiga Dekade Hidup



Ignatius Jonan rupanya sedang menjadi trending topic berkaitan dengan loyalitasnya dalam memimpin PT. Kereta Api Indonesia (PT. KAI). Pria kelahiran Singapura, 21 Juni 1963 ini menjadi pemberitaan lantaran banyak foto-foto ketika dirinya sedang bertugas yang tersebar di media massa. Sebagai figur seorang pemimpin, Jonan dinilai cukup berhasil dalam membenahi berbagai kekurangan yang ada di PT. KAI. Di tangannya, Jonan cukup berhasil meningkatkan pendapatan dan keuntungan perusahaan BUMN yang bergerak di bidang transportasi massa tersebut.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 145, Juli 2014

Erny Kusmastuti, Koleksi Busana Batik Smart Casual



Perjalanan karier yang dimulai dari nol hingga akhirnya mampu menapaki tangga kesuksesan memang menjadi pengalaman yang sangat berharga dan membanggakan. Apalagi jika figure tersebut tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang hospitality, namun pada akhirnya mampu dipercaya memegang jabatan nomor satu di hotel berbintang lima. Erny Kusmastuti, menjadi salah satu sosok orang nomor satu di Hotel Eastparc Yogyakarta yang melewati proses itu. Sebelum menggapai tangga kesuksesan, wanita kelahiran 14 September ini melalui proses belajar dalam dunia yang sudah sekian puluh tahun ditekunita tersebut.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 145, Juli 2014

Marsma TNI Agus Munandar, SE., Membentuk Tentara Langit Indonesia



Dari dulu sampai saat ini, pilot dianggap sebuah profesi bergengsi di Indonesia ini. Menjadi seorang pilot TNI AU bagi sebagian orang sudah menjadi panggilan hati. Apalagi jika profesi itu sudah menjadi cita-cita sejak usia dini, tentu berhasil menjadi pengemudi pesawat-pesawat TNI AU merupakan kebanggan tersendiri.

Agus Munandar, pria kelahiran Semarang, 1 Januari 1961, ini pun sejak belia sudah berangan menjadi seorang pilot. Suka cita yang dalam pastinya juga ia rasakan ketika berhasil meraih apa yang telah lama diimpikan itu. Gerbang menuju cita-citanya berawal ketika Agus Munandar berhasil masuk Akabri pada tahun 1981 yang kemudian mengantarnya masuk ke sekolah penerbang di Lanud Adisutjipto.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 145, Juli 2014

Haryadi Suyuti, Melayani dengan Hati



Karirnya dalam pemerintahan dimulai sejak tahun 2006 sebagai Wakil Walikota Yogyakarta periode 2006-2011. Kemudian, di tahun 2012 ia maju dalam Pilkada Kota Yogyakarta dan memenangkan pertarungan. Semenjak itu, kini ia menjabat sebagai Wali Kota Yogyakarta periode 2012-2016. Suami dari Tri Kirana Muslidatun ini memiliki cita-cita ingin mewujudkan Kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan berkualitas dan inklusif, pariwisata berbasis budaya, dan pusat pelayanan jasa yang berwawasan lingkungan, serta ekonomi kerakyatan.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 145, Juli 2014

Wednesday, September 3, 2014

Arif Budi Santoso, Bumi Dipijak, Langit Dijunjung



Sejak April 2013 lalu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Makassar Agus Budi Santoso secara resmi berpindah tugas ke Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) Yogyakarta. Di sanalah, ia melanjutkan tugasnya, memimpin BI Yogyakarta menjaga kestabilan nilai rupiah, mengendalikan sistem pembayaran, sekaligus melakukan pengawasan perbankan secara industri atau makro.

“Di Bank Indonesia, segala sesuatunya tentu sudah ada aturan. Berarti kami harus menjalankan aturan itu dengan jelas. Dan saat ini yang menjadi concern saya adalah bagaimana lembaga yang saya pimpin ini bermanfaat untuk masyarakat DIY, karena kami juga memberikan layanan, seperti penukaran uang, transfer, kliring, dan sebagainya,” ujar Arif.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 145, Juli 2014

Tuesday, September 2, 2014

Billy Yonathan, Kuliner Indonesia Luar Biasa

Profesi chef belakangan ini mulai terangkat. Chef menjelma selebriti yang tidak lagi bekerja hanya di “belakang layar” atau di dapur. Dulu orang mungkin mengira bahwa chef hanyalah orang yang pintar masak. Tapi kini, orang mulai terbuka bahwa chef punya kemampuan profesional dalam mengolah atau mengkreasi makanan.
Billy Yonathan ialah seorang chef, yang kini bekerja di restoran Nanny’s Pavillon sebagai GM Product Development. Di situ, salah satu tugas utamanya adalah menciptakan menu-menu baru untuk restoran yang telah memiliki 14 cabang di berbagai kota itu. Billy sendiri mengakui bahwa masyarakat kini telah terbuka dan menghargai profesi chef. Tentu, ia pun menyambutnya dengan gembira. Sebab, secara tidak langsung, hal itu seperti sebuah suntikan semangat yang membuat dirinya makin optimis dan teguh pada profesinya.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 145, Juli 2014

Anna Tamara Sungkar, Tantangan Jadi Motivasi

Dalam setiap pekerjaan, pasti setiap orang akan menemukan tantangan di dalamnya. Begitu juga bagi Anna Tamara Sungkar yang saat ini menekuni kariernya sebagai Public Relations Aston Hotel Solo. Menurutnya, banyak tantangan yang dihadapinya ketika dirinya bekerja.

“Ketika saya mendapatkan banyak motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari segi tutur kata saat bertemu tamu, penampilan yang harus sopan, bersih dan rapi. setiap tingkah laku dan perbuatan kita yang menjadi sorotan dan contoh dan persepsi bahwa PR adalah wajah dari hotel yang ia bawakan, atau "you are the face of your hotel". Hal tersebut menjadi suatu tantangan bagi saya untuk dapat menjadi pribadi yang tangguh, tahu bagaimana harus meng-handle stress, selalu tersenyum, ramah dan tidak pandang bulu terhadap level dibawahnya,” ujar wanita kelahiran Magelang, 5 November 1988 kepada Kabare.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 145, Juli 2014

Zulkifli Kampai, Cerdas Menangkap Peluang

Berawal dari usaha berjualan seprei di Sunday Morning (Sunmor) UGM, nama KaZu Interior mulai dikenal luas oleh masyarakat. Tak hanya sekitar DIY dan Jawa Tengah, namun pelanggan KaZu sudah kian merambah ke Sumatra, Sulawesi hingga Kalimantan. Tentunya, keberhasilan KaZu dalam mengembangkan usahanya tak semudah membalikan telapak tangan. Banyak proses dan usaha serta kerja keras di balik itu semua.

Adalah Zulkifli Kampai, sosok di balik keberhasilan bisnis interior ini. Kegigihannya mengembangkan KaZu patut diacungi jempol. Zul mengatakan bahwa bisnis ini dimulai tahun 2004, dimana saat itu dirinya masih menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Jurusan Ilmu Tanah UGM.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 145, Juli 2014

Ariany Eka Putri, Angkat Sisi Lain Bekasi

Kota Bekasi tampaknya kini sudah berkembang menjadi salah satu tujuan bisnis dan wisata. Hal ini terlihat dengan banyaknya hotel-hotel baru yang mulai bermunculan di wilayah Bekasi, yang secara otomatis akan mendongkrak potensi wisata yang ada di Bekasi. Menurut Ariany Eka Putri, Public Relations Manager Hotel Santika Premiere Kota Harapan Indah, Bekasi, sebenarnya cukup banyak destinasi wisata di Bekasi yang belum terekspose oleh media.

“Beberapa diantaranya Taman Buaya Indonesia Jaya, Waterboom, Gedung Juang 45, Pantai Muara Beting dan banyak lagi lainnya. Tentunya ini seharusnya menjadi tanggung jawab kita bersama dan pemerintah setempat untuk bisa mengelola destinasi wisata tersebut,” ujar wanita kelahiran 18 April 1976 ini kepada Kabare.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 145, Juli 2014

Monday, July 7, 2014

Leo Kristi, Orkestra Sang Pengelana



Lirik-lirik yang diciptakannya seperti syair kehidupan. Potret rakyat jelata, pigura alam, serta degup jantungnya pada negeri tercinta. Semua tercipta dari tapak kaki yang menuntunnya dari ujung ke ujung jalan.

Selepas 80-an, waktu laksana sampan yang dikayuhnya ke tepian. Sosok Leo Kristi hampir tak pernah terlihat lagi di televisi hingga saat ini. Dunia populer perlahan ditinggalkan, seiring berubahnya gaya melagu para seniman musik. Sendiri, ia telah menemukan jalurnya dan menikmatinya. Ia memilih mendayung sampan di tepian, di sungai kecil yang tak banyak ikan. Di situ ia tetap melagu, menyuarakan rasa yang menggelora ketika melihat serak-serak kehidupan yang dilewatinya.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 145, Juli 2014

Arswendo Atmowiloto, “Budaya itu Bintangnya Indonesia”



Arswendo Atmowiloto, sosok pria agak nyleneh, dikenal suka berkelakar dan terkesan seenaknya sendiri. Dialah pribadi yang suka humor dan santai. Nama aslinya adalah Sarwendo, tapi karena dianggap tidak membawa keberuntungan, maka dia mengubahnya menjadi Arswendo Atmowiloto. Pria yang dikenal sebagai penulis sekaligus wartawan yang aktif di berbagai surat kabar ini lahir di Solo, 26 November 1948.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 145, Juli 2014

Sunday, July 6, 2014

Dr. Tedjo Rukmoyo, Sp. OTSpine(K), Salurkan Rasa Takut Jadi Energi Positif

Hobi dalam bidang otomotif rupanya sudah mendarah daging sejak kecil. Kepada Kabare, sosok dokter ahli bedah orthopedic dan tulang belakang yang kini bertugas di RSUP. Dr. Sardjito, Yogyakarta, ini banyak mengisahkan kenangan masa kecil dan pengalamannya dalam bidang otomotif. Dr. Tedjo Rukmoyo, Sp. OTSpinke(K)., dikenal sebagai dokter spesialis bedah tulang belakang. Alumni dari FKU UGM yang mengambil spesialisasi bedah tulang di Unair kemudian dilanjutkan dengan memperdalam bedah tulang belakang di UI hingga akhirnya menyempurnakan pendidikannya di Sapporo University dan State University New York, ini memang cukup mumpuni dalam bidangnya.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 145, Juli 2014

Saturday, July 5, 2014

Sri Maryati, Cantik Itu Milik Perempuan

Semua memang harus dari hati. Bagi kaum perempuan, cantik pun musti berasal dari hati. Setidaknya hal itu yang diungkapkan Sri Maryati, Area Sales Manager Jateng-DIY Martha Tilaar Group, saat berbincang seputar kecantikan dengan Kabare. Menurutnya, setiap perempuan itu wajib cantik. “Karena cantik itu milik perempuan, maka perempuan harus cantik,” katanya. Ditambahkan Maryati, kecantikan perempuan dari sisi fisik memanglah yang pertama, artinya memang harus benar dipelihara. Namun, menurutnya ada yang lebih dari itu, kecantikan perempuan yang utama adalah kecantikan yang berasal dari hati, atau yang disebut inner beauty. Karena dengan itu, perempuan akan menjadi cantik sempurna.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 145, Juli 2014

Friday, July 4, 2014

Novita Pratika Ismayanti, Menyeimbangkan yang Kiri dan Kanan

Ini adalah soal apa pengaruh otak kiri dan kanan pada cara berpikir. Banyak artikel menyebutkan, otak kiri berfungsi mengatur kemampuan manusia pada nalar, tulisan, hitungan dan logika. Jika otak kiri bermasalah, akan berakibat gangguan ingatan jangka pendek, berbicara, dan logika matematis. Orang musti bermain puzzle, belajar berhitung dan ilmu pasti lainnya, untuk menjaga otak kiri bekerja optimal.

Sedangkan otak kanan berfungsi untuk berpikir kreatif, memberikan kemampuan manusia untuk berkhayal, mencurahkan emosi, mebedakan warna, serta ilmu ruang. Otak kanan juga berkemampuan untuk menyimpan memori jangka panjang. Dan jika yang kanan ini bermasalah, maka yang terganggu adalah kemampuan visual dan emosi. Untuk menjaga ketajamannya, maka seseorang perlu mendengarkan atau bermain musik.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 145, Juli 2014

Dr. Ernawati Hardani, MPH., Fashion Menunjang Kecantikan



Bagi perempuan kelahiran 18 Mei ini, wanita harus selalu tampil cantik. Kecantikan raga tak harus selalu ditunjang dengan perawatan yang mahal, namun dengan pemilihan padu padan busana yang pas, maka akan terlihat anggun dan berkelas. Maka lain halnya dengan wanita yang memiliki paras rupawan tapi penampilannya urakan maka jika dilihat secara keseluruhan maka kecantikannya tak akan terlihat.

“Kecantikan dan fashion itu kan seiring sejalan. Wanita mana yang tak ingin terlihat cantik? Oleh karenanya, setiap wanita harus memiliki taste yang bagus untuk fashion. Tentunya, akan lebih bagus lagi jika ditunjang dengan perawatan kecantikan baik dari dalam maupun dari luar, karena penampilan yang baik akan menunjang kecantikan kita,” ujar dokter yang juga pemilik Derna Health & Beauty ini.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 145, Juli 2014


Thursday, July 3, 2014

Rudy Christianto, Bangun Generasi Bangsa Lewat Edukasi

Potensi Indonesia dalam bidang pertanian dan seni budaya memang semakin mengalami kemajuan berarti. Adanya peran pendidikan dalam memajukan potensi yang dimiliki bangsa ini juga sangat penting karena edukasi merupakan landasan pokok untuk menyiapkan generasi mendatang. Meski demikian, rupanya Indonesia masih memiliki beberapa daerah yang masih tertinggal, karena keterbatasan pemerintah dalam menjangkau tempat-tempat tersebut sehingga pendidikan dirasakan kurang optimal. Menyadari bahwa pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, namun juga tanggung jawab bersama, maka PT. Astra International, Tbk., sebagai baguian dari masyarakat Indonesia merasa terpanggil untuk berkarya menyelamatkan generasi bangsa melalui kepedulian di bidang pendidikan.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 145, Juli 2014

Dr. Maman Hermawan, M.Sc., Kembangkan Hasil Laut non Konsumsi Hingga Mancanegara

“Hasil non pangan kelautan dan perikanan Indonesia masih kalah saing dengan negara-negara lainnya. Contoh, persaingan produk ikan patin dengan Vietnam, di mana produk dari negara tersebut harganya jauh lebih murah dari Indonesia. Saat ini Indonesia baru memanfaatkan produk utamanya saja dan tidak memperhatikan hasil limbah dari produk utamanya tersebut. Untuk itu Dinas Pengembangan Produksi Non Konsumsi ini berperan disana, di mana hasil sampling tersebut di olah menjadi produk-produk baru yang bermanfaat dan dengan menggunakan konsep blue economy,” ujar pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Perikanan Provinsi di Bengkulu ini kepada Kabare.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 145, Juli 2014

Wednesday, July 2, 2014

Arie Irwanto, Tingkat Pendidikan Bukan Pengahalang

Banyak orang tidak akan menyangka, Arie Irwanto mengawali karier di bidang perhotelan sebagai seorang security 9 tahun yang lalu. Awal kariernya dimulai selepas ia lulus SMK di Surabaya, merantau ke Pulau Dewata dan bekerja di salah satu hotel. Waktu pun bergulir, diam-diam pihak manajemen hotel mengawasi kinerjanya.

Pihak hotel menilai, Arie bekerja sangat baik. Maka oleh manajemen, Arie dipindah ke bagian dalam dapur. Karier Arie tidak hanya berhenti sampai di situ. Pelan tapi pasti, kariernya menanjak hingga puncak. Hingga suatu waktu, ia dipercaya sang owner menjabat general manager. Hasilnya, dalam beberapa waktu hotel yang ia pimpin berkembang sesuai harapan. Atas prestasi itu, dalam waktu relatif singkat, Arie sudah dipercaya menakodai 3 hotel sekaligus dan bisa memberikan hasil yang memuaskan.

Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 145, Juli 2014

Thursday, June 12, 2014

Nyi.Ambar Lukitaningsih, SE, MM., Kembalikan Kepopuleran Batik Alam



Masyarakat Jawa memang mengagungkan batik sebagai kain tradisional yang memiliki banyak makna. Tak mengherankan karena batik memiliki ragam corak yang dibuat oleh tangan-tangan terampil para pengrajinnya yang rata-rata sudah berusia lanjut. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada sejak zaman Majapahit dan menjadi popular akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Tentu saja batik yang dikenal adalah batik tulis, yang proses pewarnaan kainnya menggunakan malam. Fenomena kepopuleran barik semakin meroket ketika UNESCO menobatkan batik sebagai warisan budaya tak benda pada 2 Oktober 2009 lalu.

Nyi.Ambar Lukitaningsih, SE, MM., merupakan salah satu tokoh wanita yang menghormati keagungan karya seni batik. Kecintaannya akan batik bermula ketika wanita yang akrab disapa Ita Haryo ini melihat sang bunda mengenakan kain batik sebagai busana sehari-harinya. Dari sang bunda pula, Ita mengetahui berbagai macam corak batik beserta maknanya.

Gilang Ramadhan, Ritme Nusantara untuk Dunia

Musik, ternyata juga ibarat jendela dunia. Sama seperti buku, musik bisa memberi pengetahuan, semisal seluas apa budaya suatu bangsa. Siapapun dapat mengawali mengenal negeri lain dari musik. Itulah yang setidaknya dapat diamati dari apa yang telah dilakukan musisi Gilang Ramadhan. Ia semacam telah membuka jendela Indonesia kepada dunia. Ketika musik menjadi daya tarik, ketika itu jugalah budaya Nusantara bertambah menarik untuk semakin dikenali negeri lain.

Gilang Ramadhan, kita mengenalnya sebagai seniman drum kawakan Tanah Air. Mengenai kesenimanannya, pastinya tak ada lagi orang meragukan bobot bebet musisi yang satu ini. Tak hanya satu-dua grup musik pernah dikawalnya. Ia bahkan kerap kolaborasi dengan musisi-musisi ternama hingga tampil pada bermacam perhelatan musik internasional. Seabrek pengalaman itu tentu menjadi tangga bagi Gilang hingga lantas kesohor sebagai musisi papan atas Indonesia.

Tuesday, June 10, 2014

Maya Dewi, Cara Petik Buah Melimpah

Wisata MICE telah berkembang pesat di Yogyakarta. Bagaimana tidak, kota wisata itu memang mempunyai daya pikat luar biasa, sehingga kegiatan MICE banyak digelar di sana. Dengan perkembangan pariwisata yang cukup pesat itu, hotel-hotel berstandar nasional dan internasional kian bermunculan dan berlomba-lomba memberi fasilitas yang memadai.

Hal itu diakui oleh Maya Dewi. Director of Sale MICE Eastparc Hotel Yogyakarta ini mengatakan bahwa kian banyak hotel yang berfokus melayani MICE. Tak kecuali Hotel Eastparc Yogyakarta, memiliki dua ball room dan duapuluh meeting room yang tak lain untuk memberi wadah kegiatan wisata semacam itu.

Saturday, June 7, 2014

Retnowati, Bersedia Jadi yang Kedua

Meniti karier di dunia perhotelan, membuat perempuan bernama lengkap Aris Retnowati ini harus rela hidup jauh dari keluarga. Pehobi menyanyi tersebut mengatakan, untuk menjaga hubungan dengan suami dan kedua anaknya yang tinggal di Kota Semarang, ia secara intens menjaga komunikasi.

“Dulu, banyak orang beranggapan, kerja jauh dari rumah dan berpisah dengan keluarga hal yang sulit. Namun, jarak tersebut bisa dipangkas dengan terjaganya komunikasi. Sekarang alat telekomunikasi juga sudah canggih. Itu menjadikan jarak bukan masalah,” katanya.

Tuesday, June 3, 2014

H. Asnawi Bahar, Utamakan Keunggulan

Bagi sebagian orang, Jogja dipandang memiliki banyak keistimewaan. Destinasi wisata tinggal pilih saja, mau ke pantai, candi, belanja, kuliner bahkan industry kreatif di Jogja semua ada. Selain biaya cukup terjangkau, pelayanan masyarakat Jogja kepada para tamu juga sangat baik. “Kalau boleh pindah ke Jogja, saya ingin pindah ke Jogja,” Ucapan bernada sedikit bercanda itu dilontarkan H.Asnawi Bahar Ketua Umum DPD Asita di sela-sela acara pelantikan pengurus DPD Asita DIY beberapa waktu lalu.

Sebagai seseorang yang berkecimpung di dunia pariwisata, Asnawi mengungkapkan bahwa point daripada industry pariwisata adalah kebersamaan antara stakeholders dan pelaku wisata. Sebagai contoh, dengan semua yang dimiliki Jogja, yang perlu diperbaiki adalah stakeholdersnya. Jika industry maju,pariwisata maju maka semua akan senang.

Monday, April 14, 2014

Prabowo Subianto, Mengembalikan Marwah Indonesia Sebagai Macan Asia



Ketika berdiri di atas panggung dan berorasi, kata-kata dalam pidatonya sangat berapi-api. Kepal tangannya meninju ke angkasa, seperti ingin mendobrak dan mengubah keadaan yang ada. Ya, siapa yang tidak mengenal dirinya? Saat ini, kita semua, memang tidak bisa berandai-andai siapa yang bakal memimpin Indonesia pascapemilu tahun 2014 nanti. Tapi setidaknya, kita dapat berasumsi bagaimana laki-laki ini memiliki keinginan kuat untuk mengembalikan kejayaan dan martabat Indonesia sebagai bangsa besar dan berdaulat. Ia ingin mengembalikan marwah bangsa Indonesia sebagai Macan Asia.

Gabriela Isler, Sejatinya Sebuah Kecantikan

Ajang kontes kecantikan ratu sejagat, beritanya seolah tak pernah henti. Pun demikian siapa yang menjadi pemenangnya. Di manapun dia berada, mata lensa para pencari berita seolah tak pernah terlambat menangkapnya. Maria Gabriela de Jesus Isler Morales, sang pemenang kontes kecantikan ratu sejagat tahun 2013, yang dinobatkan pada 9 November di Crocus City Hall Moscow, Rusia, selama setahun ke depan akan berkeliling dunia menjalani hari-harinya sebagai duta Miss Universe. Sudah pasti, kehadirannya di berbagai daerah dan tempat, akan selalu menjadi makanan kuli-kuli tinta.

Ya, meskipun terkesan berulang dan diulang, berita atau profil dia yang menyunggi tiara berkilau, mahkota yang mengesahkannya sebagai perempuan tercantik di jagat, selalu punya kesan tersendiri bagi yang menyimaknya. Soal kesan, Molly, panggilan perempuan kelahiran Valencia Carabobo Venezuela, 21 April 1988 ini, pun memiliki kesan tersendiri dalam mengartikan Miss Universe yang kini disandangnya.

Menurutnya, Miss Universe memang pencapaian cukup besar dalam hidupnya. Bagaimana tidak, mengikuti kontes ratu sejagad itu adalah puncak dari kariernya sebagi model. Apalagi hal itu juga dilatarbelakangi atas rasa cinta terhadap ibu dan neneknya. Memang, sang ibulah yang kemudian meminta dan mendorongnya mengikuti ajang putri-putrian setelah sejak usia 14 tahun terjun di dunia modeling. Semua ini menurut Gabriela memang untuk menyenangkan hati orangtuanya.

Juli Chitra Dewi, Membangun Kesadaran Sejarah



Bila berkaca kepada para tokoh pergerakan bangsa Indonesia, maka kita akan menemukan bahwa mereka merupakan para pembelajar yang gigih dan juga pembaca yang tekun. Di antara yang banyak mereka tekuni, sejarah merupakan salah satu yang memesona mereka, dari mana mereka mendapat inspirasi perjuangan yang tak pernah kering. Hal ini yang menjadi pemikiran dari sosok wanita cantik berwajah oriental ini.

Saturday, April 12, 2014

Edward Gunawan, Filmmaker Jogja Menginspirasi

Baru-baru ini Edward Gunawan berkunjung ke Jogja dalam rangka mengisi sebuah event festival film. Edward berkesempatan menayangkan dua film garapannya yakni Adam dan Draft Day. Film Adam menceritakan tentang seorang anak Israel yang mengalami bullying. Sedangkan film Draft Day bercerita mengenai waria Thailand yang mengikuti wajib militer. Menurutnya, ini merupakan kesempatan pertamanya untuk berbagi bersama para filmmaker Jogja.

Ketika berbincang dengan Kabare, Edward yang juga dikenal sebagai aktor, penulis, produser, sutradara, dan model profesional ini mengatakan bahwa dirinya sangat senang bisa berbagai ilmu dan pengalaman tentang dunia perfilman tanah air. “Bagi saya Jogja merupakan kota yang penuh potensi. Tak hanya kental dengan budayanya, namun Jogja juga menyimpan segudang sineas film muda yang berbakat. Jogja memiliki sutradara Garin Nugroho, Hanung Bramantyo, Ifa Isfansyah, Yosep Anggi Noen dan masih banyak lagi. Yang saya kagum dengan Jogja adalah selain memiliki sineas muda berbakat, para film maker Jogja juga sangat kompak, aktif dan solid. Ini bisa menginspirasi daerah lain bahkan ibukota,” ujar pria kelahiran Jakarta, 28 Juli 1982 ini kepada Kabare.

Surya Ananta, Utamakan Pelayanan Terbaik

Bagi masyarakat Jogja, Plaza Ambarrukmo sudah menjadi trend setter dalam dunia belanja. Memasuki usianya yang ke – 8 thun, Plaza Ambarrukmo pun memiliki cara terbaik untuk memanjakan para customernya. Selain menggelar serangkaian event menarik dalam memperingati ulang tahunnya, Plaza Ambarrukmo juga mengadakan midnight sale untuk memanjakan hasrat belanja para customernya. Bagi sang general manager Surya Ananta, hal ini merupakan salah satu contoh pelayanan yang diberikan oleh pihaknya untuk terus menjaga kenyamanan belanja para konsumennya.

“Komitmen kami dalam menghandle pasar adalah memberikan pelayanan yang berkualitas. Banyak sekali tantangan dalam membesarkan nama Plaza Ambarrukmo. Semua tantangan yang kami lalui dari periode ke periode sangat berbeda dan dinamis sekali. Dari awal kami berdiri tahun 2006 tantangan kami adalah bagaimana memberi performa yang pas secara pelayanan. Oleh karena itu, kami selalu memberikan service excellent untuk para pengunjung,” papar pria kelahiran 12 Januari 1970 ini kepada Kabare.

Friday, April 11, 2014

Junior Rorimpandey, Belajar Untuk Jadi yang Terbaik

Nama Chef Juna memang sangat dikenal di tanah air. Pria yang pernah menjadi juri di salah satu ajang kompetisi memasak ini memang memiliki pesona yang kuat sehingga disukai masyarakat. Sebagai chef, pria bernama lengkap Junior Rorimpandey ini mengaku masuk ke dunia chef karena suatu “kecelakaan”.

Chef Juna, panggilan akrabnya sebelumnya sempat mengikuti studi di Amerika untuk menjadi seorang pilot. Namun kini, kariernya di dunia kuliner semakin cemerlang. Juna kini lebih dikenal sebagai celebrity chef dan sering diundang untuk melakukan kegiatan kuliner bersama asosiasi chef seluruh Indonesia, ICA.

“Saya memang aktif melakukan kegiatan bersama Indonesian Chef Association. Seperti saat ini, selain mengikuti Rakernas ICA di Royal Ambarrukmo Hotel Yogyakarta, saya juga menjadi juri ajang lomba memasak. Saya lihat ada beberapa yang memang cukup baik cara dia memasak, kebersihan kitchennya sampai soal rasa dan presentasi. Menurut saya, jika para peserta memiliki kemauan untuk `mau belajar, berusaha menjadi lebih keras dan memperbaiki kekurangan, maka bukan tidak mungkin mereka akan menjadi chef professional,” papar pria kelahiran Manado, 20 Juli 1975 ini kepada Kabare.

Thursday, April 10, 2014

Mey Nurnaningsih, Mengelola Hotel Bintang Lima dengan Sumber Daya Lokal

Bermula sebagai Consultant di Hotel Tentrem, wanita yg telah 22 tahun tinggal dan bekerja di beberapa hotel ternama di Surabaya antara lain Sheraton, Shangrila, Hilton, dan JW Marriot ini, akhirnya diberikan kepercayaan oleh owner Hotel Tentrem yang juga merupakan pemilik usaha Jamu Sido Muncul, Irwan Hidayat, untuk menjadi General Manager.

Wanita kelahiran Cirebon ini menerima tawaran untuk mengelola Hotel Tentrem karena tertarik dengan keinginan owner untuk memberdayakan sumber daya lokal dengan kualitas dan standart hotel bintang lima.

“Pak Irwan mempercayakan saya sebagai orang lokal untuk membentuk tim tanpa menggunakan operator lain, dan memberikan konsep managemen hotel dari awal, dengan sistem standart international hotel bintang lima. Ini adalah tantangan dan kepercayaan buat saya, karena kebetulan backround saya bekerja di hotel-hotel bintang lima yang banyak memiliki tantangan karena berstandart international, jadi pengalaman dan ilmu ini bisa saya terapkan di Hotel Tentrem.” ujar wanita yang kini telah tinggal di Jogja bersama keluarganya ini.

Wednesday, April 9, 2014

Indra Cahya Uno, Fokus Tekuni Dunia Konsultan

Dalam bidang management consultanting, nama Indra Cahya Uno sudah cukup dikenal. Kakak kandung dari pengusaha Sandiaga Uno ini memang fokus bekerja di bidang management consulting untuk membantu perusahaan-perusahaan yang ingin bertransformasi. Ditemui di MesaStila Hotel & Resort beberapa waktu lalu, sarjana Aerospace dari Universitas Wichita Kansas, USA, dan Universitas Michigan, Ann Abror tersebut mengaku dirinya kini lebih fokus membantu perusahaan yang perlu re-orientasi tujuannya. dirinya membantu untuk mendefinisikan arah dan menentukan resources apa yang dibutuhkan untuk bisa menunjang kinerja perusahaan.

“Setiap perusahaan membutuhkan ide segar, maka dari itu saya mencoba datang membeberkan bagaimana peta industrinya, pemain-pemainnya seperti ini dan pasarnya begini. Satu contoh kasus yakni perusahaaan keluarga. Biasanya perusahaan keluarga yang misalnya dibangun sang ayah terkadang merasa bingung untuk mewariskan kepemimpinannya. Kemudian ketika sang ayah meminta tolong apakah keluarganya bisa disiapkan untuk meneruskan usaha tersebut. Maka tugas saya untuk mempersiapkan penerusnya untuk mengelola perusahaan tersebut. Atau bisa juga kami menyarankan agar perusahaan dibuat profesional saja, jadi orang lain yang mengelola. Karena setiap perusahaan pasti ingin memiliki sistem sustainbility atau ketersambungan, jika ingin perusahaannya terus selamanya ada," papar Indra.

Friday, April 4, 2014

Lailly Prihatiningtyas, Memimpinlah Pemimpin Muda

Muda usianya, tapi matang kemampuannya. Itulah nilai yang diberikan kepada perempuan yang satu ini. Di usia 28 tahun, Lailly Prihatiningtyas mendapat kehormatan menjadi orang nomor satu di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Per tanggal 16 Desember 2013 lalu, dara asal Jombang, Jawa Timur ini resmi menduduki kursi direktur utama PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko. Tentu, penunjukkanya bukan karena hal lain, kecuali karena ia memang memiliki kapabilitas untuk itu.

Sebelum dan sesudah resmi memimpin, perempuan yang biasa disapa Tyas ini memang sontak menjadi gula-gula media. Sejak Menteri BUMN Dahlan Iskan mengumbar penunjukan Tyas, ramai-ramai media mengangkatnya. Memang, dalam beberapa tahun ini sosok pemimpin muda ramai diperbincangkan. Sebab semakin banyak eksekutif muda atau pemimpin papan atas lahir dari kalangan “gen Y”. Kiprah mereka tak bisa dipandang sebelah mata. Mereka mampu mengartikulasikan kreativitas dan progresifitasnya sebagai ciri kaum muda, dan banyak dari mereka sukses mengelola dan memimpin perusahaan.

Wednesday, February 26, 2014

Johanes Handoko: Utamakan Pelayanan Demi Menangkan Persaingan

Selain produk berkualitas, setiap perusahaan pasti ingin memberikan pelayanan yang terbaik untuk para customernya. Seperti halnya Johanes Handoko, pemilik PT. Automobil Jaya Abadi yang juga mengelola Mazda Semarang, Yogyakarta dan Solo ini sangat mengutamakan produk dan pelayanan yang prima. Johanes yang sudah menekuni bisnis otomotif sejak tahun 1990-an ini mengatakan bahwa hampir semua bisnis bermuara pada kualitas pelayanan. Seperti halnya Mazda Solo, showroom mobil terbaru miliknya yang kini direlokasi di Jalan Ahamd Yani 292-294 Solo ini sangat mengutamakan 3S yakni Sales, Service dan Spare parts.

“Bagi saya, dalam bisnis tantangannya adalah service. Kita harus bisa memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen. Contohnya, selain memberikan fasilitas yang lengkap, mekanik-mekanik kami bekali training sehingga mereka mampu memberikan pelayanan yang cepat dan memuaskan, apalagi produk kami merupakan mobil yang canggih dan modern. Dengan itu semua, saya yakin bisa memenangkan persaingan di bisnis otomotif yang ketat ini,” papar pria kelahiran Kudus, 21 April 1966 ini kepada Kabare.

Johanes juga mengungkapkan bahwa dirinya telah membuktikan bahwa pelayanan yang prima mampu meningkatkan daya saing dan mendongkrak penjualan. Pasar otomotif Solo yang kini sedang fokus digarapnya diyakini menjadi salah satu lahan bisnis yang sangat potensial karena semakin hari pertumbuhannya semakin nyata. Satu hal yang menjadi harapan pria yang hobi touring ini adalah adanya perbaikan di bidang infrastruktur. Karena dirinya yakin bahwa dengan penambahan infrastruktur maka perekonomian masyarakat juga kian meningkat.

Teks: Della Yuanita; Foto: Budi Prast

Friday, February 21, 2014

Rika Budi Antawati, SH., MKn.: Kenalkan Budaya Pada Anak

Di sela kesibukannnya sebagai notaris rupanya sosok Rika Budi Antawati, SH., MKn., rupanya masih bisa membagi waktunya untuk mengurus usaha keluarga yakni mengelola katering dan hotel. Rika yang merupakan pemilik dari Wisma Sargede Hotel Yogyakarta dan penerus usaha Berkah Catering milik ibu mertuanya ini, mengatakan bahwa kegiatannya lebih banyak di bidang kenotariatan. Meski semua usahanya harus tetap menjadi fokus utamanya, Rika berusaha menjadi sosok multi talent untuk dapat menghandle semuanya.

“Saya berusaha semua pekerjaan saya mendapat porsi perhatian yang sama. Namun memang waktu saya lebih banyak tercurah di bidang kenotariatan. Banyak sekali hal yang menarik di dunia kenotariatan. Banyak hal menantang juga di sini, yang jelas dibutuhkan kerja keras dan kejujuran dalam setiap pekerjaan. Selain itu, saya juga mengajar sebagai dosen luar biasa di Akademi Kesejahteraan Sosial Ibu Kartini dan Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro, Semarang serta coach untuk legal aspek di beberapa lembaga keuangan,” papar wanita kelahiran 11 Februari 1970 ini kepada Kabare.

Rika yang pernah mengikuti suaminya kuliah di Inggris tersebut mengatakan bahwa meski anak-anaknya besar di salah satu negara di Eropa tersebut, namun setelah kembali ke Indonesia, keinginan untuk mengenal budaya bangsa sendiri justru datang dari anak-anaknya sendiri. Bahkan anak sulungnya yang kini sedang kuliah di UGM jurusan HI Jogja sangat bersemangat mengikuti les menari Jawa. Menurut Rika yang pernah menjadi Putri Citra di era 90an, semua dilakukan dengan tujuan menguri-uri budaya, agar tak terjadi gegar budaya di kemudian hari. “Pengalaman saya menjadi Putri Citra dan mempromosikan budaya di berbagai negara ASEAN pada akhirnya membuat saya ingin kedua anak saya yang besar di luar negeri pun mengenal dan mencintai budaya bangsa sendiri. Dan mereka pun merasa tertarik sendiri untuk mengenal budayanya lebih jauh. Itu sangat membanggakan bagi saya,” pungkas Rika.

Teks: Della Yuanita; Foto: Budi Prast

Sunday, February 16, 2014

Mintiarti: Kemudahan dalam Kesulitan

Ini sudah pasti, siapapun berhak untuk menjadi lebih tangguh dalam hidup ini. Kata orang, cobalah menari di antara hujan, jangan hanya tersenyum lebar saat mentari datang. Di kala hari-hari kita menjadi makin keras dan sulit, kita musti yakin bahwa saat-saat itu didesain Tuhan sesuai dengan kemampuan kita. Sedikitnya begitu yang dapat disimpulkan dari pengalaman yang dirasakan dan dialami Mintiarti, General Manager Gowongan Inn.

Bagi ibu asal Surabaya ini, bekerja di hotel merupakan anugerah yang indah. Sebab sebelumnya, ia harus susah payah beberapa kali gonta-ganti pekerjaan dari satu kota ke kota lain demi membiayai kuliah dan hidupnya. Bahkan, ia mengakui pernah menjadi nanny untuk sebuah keluarga. Apapun pekerjaannya, dilakoni Minti hingga akhirnya ia ditawari pekerjaan hotel di Surabaya di bagian housekeeping pada tahun 1995.

Saat di hotel pun, Mintiarti sering menjalankan tugas yang sebenarnya bukan tugasnya. Jika kebanyakan orang menolak, tapi ia tetap bersedia menjalani. “Sebab justru dari situ saya bisa banyak tahu seluk beluk perhotelan. Pernah suatu saat, saya harus acting sebagai general manajer meski saat itu saya hanya executive housekeeper. Jadi lebih banyak lagi tanggung jawab saya, biarpun sebenarnya secara pengalaman saya belum pernah dan saya belum mampu. Tapi pengalaman semacam itulah yang membuat saya banyak belajar. Lagi, saya percaya janji Tuhan bahwa di balik kesulitan ada kemudahan,” ungkapnya.

Pengalaman dari hotel ke hotel, mencapai jabatan demi jabatan, pada akhirnya pun Mintiarti sampai pada jabatan tertinggi di hotel. Kini ia memimpin Gowongan Inn di Yogyakarta. Tak ada yang lain, pengalamanlah yang menuntunnya ke sana.

Teks: FA Herru

Thursday, February 6, 2014

Agustina Retno Setyowati: Dengan Hati

Dalam sebuah artikel motivasi, ada satu paragraf yang menulis demikian, “ada orang yang bekerja dengan kepandaian dan pengetahuannya (head), ada pula yang mengandalkan koneksinya. Namun semua itu tidak menjamin bahwa mereka dapat menikmati pekerjaannya, sampai mereka bekerja dengan hatinya (heart)”.

Ya, dari sepenggal tulisan itu tampaknya akan berbuntut kata bahwa apapun pekerjaannya, jika dilakukan dengan sepenuh hati hasilnya akan maksimal. Benar dan masuk akal, sebab bila dengan segenap hati kita melakukan sesuatu maka dalam diri kita pastinya akan muncul keseriusan, fokus, dan totalitas. Dan bila sudah begitu, niscaya kesuksesan akan bisa dituai.

Bicara soal “hati” seperti itu, ternyata juga terucap oleh Agustina Retno Setyowati. Seorang ibu kelahiran Gunungkudul ini pun berkata sama hal dalam menjalani pekerjaannya. Menurut dia, bekerja dengan hati adalah kunci bagi siapa saja untuk menuju keberhasilan pekerjaan. Itu bukan suatu yang rahasia lagi dan bombastis. Bukan semata lantaran kepandaian atau jaringan yang luas, namun semua orang musti begitu jika ingin nyaman dan lagi sukses bekerja.

Saat ini, Retno menjabat General Manajer PT. Coca Cola Amatil Indonesia untuk area Jawa Tengah selatan. Wilayahnya mencakup daerah Cilacap, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, Madiun hingga ke Ponorogo. Coca Cola Amatil Indonesia sendiri adalah perusahaan minuman ringan yang memproduksi dan mendistribusikan produk-produk berlisensi dari The Coca-Cola Company.

Wednesday, February 5, 2014

Gamawan Fauzi: "If You Can't Change, You Will Die"

Sederhana, bersahabat, murah senyum, dan tegas dalam prinsip. Itulah kesan yang langsung tertangkap saat berbincang laki-laki yang pernah menjabat sebagai Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) yang dipilih oleh rakyat Ranah Minang pada Juni 2005, dan pada periode kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono, ia “dilamar” dan dipercaya untuk menjadi Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia dalam Kabinet Indonesia Bersatu.

Dalam menjalani karir di dalam pemerintahan, Gamawan Fauzi sempat menjadi sekretaris pribadi Gubernur Sumatera Barat. Hingga di usia 36 tahun, ia dipercaya menjadi kepala Biro Humas Pemprov Sumbar. Saat itu banyak yang menganggap tidak lazim, seorang staf dan pegawai negeri sipil bergolongan III C menjabat sebagai kepala biro, yang biasanya diisi oleh pejabat bergolongan IV A atau III D senior.

Namun setengah tahun sebagai kepala biro, Gamawan memantapkan diri untuk maju dalam Pilkada Kabupaten Solok dan membuatnya terpilih menjadi Bupati Solok. Atas komitmen dan konsistensinya dalam menegakkan aturan dan antikorupsi membuat ayah tiga orang anak ini bisa mulus melewati eforia reformasi di tahun 2000 hingga terpilih kembali pada periode kedua sebagai Bupati.
Alasannya, ia dinilai berhasil menata sistem birokrasi bagi terciptanya pemerintahan yang baik dan bersih di Solok. Ia berhasil menekan kerugian daerah akibat praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di lingkaran birokrasi pemerintahan semasa menjabat bupati. Resep tersebut juga dia terapkan ketika menahkodai Provinsi Sumbar.

Tuesday, February 4, 2014

AS. Kobalen: Meretas Jalan Menuju Sukses

Meraih kesuksesan bukanlah suatu perkara yang mudah. Dibutuhkan mental kuat, semangat pantang menyerah, dan ide cemerlang yang didukung kreativitas tinggi dalam membangun keberhasilan diri. Bagi orang yang bermental baja, kesulitan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan. Salah satu tokoh yang memulai kesuksesannya dari nol adalah Ketua Gema Sadhana (Gerakan Masyarakat Sanathana Dharma Nusantara), AS. Kobalen. Putra keenam dari pasangan Alm. S. Arumugam dan Almh. A. Sunthrambal ini termasuk salah seorang figur yang pernah hidup dalam keadaan yang serba kekurangan.

“Pekerjaan ayah saya hanya seorang sopir angkutan di Medan yang bergaji Rp. 25. 000,- per bulan untuk menghidupi istri dan sembilan anaknya. Dengan kondisi seperti itu, tak jarang kami harus tidur tanpa makan malam. Melihat kenyataan tersebut, pada tahun 1974 saat masih kelas 2 SD, saya pun mulai bekerja sebagai pemulung, pedagang kue, penyemir sepatu hingga mengais sampah untuk sekadar menyambung hidup. Tidur di emperan bioskop pun pernah saya jalani demi mencari nafkah,” ujarnya mengenang.

Perjalanan hidup AS. Kobalen memang keras. Selulusnya dari SMA, Kobalen merantau di Jakarta. Perjuangannya kembali dimulai manakala dirinya menghadapi keras kehidupan di ibukota. Tak hanya tidur di emperan toko, namun beberapa terminal bis ibukota pun menjadi tempat yang nyaman untuk dirinya beristirahat. Sampai pada akhirnya, Kobalen bertemu dengan S. Gurusamy yang merupakan ayah dari temannya. Atas bantuan Gurusamy, Kobalen diterima dan diangkat menjadi anak. Tak mau tinggal diam, Kobalen pun mengajar TK Private demi mengumpulkan rupiah untuk bekal kuliahnya kelak.

Sunday, February 2, 2014

RAy. Dian Asfri Nindiani S.: Padukan Tradisi dan Modern



Indahnya kain tradisional sering kali menginspirasi banyak orang untuk berkreasi, salah satunya bagi RAy. Dian Asfri Nindiani S. Wanita cantik yang masih keturunan trah Sri Sultan Hamengku Buwono VIII ini rupanya gemar memadupadankan kain tradisional yang dimilikinya dengan bahan lainnya, di antaranya jins dan sifon. Dian mengatakan bahwa kesadaran masyarakat untuk melestarikan kain tradisional Indonesia sudah semakin meningkat. Apalagi dirinya melihat bahwa kain tradisional tidak hanya cocok dipakai di acara formal, namun juga menjadi busana sehari-hari.

Dalam kesehariannya, Dian merupakan Direktur PT. Vidia Janitra Nusantara, sebuah general trading company yang bergerak di bidang parkir robotic. Kata Dian, perusahaannnya ini merupakan satu-satunya yang mendapat lisensi dari Jepang untuk melakukan pembangunan parkir robotic yang sudah berkembang di negara-negara maju. Kepada Kabare, Dian mengungkapkan parkir robotic dapat mengatasi persoalan parkir di Yogyakarta yang kerap kali menyebabkan kemacetan. Saat ini, banyak badan jalan yang digunakan sebagai tempat parkir akibat lahan yang sangat terbatas, sedangkan jumlah pemilik kendaraan terus meningkat. Oleh karenanya, saat ini Dian tengah sibuk-sibuknya memperkenalkan parkir robot tersebut.

Imaniar Noorsaid: Penyanyi Belakang Layar

Waktu pergantian tahun selalu menjadi momen suka cita banyak orang. Begitu banyak acara atau pesta yang diselenggarakan untuk itu. Seperti tempo hari, saat tutup tahun 2013, Hyatt Regency Yogyakarta Hotel pun mengadakan pesta untuk para tamunya dan masyarakat Yogyakarta bertajuk “70’s Glamour” yang menghadirkan dua penyanyi Indonesia yang memang sudah lama tak tampil di hadapan publik; Imaniar dan Nabila. Kehadiran mereka tentu sebagai pengobat rindu banyak orang akan lagu-lagu hits era 1970-an.

Imaniar sendiri tampil baik dengan beberapa lagunya yang pernah melejit di era 1980 dan1990-an. Ia masih tampak mantap dan bekualitas melantunkan lagu-lagunya, seperti Kacau, Acuh, Prahara Cinta. Di sela persiapan pentas untuk acara itu, Imaniar meluangkan waktu menyapa Kabare. Ia mengabarkan kalau dirinya memang tak pernah tampil lagi di depan layar selama ini karena disibukkan men-direct, menjadi guru pembimbing penyanyi-penyanyi muda calon entertainer. Kiprahnya di dunia musik Indonesia lebih dibuktikannya di belakang layar.

“Untuk mengabdi di musik Indonesia itu tidak harus kita yang mengeluarkan album atau kita yang harus nyanyi. Berkiprah di depan layar sudah cukup buat saya. Ibarat atap, saya ini sudah mentok. Mau apa lagi. Sekian puluh tahun di depan layar cukup banget buat saya. Sekarang, saya ingin adik-adik kita yang punya kiprah di situ. Makanya, saya tidak mau buat album lagi, anak-anak atau artis muda saja yang kita didik untuk menjadi bagus di bidang ini,” ungkap putri musisi besar Said Kelana ini.

Teks: FA Herru

Gita Irawan Wirjawan dan Yasmin Stamboel Wirjawan: Budaya Bangsa Kita Itu "Dahsyat"

“Budaya Indonesia saat ini sangat jauh bisa mempengaruhi dunia dan kita memiliki kapasitas untuk itu, budaya kita itu dahsyat. Ini bangsa yang basis kekuatan budayanya dahsyat dari Sabang sampai Merauke, multi bahasa, multi etnis, multi dialek, multi warna, multi daerah, multi agama itu semua kulminasinya pada cerminan budaya tapi itu belum terproyeksi sejauh, sebanyak, setingkat apapun yang kita aspirasikan, karena kita baru saja mulai,” kata Gita Irawan Wirjawan, Menteri Perdagangan Republik Indonesia.

“Tapi sejarah menilai, bahwa kita itu sudah bisa sebelumnya, abad ketujuh jaman Dinasti Syailendra membangun candi Buddha terbesar di dunia, abad ke empat belas kekuasaan Majapahit membentang dari barat sampai timur, mencakup areal asia tenggara, itu contoh bahwa kita sebenarnya bisa memproyeksikan soft power kita, budaya kita, saya rasa ini momen kita agar budaya Indonesia bisa mempengaruhi dunia Internasional,” terang Gita Wirjawan pada Kabare.

Di sela-sela kesibukannya sebagai Menteri Perdagangan, Gita sangat menaruh perhatian pada nilai – nilai budaya, “saya itu berpikir bahwa nilai ekspor kita, nilai dagang kita itu yang paling tinggi itu ada pada inovasi dan kreatif, inovasi dan kreatif itu sangat terkorelasi dengan kapasitas budaya kita,” kata Gita. “kapasitas kita untuk bisa berinovasi sangat terkait dengan budaya kita dan juga intelektual kita, ini yang menurut saya, sangat harus di kembangkan ke depan”.

Tuesday, January 28, 2014

Fabian Jeremiah: Ada Karakter Luar Biasa

Baru sekitar tiga bulan, pria yang satu ini menetap di Yogyakarta. Itu pun karena saat ini ia musti berkutat pada pekerjaannya yang berkaitan dengan Kota Budaya itu. Ya, sejak November tahun lalu, SilkAir resmi membuka rute penerbangan internasional Singapura-Yogyakarta PP. Selama tiga kali dalam seminggu, maskapai penerbangan anak perusahaan regional Singapore Airlines tersebut melayani rute penerbangan itu, yakni setiap Senin, Jumat dan Minggu. Oleh sebab itulah, pria asal Negeri Singa yang cukup fasih berbahasa Indonesia ini mulai menikmati Yogyakarta.

“Ya, ini memang masih awal, jadi sementara tiga kali dalam satu minggu. Kami tentu masih butuh waktu untuk merencanakan hal-hal yang lain. Mengingat okupansinya lumayan, sekitar 80 persen yang keluar-masuk Yogyakarta ini, memang ada kemungkinan nantinya akan dapat melayani penerbangan setiap hari,” terang Fabian Jeremiah, Manajer SilkAir Yogyakarta ini ketika berbincang dengan Kabare di Royal Ambarrukmo Hotel pertengahan Desember lalu.

Sebelum ditugaskan di Yogyakarta, Fabian tinggal di Solo selama 4 tahun 6 bulan. Pastinya, paling tidak sejak saat itu, ia secara langsung telah merasakan, melihat, dan mengenal budaya Jawa. Dan ketika sampai di Yogyakarta, Fabian sepertinya lebih mencermatinya.

“Saya sudah keliling di mana tempat, dan setiap daerah di Indonesia yang saya singgahi punya keistimewannya masing-masing. Tentu, istimewanya Yogyakarta juga berbeda dengan yang lain. Dan keistimewaan setiap daerah itu tidak dapat dibandingkan antara satu dengan yang lainnya. Di Jogja, yang saya buktikan dan rasakan adalah kekeluargaan, serta budi bahasa orang-orangnya lembut. Yang seperti itu bagi saya adalah sesuatu yang membuat saya senang, membahagian saya,” akunya ketika ditanya opininya tentang Yogyakarta.

Itulah yang dapat diungkapkannya meski baru sebentar tinggal di Yogyakarta. Karakter semacam itulah, menurut Fabian, yang luar biasa dari Yogyakarta.

Teks: FA Herru; Foto: Albert
Copyright © Album Nama - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.