468x60bannerad

Saturday, August 3, 2013

Ganjar Pranowo dan Siti Atikoh Supriyanti: Mengabdi Untuk Republik

Sosok Ganjar Pranowo kini menjadi perbincangan hangat. Sosok muda yang terjun di dunia politik ini beberapa waktu lalu terpilih dalam pemilihan calon gubernur Jawa Tengah. Semasa kecil, pria yang lahir di Karang Anyar, 28 Oktober 1968 ini dikenal sebagai pribadi yang cerdas, aktif berorganisasi dan memiliki rasa percaya diri. Maka tak heran jika kualitas Ganjar sebagai sosok yang cerdas mampu membawanya terpilih menjadi gubernur Jawa Tengah dengan masa periode 2013-2018. Kepada Kabare, Ganjar mengatakan bahwa tak pernah ada motivasi apapun untuk mencalonkan diri menjadi gubernur, namun dirinya hanya mengikuti penugasan dari partai.

Karier politik Ganjar memang semakin moncer manakala dirinya resmi bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) bersama Megwati Soekarno putri. Kegigihan dan keberaniannya untuk bersuara menjadikan reputasinya meningkat di kancah politik tanah air. Ganjar yang dulu bersekolah di SD dan SMP Kutoarjo Jawa Tengah serta menghabiskan masa SMA di BOPKRI 1 Yogyakarta ini dinilai sebagai politikus yang berprinsip. Penggemar musik rock semacam Dream Theather, Metallica dan Led Zeppelin ini pun dipercaya menduduki jabatan Wakil Ketua Komisi II untuk urusan dalam negeri hingga 2014 nanti, serta menjadi panitia angket pengusutan kasus Bank Century.

September 2012, kepercayaan diri ayah dari Muhammad Zinedine Alam Ganjar yang juga aktif menekuni pekerjaan lainnya baik di kantor hukum dan bisnis seperti di PT. Prastawana Karya Samitra dan PT. Inti Semeru Realindo Inti ini semakin tinggi. Politisi yang ikut merampungkan Undang-Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta ini memutuskan maju dalam Pemilihan Gubernur Jawa Tengah dengan dukungan jajaran DPD PDIP Jawa Tengah.

”Saya tidak memiliki motivasi apapun untuk maju dalam pemilihan ini, tapi saya diperintah oleh partai dimana saya bernaung yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), untuk maju dalam pemilihan gubernur Jateng, maka saya pun maju. Jadi anggota partai itu tidak bisa memikirkan dirinya sendiri, tapi dia harus memiliki misi, visi dan ideologi yang sama dengan partai yang menaunginya. Istilahnya, jika dia ditugaskan oleh partai, maka harus berangkat. Tapi jika tidak ditugaskan maka dia tidak boleh menangis, ” ujarnya kepada Kabare.

Menurut Ganjar, ketika dirinya terpilih, maka kemudian partai membuat survei-survei apa saja persoalan yang ada di Jawa Tengah. Misalkan, berapa jumlah angka kemiskinan, pengangguran, infrastruktur apa saja yang harus dibenahi, pendidikan, kesehatan, dan lainnya. Persoalan-persoalan itulah yang harus direspon oleh gubernur terpilih nantinya. Ganjar mengatakan bahwa dirinya dan pasangan wakil gubernur terpilih Heru Sudjatmoko sudah menyiapkan program-program kerja yang akan langsung dilakukan begitu dirinya dilantik. Bahkan Ganjar mengatakan bahwa dirinya sudah berdiskusi dengan DPRD Jawa Tengah untuk mengalokasikan anggaran perubahan untuk perbaikan infrastruktur seperti jalan dan saluran irigasi. Menurutnya, inilah hal yang selama ini diinginkan oleh masyarakat. Maka apabila bisa diprioritaskan pada anggaran perubahan, akan sangat terasa kemjuan atas apa yang menjadi kebutuhan rakyat hari ini.

Mengalami perubahan tugas yang semula menjadi Ketua Komisi IV DPR RI dan kini terpilih menjadi gubernur rupanya tak membuat alumni Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini menjadi kaget. Ganjar mengatakan bahwa sebagai orang Jawa, dirinya banyak menerapkan filosofi Jawa untuk membentengi dirinya dari berbagai godaan.

“Dalam kehidupan saya sejak dulu, saya berusaha selalu menerapkan sikap ora gumunan, ojo kagetan, ojo dumeh, itu filosofi Jawa yang saya pegang. Sikap berikutnya adalah prihatin. Prihatin menjadi keluarga kami sejak dulu. Jujur saja, keluarga saya dulu hidup prihatin dan kurang berkecukupan. Ayah saya yang seorang ABRI dengan gaji yang tidak seberapa harus menghidupi keenam anaknya. Bahkan, orang tua saya pernah berjualan bensin, nanti saya yang bertugas kulakan. Selain filosofi Jawa tersebut, saya juga sering berpuasa Senin Kamis, meski tak se-rutin dulu,” ujar ayah tiga anak ini.

Ganjar pun mengatakan bahwa ketika mendengar dirinya menang dalam pemilihan gubernur, sang ayah mengatakan kepadanya bahwa itulah sebuah pengabdian, sebuah penugasan negara maka hidupmu untuk republikmu. Sang ibu pun berpesan agar selama menjabat dirinya jangan sampai korupsi. Itulah yang terngiang-ngiang di telinga Ganjar. Baginya, inilah amanah yang tidak perlu dikejar-kejar atau direbut-rebut. Intinya, ketika partai menugaskan, maka dirinya harus seoptimal mungkin dengan segala daya upaya menunaikan kewajiban yang bisa dilakukan.

Sang istri, Siti Atikoh Supriyanti pun mengaku sangat mendukung karier sang suami. Ganjar bahkan menuturkan bahwa sang istri lah yang kerap kali menjadi pengingat dirinya untuk selalu melakukan hal-hal yang positif. Ganjar tak mau jika dirinya mengalami kekagetan ketika mendapat amanah memimpin Jawa Tengah. Baginya, kekuatan iman serta dukungan dan nasehat dari keluarga menjadi penyemangat dan pengingatnya untuk menjauhi besarnya godaan yang akan menghadang.

Teks: Della Yuanita; Foto : Albert
Copyright © Album Nama - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.