468x60bannerad

Sunday, February 2, 2014

Gita Irawan Wirjawan dan Yasmin Stamboel Wirjawan: Budaya Bangsa Kita Itu "Dahsyat"

“Budaya Indonesia saat ini sangat jauh bisa mempengaruhi dunia dan kita memiliki kapasitas untuk itu, budaya kita itu dahsyat. Ini bangsa yang basis kekuatan budayanya dahsyat dari Sabang sampai Merauke, multi bahasa, multi etnis, multi dialek, multi warna, multi daerah, multi agama itu semua kulminasinya pada cerminan budaya tapi itu belum terproyeksi sejauh, sebanyak, setingkat apapun yang kita aspirasikan, karena kita baru saja mulai,” kata Gita Irawan Wirjawan, Menteri Perdagangan Republik Indonesia.

“Tapi sejarah menilai, bahwa kita itu sudah bisa sebelumnya, abad ketujuh jaman Dinasti Syailendra membangun candi Buddha terbesar di dunia, abad ke empat belas kekuasaan Majapahit membentang dari barat sampai timur, mencakup areal asia tenggara, itu contoh bahwa kita sebenarnya bisa memproyeksikan soft power kita, budaya kita, saya rasa ini momen kita agar budaya Indonesia bisa mempengaruhi dunia Internasional,” terang Gita Wirjawan pada Kabare.

Di sela-sela kesibukannya sebagai Menteri Perdagangan, Gita sangat menaruh perhatian pada nilai – nilai budaya, “saya itu berpikir bahwa nilai ekspor kita, nilai dagang kita itu yang paling tinggi itu ada pada inovasi dan kreatif, inovasi dan kreatif itu sangat terkorelasi dengan kapasitas budaya kita,” kata Gita. “kapasitas kita untuk bisa berinovasi sangat terkait dengan budaya kita dan juga intelektual kita, ini yang menurut saya, sangat harus di kembangkan ke depan”.

“Kalo bikin handphone itu, jerih payah keringatnya mungkin hanya seperseratus atau seper beberapa puluh dari nilai totalnya, sisanya itu mencerminkan nilai inovatif dan nilai kreatif. Indonesia ini belum mencapai titik potensi ini, jadi menurut saya ini bisa teraktualisasi,” kata Gita I Wirjawan.

Untuk bisa mengeksplor budaya kita hingga dapat meningkatkan martabat Indonesia di dunia internasional yang pertama tentunya dari sektor ekonomi, ekonomi kita ini dari sisi perdagangan bagaimana kita bisa melakukan eksportasi produk – produk industri, seperti negara –negara tetangga kita Taiwan atau Korea dengan produk elektronik yang membanggakan. Baru setelah kita punya kekuatan ekonomi kita pun bisa lebih berjaya untuk melakukan eksportasi budaya, di mana supaya wayang bisa di selenggarakan di New York selama 3 bulan, di mana srimulat bisa tampil di London selama 3 bulan, di mana keroncong bisa main di Moscow selama beberapa bulan. Itu semua memerlukan kekuatan ekonomi di belakangnya. Kekuatan ekonomi itu kalo kita bisa meningkatkan pendapatan pajak, meningkatkan kapasitas produksi produk-produk yang industrial, yang bernilai tambah, yang membanggakan.

Gita Irawan Wirjawan, terlahir berdarahkan Jawa - Menado dari pasangan Alm. Wirjawan Djojosoegito dan Paula Waroka pada tanggal 21 September 1965 di Jakarta. Masa kecil di habiskan di Jakarta, SD di Budi Waluyo dan SMP di Pangudi Luhur hingga kelas 2, yang kemudian mengikuti orang tua bertugas ke Bangladesh sebagai dokter WHO. Saat melanjutkan SMA, Gita di kirim orang tuanya ke New Delhi India, untuk melanjutkan pendidikan SMA.

Setamat SMA, Gita melanjutkan pendidikannya ke Amerika, untuk sekolah musik mengambil jurusan komposisi jazz dan matematika di University Texas, Austin, Amerika tapi karena orangtua tidak berkenan Gita mengambil jurusan tersebut, Gita beralih untuk belajar ilmu ekonomi di bidang akutansi di Kennedy School of Government, Harvard University dan di lanjutkan mengambil gelar S2 pertamanya meraih Master of Bussines Administration (MBA) di Baylor university tahun 1989. Lulus S2 yang kedua dengan meraih gelar Master of Public Administration (MPA) dari Kennedy School of Government, Harvard University, Amerika di tahun 2000.

Masa –masa hidup tersulit bagi Gita adalah saat harus bertahan hidup di Amerika, hal itu terjadi karena ayahnya saat itu sudah pensiun, berbagai macam pekerjaan dilakukannya mulai dari pembersih toilet, pencuci piring, supir hingga berjualan kulit ular, dia lakoni. Di sela – sela libur kuliah Gita memberikan les piano. Sebagai guru piano inilah Gita bertemu dengan Yasmin Stamboel, cucu dari pahlawan nasional Otto Iskandar Dinata yang kemudian jadi istrinya.

Teks: BK
Copyright © Album Nama - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.