468x60bannerad

Sunday, June 30, 2013

Anie Hashim Djojohadikusumo: Dedikasikan Hidup Untuk Berderma



Benar kiranya sebuah ungkapan bahwa kebahagiaan hidup tak dapat diukur dengan banyaknya harta, namun ada hal lain yang bisa membuat hidup lebih mulia. Berderma, hal itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi sosok wanita bernama Anie Hashim Djojohadikusumo. Kebahagiannya adalah senyum, tawa dan bahagia dari kaum akar rumput yang selama ini menjadi perhatian istri pengusaha Hashim Djojohadikusumo ini. Bagi wanita yang semasa kecilnya tinggal di Walikukun, sebuah kota kecil di Kabupaten Ngawi ini, dirinya sudah terbiasa membantu sesama sejak kecil. Sang nenek, merupakan salah satu sosok yang dikenal ringan tangan dalam membantu para tetangganya. Menginjak usia sekolah, Anie pun ikut bersama kedua orangtuanya dan tinggal di Desa Gemarang kemudian pindah ke Desa Dagangan, arah Tuban, Jawa Timur.

”Karena ayah adalah Mantri Kesehatan, maka beliau ditugaskan di desa tersebut. Desa Gemarang dan Dagangan dulu sangat terisolir dan medan menuju kes sana sangat sulit. Di sana sering sekali mengalami msuim paceklik. Nah, di sata-saat musim paceklik itulah, saya melihat kedua orangtua saya seringkali mengorbankan jatah makan kami untuk dibagikan ke tetangga yang tidak bisa makan saat itu. Akhirnya kami pun menjadi terbiasa untuk mengganti jatah makan siang kami dengan gatot dan tiwul,” kenang Anie kepada Kabare.

Kenangan Anie akan usaha berderma keluarganya rupanya sangat membekas di hati. Oleh karenanya, ketika sang suami membeli Pabrik Semen Cibinong, Anie lantas mengarahkan Persatuan Istri Pegawai yang ada di perusahaan tersebut untuk mulai melakukan kegiatan sosial, dengan mengunjungi sekolah-sekolah yang sudah rusak parah di sekitar daerah Pabrik Semen Cibinong berada. Sebelumnya, pada saat upacara nyadran ke makam leluhur Hashim di Gombong, Anie dan suami sudah sering memberikan bantuan pada sekolah-sekolah yang kondisinya sudah sangat menyedihkan. Anie menjelaskan bahwa dirinya memang memiliki perhatian lebih pada pendidikan. Karena baginya, pendidikan adalah akar utama suatu bangsa.

Kepada Kabare, Anie yang merupakan mantan pramugari di Garuda Airlines pada tahun 1976-1979 ini juga mengisahkan bahwa pengalaman dirinya yang tidak pernah mengenyam bangku kuliah membuatnya semakin bersemangat untuk turut membantu pendidikan masyarakat yang kurang mampu. Menurut Anie, pendidikan sangat penting karena itulah yang akan menentukan wajah Indonesia ke depannya. Anak-anak hasil pendidikan itulah yang nantinya akan memimpin dan mengisi pembangunan di Indonesia. Generasi muda dengan kecerdasan yang baik mungkin akan membawa Indonesia ke taraf hidup yang lebih baik.

”Kegiatan sosial rutin saya lakukan sampai pada akhirnya saya hartus pindah ke Eropa karena krisis moneter yang melanda Indonesia. Saat itu saya pun menugaskan salah satu karyawati Pak Hashim yakni Ibu Yuli, yang perusahaannya mau dilikuidasi untuk bisa melanjutkan kegiatan sosial saya. Pada akhirnya, kegiatan ini malah berkembang menjadi besar dan semakin banyak kebutuhannya. dan Bu Yuli mengatakan kepada saya bahwa sudah waktunya dibuat yayasan. Yayasan yang pertama kali kami bikin yakni Yayasan Keluarga Hashim Djojohadikusumo pada tahun 2006. Kemudian pada tahun 2009 saya mendirikan Wadah Titian Harapan (Wadah Foundation), karena kegiatan YKHD itu konsentrasinya berbeda dengan dengan keinginan saya yang ingin menangani komunitas akar rumput,” ujar Anie.

Anie mengatakan, bahwa Wadah merupakan akronim untuk Wanita dan Harapan. Secara harfiah kata Wadah bermakna tempat. Wadah Titian Harapan menyiratkan makna yang lebih luas, tidak sekadar wadah atau tempat, tetapi rumah keluarga tinggal. Wadah Titian Harapan adalah sebuah yayasan di Jakarta yang didirikan oleh perempuan untuk perempuan dan keluarganya. Yayasan ini didirikan untuk membawa harapan dengan membantu kaum perempuan menolong diri mereka sendiri dalam upaya membentuk masa depan yang lebih baik bagi keluarga mereka. Wadah didirikan dengan tujuan khusus untuk memenuhi kebutuhan kaum perempuan dalam keikutsertaan mereka di berbagai kegiatan sosial pendidikan, kemasyarakatan dan budaya.

“Menurut saya, kegiatan sosial yang sangat signifikan adalah bagaimana selama bertahun-tahun saya bergaul dengan mereka yang tinggal di daerah kumuh dan bekerjasama dengan masyarakat yang terpinggirkan ternyata mengasyikkan sekali. Karena bukan hanya mereka yang mendapatkan bantuan, tapi saya juga mendapatkan banyak sekali ilmu ketika bergaul dengan mereka. Kebersamaan kami Ternyata membuahkan pikiran pada anak-anak yang tadinya saya pikir mereka tidak punya masa depan. Rupanya dengan bersinergi bersama, mereka akhirnya bisa berpikir akan dibawa kemana masa depan mereka. Satu contoh, salah satu anak asuh yang kami didik sejak kecil, bernama Ali, kini dia telah menyelesaikan S1 Ilmu Komunikasi dan bekerja menjadi Internal Audit di sebuah bank swasta nasional. Kami ingin ada Ali-Ali lain yang bisa memiliki masa depan cerah. Dalam Wadah, yang ada hanya upaya signifikan bagaimana mengentaskan manusia mendapatkan harkat dan martabatnya kembali. Itu buat saya dan suami bisa meneteskan air mata jika membayangkan semuanya,” papar Anie.

Ya, Wadah memang bergerak di tingkat masyarakat akar rumput yang mendukung kaum perempuan Indonesia dengan menawarkan kesempatan untuk mengatur kehidupan mereka lebih dari sekadar memperthanakan kelangsungan hidup keluarga, tetapi sebagai upaya membebaskan diri mereka dari lingkaran buta huruf dan kemiskinan. Sebagai founder, totalitas ibu dari Aryo Setyaki Djojohadikusumo, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo dan Indra Djojohadikusumo ini dalam kegiatan sosial yang dilakukan oleh Wadah tak perlu diragukan. Anie terjun langsung ke masyarakat dan menyaksikan langsung perkembangan mereka sehingga kegiatan sosialnya pun tak meleset dari target.

Semakin besar Wadah, membuat banyak kolega Anie pun ikut serta berpartisipasi dalam yayasan ini. Wadah pun memiliki jaringan internasional. Anie mengatakan bahwa banyak sahabat dan koleganya yang menjadi pendukung Wadah Global Gathering yang sengaja ia dirikan sebagai tempat mendukung Wadah Foundation. Nama-nama seperti Herawati Dyah, Margaret Njoo, Linda Linsmayer, Myi Low, Tori Bellino, Fr. Rocky Evangelista, Anuradha Koirala dan masih banyak lagi yang lainnya menjadi sukarelawan Wadah yang berasal dari berbagai negara. “Banyak sekali yang mendukung Wadah baik dari segi finansial maupun moral. Yang membuat mereka percaya karena pertemanan yang sudah berjalan selama belasan tahun, dan ketika mereka mereka datang ke Indonesia, mereka bisa mengetahui hasil nyata dari yayasan ini,” jelas Anie.

Anie berharap, kelak, suatu hari nanti, Indonesia harus betul-betul menciptakan kemerdekaan yang merdeka-semerdeka-merdekanya, agar masyarakat bisa bangga menjadi warga negara Indonesia. Anie pun mengatakan bahwa orang-orang terdekatnya, seperti sang suami, Hashim Djojohadikusumo dan ketiga buah hati mereka sangat mendukung kegiatan sosialnya. ”Wadah ingin saya dedikasikan kepada suami dan ketiga anak saya yang telah mendukung dan memberi kebebasan kepada saya untuk berkarya dan melayani Tuhan. Cinta dan kasih sayang yang telah diberikan kepada saya menjadi faktor utama dalam usaha menjadikan mimpi saya menjadi mimpi kita bersama,” pungkasnya.
Copyright © Album Nama - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.