468x60bannerad

Wednesday, February 26, 2014

Johanes Handoko: Utamakan Pelayanan Demi Menangkan Persaingan

Selain produk berkualitas, setiap perusahaan pasti ingin memberikan pelayanan yang terbaik untuk para customernya. Seperti halnya Johanes Handoko, pemilik PT. Automobil Jaya Abadi yang juga mengelola Mazda Semarang, Yogyakarta dan Solo ini sangat mengutamakan produk dan pelayanan yang prima. Johanes yang sudah menekuni bisnis otomotif sejak tahun 1990-an ini mengatakan bahwa hampir semua bisnis bermuara pada kualitas pelayanan. Seperti halnya Mazda Solo, showroom mobil terbaru miliknya yang kini direlokasi di Jalan Ahamd Yani 292-294 Solo ini sangat mengutamakan 3S yakni Sales, Service dan Spare parts.

“Bagi saya, dalam bisnis tantangannya adalah service. Kita harus bisa memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen. Contohnya, selain memberikan fasilitas yang lengkap, mekanik-mekanik kami bekali training sehingga mereka mampu memberikan pelayanan yang cepat dan memuaskan, apalagi produk kami merupakan mobil yang canggih dan modern. Dengan itu semua, saya yakin bisa memenangkan persaingan di bisnis otomotif yang ketat ini,” papar pria kelahiran Kudus, 21 April 1966 ini kepada Kabare.

Johanes juga mengungkapkan bahwa dirinya telah membuktikan bahwa pelayanan yang prima mampu meningkatkan daya saing dan mendongkrak penjualan. Pasar otomotif Solo yang kini sedang fokus digarapnya diyakini menjadi salah satu lahan bisnis yang sangat potensial karena semakin hari pertumbuhannya semakin nyata. Satu hal yang menjadi harapan pria yang hobi touring ini adalah adanya perbaikan di bidang infrastruktur. Karena dirinya yakin bahwa dengan penambahan infrastruktur maka perekonomian masyarakat juga kian meningkat.

Teks: Della Yuanita; Foto: Budi Prast

Friday, February 21, 2014

Rika Budi Antawati, SH., MKn.: Kenalkan Budaya Pada Anak

Di sela kesibukannnya sebagai notaris rupanya sosok Rika Budi Antawati, SH., MKn., rupanya masih bisa membagi waktunya untuk mengurus usaha keluarga yakni mengelola katering dan hotel. Rika yang merupakan pemilik dari Wisma Sargede Hotel Yogyakarta dan penerus usaha Berkah Catering milik ibu mertuanya ini, mengatakan bahwa kegiatannya lebih banyak di bidang kenotariatan. Meski semua usahanya harus tetap menjadi fokus utamanya, Rika berusaha menjadi sosok multi talent untuk dapat menghandle semuanya.

“Saya berusaha semua pekerjaan saya mendapat porsi perhatian yang sama. Namun memang waktu saya lebih banyak tercurah di bidang kenotariatan. Banyak sekali hal yang menarik di dunia kenotariatan. Banyak hal menantang juga di sini, yang jelas dibutuhkan kerja keras dan kejujuran dalam setiap pekerjaan. Selain itu, saya juga mengajar sebagai dosen luar biasa di Akademi Kesejahteraan Sosial Ibu Kartini dan Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro, Semarang serta coach untuk legal aspek di beberapa lembaga keuangan,” papar wanita kelahiran 11 Februari 1970 ini kepada Kabare.

Rika yang pernah mengikuti suaminya kuliah di Inggris tersebut mengatakan bahwa meski anak-anaknya besar di salah satu negara di Eropa tersebut, namun setelah kembali ke Indonesia, keinginan untuk mengenal budaya bangsa sendiri justru datang dari anak-anaknya sendiri. Bahkan anak sulungnya yang kini sedang kuliah di UGM jurusan HI Jogja sangat bersemangat mengikuti les menari Jawa. Menurut Rika yang pernah menjadi Putri Citra di era 90an, semua dilakukan dengan tujuan menguri-uri budaya, agar tak terjadi gegar budaya di kemudian hari. “Pengalaman saya menjadi Putri Citra dan mempromosikan budaya di berbagai negara ASEAN pada akhirnya membuat saya ingin kedua anak saya yang besar di luar negeri pun mengenal dan mencintai budaya bangsa sendiri. Dan mereka pun merasa tertarik sendiri untuk mengenal budayanya lebih jauh. Itu sangat membanggakan bagi saya,” pungkas Rika.

Teks: Della Yuanita; Foto: Budi Prast

Sunday, February 16, 2014

Mintiarti: Kemudahan dalam Kesulitan

Ini sudah pasti, siapapun berhak untuk menjadi lebih tangguh dalam hidup ini. Kata orang, cobalah menari di antara hujan, jangan hanya tersenyum lebar saat mentari datang. Di kala hari-hari kita menjadi makin keras dan sulit, kita musti yakin bahwa saat-saat itu didesain Tuhan sesuai dengan kemampuan kita. Sedikitnya begitu yang dapat disimpulkan dari pengalaman yang dirasakan dan dialami Mintiarti, General Manager Gowongan Inn.

Bagi ibu asal Surabaya ini, bekerja di hotel merupakan anugerah yang indah. Sebab sebelumnya, ia harus susah payah beberapa kali gonta-ganti pekerjaan dari satu kota ke kota lain demi membiayai kuliah dan hidupnya. Bahkan, ia mengakui pernah menjadi nanny untuk sebuah keluarga. Apapun pekerjaannya, dilakoni Minti hingga akhirnya ia ditawari pekerjaan hotel di Surabaya di bagian housekeeping pada tahun 1995.

Saat di hotel pun, Mintiarti sering menjalankan tugas yang sebenarnya bukan tugasnya. Jika kebanyakan orang menolak, tapi ia tetap bersedia menjalani. “Sebab justru dari situ saya bisa banyak tahu seluk beluk perhotelan. Pernah suatu saat, saya harus acting sebagai general manajer meski saat itu saya hanya executive housekeeper. Jadi lebih banyak lagi tanggung jawab saya, biarpun sebenarnya secara pengalaman saya belum pernah dan saya belum mampu. Tapi pengalaman semacam itulah yang membuat saya banyak belajar. Lagi, saya percaya janji Tuhan bahwa di balik kesulitan ada kemudahan,” ungkapnya.

Pengalaman dari hotel ke hotel, mencapai jabatan demi jabatan, pada akhirnya pun Mintiarti sampai pada jabatan tertinggi di hotel. Kini ia memimpin Gowongan Inn di Yogyakarta. Tak ada yang lain, pengalamanlah yang menuntunnya ke sana.

Teks: FA Herru

Thursday, February 6, 2014

Agustina Retno Setyowati: Dengan Hati

Dalam sebuah artikel motivasi, ada satu paragraf yang menulis demikian, “ada orang yang bekerja dengan kepandaian dan pengetahuannya (head), ada pula yang mengandalkan koneksinya. Namun semua itu tidak menjamin bahwa mereka dapat menikmati pekerjaannya, sampai mereka bekerja dengan hatinya (heart)”.

Ya, dari sepenggal tulisan itu tampaknya akan berbuntut kata bahwa apapun pekerjaannya, jika dilakukan dengan sepenuh hati hasilnya akan maksimal. Benar dan masuk akal, sebab bila dengan segenap hati kita melakukan sesuatu maka dalam diri kita pastinya akan muncul keseriusan, fokus, dan totalitas. Dan bila sudah begitu, niscaya kesuksesan akan bisa dituai.

Bicara soal “hati” seperti itu, ternyata juga terucap oleh Agustina Retno Setyowati. Seorang ibu kelahiran Gunungkudul ini pun berkata sama hal dalam menjalani pekerjaannya. Menurut dia, bekerja dengan hati adalah kunci bagi siapa saja untuk menuju keberhasilan pekerjaan. Itu bukan suatu yang rahasia lagi dan bombastis. Bukan semata lantaran kepandaian atau jaringan yang luas, namun semua orang musti begitu jika ingin nyaman dan lagi sukses bekerja.

Saat ini, Retno menjabat General Manajer PT. Coca Cola Amatil Indonesia untuk area Jawa Tengah selatan. Wilayahnya mencakup daerah Cilacap, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, Madiun hingga ke Ponorogo. Coca Cola Amatil Indonesia sendiri adalah perusahaan minuman ringan yang memproduksi dan mendistribusikan produk-produk berlisensi dari The Coca-Cola Company.

Wednesday, February 5, 2014

Gamawan Fauzi: "If You Can't Change, You Will Die"

Sederhana, bersahabat, murah senyum, dan tegas dalam prinsip. Itulah kesan yang langsung tertangkap saat berbincang laki-laki yang pernah menjabat sebagai Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) yang dipilih oleh rakyat Ranah Minang pada Juni 2005, dan pada periode kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono, ia “dilamar” dan dipercaya untuk menjadi Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia dalam Kabinet Indonesia Bersatu.

Dalam menjalani karir di dalam pemerintahan, Gamawan Fauzi sempat menjadi sekretaris pribadi Gubernur Sumatera Barat. Hingga di usia 36 tahun, ia dipercaya menjadi kepala Biro Humas Pemprov Sumbar. Saat itu banyak yang menganggap tidak lazim, seorang staf dan pegawai negeri sipil bergolongan III C menjabat sebagai kepala biro, yang biasanya diisi oleh pejabat bergolongan IV A atau III D senior.

Namun setengah tahun sebagai kepala biro, Gamawan memantapkan diri untuk maju dalam Pilkada Kabupaten Solok dan membuatnya terpilih menjadi Bupati Solok. Atas komitmen dan konsistensinya dalam menegakkan aturan dan antikorupsi membuat ayah tiga orang anak ini bisa mulus melewati eforia reformasi di tahun 2000 hingga terpilih kembali pada periode kedua sebagai Bupati.
Alasannya, ia dinilai berhasil menata sistem birokrasi bagi terciptanya pemerintahan yang baik dan bersih di Solok. Ia berhasil menekan kerugian daerah akibat praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di lingkaran birokrasi pemerintahan semasa menjabat bupati. Resep tersebut juga dia terapkan ketika menahkodai Provinsi Sumbar.

Tuesday, February 4, 2014

AS. Kobalen: Meretas Jalan Menuju Sukses

Meraih kesuksesan bukanlah suatu perkara yang mudah. Dibutuhkan mental kuat, semangat pantang menyerah, dan ide cemerlang yang didukung kreativitas tinggi dalam membangun keberhasilan diri. Bagi orang yang bermental baja, kesulitan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan. Salah satu tokoh yang memulai kesuksesannya dari nol adalah Ketua Gema Sadhana (Gerakan Masyarakat Sanathana Dharma Nusantara), AS. Kobalen. Putra keenam dari pasangan Alm. S. Arumugam dan Almh. A. Sunthrambal ini termasuk salah seorang figur yang pernah hidup dalam keadaan yang serba kekurangan.

“Pekerjaan ayah saya hanya seorang sopir angkutan di Medan yang bergaji Rp. 25. 000,- per bulan untuk menghidupi istri dan sembilan anaknya. Dengan kondisi seperti itu, tak jarang kami harus tidur tanpa makan malam. Melihat kenyataan tersebut, pada tahun 1974 saat masih kelas 2 SD, saya pun mulai bekerja sebagai pemulung, pedagang kue, penyemir sepatu hingga mengais sampah untuk sekadar menyambung hidup. Tidur di emperan bioskop pun pernah saya jalani demi mencari nafkah,” ujarnya mengenang.

Perjalanan hidup AS. Kobalen memang keras. Selulusnya dari SMA, Kobalen merantau di Jakarta. Perjuangannya kembali dimulai manakala dirinya menghadapi keras kehidupan di ibukota. Tak hanya tidur di emperan toko, namun beberapa terminal bis ibukota pun menjadi tempat yang nyaman untuk dirinya beristirahat. Sampai pada akhirnya, Kobalen bertemu dengan S. Gurusamy yang merupakan ayah dari temannya. Atas bantuan Gurusamy, Kobalen diterima dan diangkat menjadi anak. Tak mau tinggal diam, Kobalen pun mengajar TK Private demi mengumpulkan rupiah untuk bekal kuliahnya kelak.

Sunday, February 2, 2014

RAy. Dian Asfri Nindiani S.: Padukan Tradisi dan Modern



Indahnya kain tradisional sering kali menginspirasi banyak orang untuk berkreasi, salah satunya bagi RAy. Dian Asfri Nindiani S. Wanita cantik yang masih keturunan trah Sri Sultan Hamengku Buwono VIII ini rupanya gemar memadupadankan kain tradisional yang dimilikinya dengan bahan lainnya, di antaranya jins dan sifon. Dian mengatakan bahwa kesadaran masyarakat untuk melestarikan kain tradisional Indonesia sudah semakin meningkat. Apalagi dirinya melihat bahwa kain tradisional tidak hanya cocok dipakai di acara formal, namun juga menjadi busana sehari-hari.

Dalam kesehariannya, Dian merupakan Direktur PT. Vidia Janitra Nusantara, sebuah general trading company yang bergerak di bidang parkir robotic. Kata Dian, perusahaannnya ini merupakan satu-satunya yang mendapat lisensi dari Jepang untuk melakukan pembangunan parkir robotic yang sudah berkembang di negara-negara maju. Kepada Kabare, Dian mengungkapkan parkir robotic dapat mengatasi persoalan parkir di Yogyakarta yang kerap kali menyebabkan kemacetan. Saat ini, banyak badan jalan yang digunakan sebagai tempat parkir akibat lahan yang sangat terbatas, sedangkan jumlah pemilik kendaraan terus meningkat. Oleh karenanya, saat ini Dian tengah sibuk-sibuknya memperkenalkan parkir robot tersebut.

Imaniar Noorsaid: Penyanyi Belakang Layar

Waktu pergantian tahun selalu menjadi momen suka cita banyak orang. Begitu banyak acara atau pesta yang diselenggarakan untuk itu. Seperti tempo hari, saat tutup tahun 2013, Hyatt Regency Yogyakarta Hotel pun mengadakan pesta untuk para tamunya dan masyarakat Yogyakarta bertajuk “70’s Glamour” yang menghadirkan dua penyanyi Indonesia yang memang sudah lama tak tampil di hadapan publik; Imaniar dan Nabila. Kehadiran mereka tentu sebagai pengobat rindu banyak orang akan lagu-lagu hits era 1970-an.

Imaniar sendiri tampil baik dengan beberapa lagunya yang pernah melejit di era 1980 dan1990-an. Ia masih tampak mantap dan bekualitas melantunkan lagu-lagunya, seperti Kacau, Acuh, Prahara Cinta. Di sela persiapan pentas untuk acara itu, Imaniar meluangkan waktu menyapa Kabare. Ia mengabarkan kalau dirinya memang tak pernah tampil lagi di depan layar selama ini karena disibukkan men-direct, menjadi guru pembimbing penyanyi-penyanyi muda calon entertainer. Kiprahnya di dunia musik Indonesia lebih dibuktikannya di belakang layar.

“Untuk mengabdi di musik Indonesia itu tidak harus kita yang mengeluarkan album atau kita yang harus nyanyi. Berkiprah di depan layar sudah cukup buat saya. Ibarat atap, saya ini sudah mentok. Mau apa lagi. Sekian puluh tahun di depan layar cukup banget buat saya. Sekarang, saya ingin adik-adik kita yang punya kiprah di situ. Makanya, saya tidak mau buat album lagi, anak-anak atau artis muda saja yang kita didik untuk menjadi bagus di bidang ini,” ungkap putri musisi besar Said Kelana ini.

Teks: FA Herru

Gita Irawan Wirjawan dan Yasmin Stamboel Wirjawan: Budaya Bangsa Kita Itu "Dahsyat"

“Budaya Indonesia saat ini sangat jauh bisa mempengaruhi dunia dan kita memiliki kapasitas untuk itu, budaya kita itu dahsyat. Ini bangsa yang basis kekuatan budayanya dahsyat dari Sabang sampai Merauke, multi bahasa, multi etnis, multi dialek, multi warna, multi daerah, multi agama itu semua kulminasinya pada cerminan budaya tapi itu belum terproyeksi sejauh, sebanyak, setingkat apapun yang kita aspirasikan, karena kita baru saja mulai,” kata Gita Irawan Wirjawan, Menteri Perdagangan Republik Indonesia.

“Tapi sejarah menilai, bahwa kita itu sudah bisa sebelumnya, abad ketujuh jaman Dinasti Syailendra membangun candi Buddha terbesar di dunia, abad ke empat belas kekuasaan Majapahit membentang dari barat sampai timur, mencakup areal asia tenggara, itu contoh bahwa kita sebenarnya bisa memproyeksikan soft power kita, budaya kita, saya rasa ini momen kita agar budaya Indonesia bisa mempengaruhi dunia Internasional,” terang Gita Wirjawan pada Kabare.

Di sela-sela kesibukannya sebagai Menteri Perdagangan, Gita sangat menaruh perhatian pada nilai – nilai budaya, “saya itu berpikir bahwa nilai ekspor kita, nilai dagang kita itu yang paling tinggi itu ada pada inovasi dan kreatif, inovasi dan kreatif itu sangat terkorelasi dengan kapasitas budaya kita,” kata Gita. “kapasitas kita untuk bisa berinovasi sangat terkait dengan budaya kita dan juga intelektual kita, ini yang menurut saya, sangat harus di kembangkan ke depan”.
Copyright © Album Nama - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.