468x60bannerad

Tuesday, January 28, 2014

Fabian Jeremiah: Ada Karakter Luar Biasa

Baru sekitar tiga bulan, pria yang satu ini menetap di Yogyakarta. Itu pun karena saat ini ia musti berkutat pada pekerjaannya yang berkaitan dengan Kota Budaya itu. Ya, sejak November tahun lalu, SilkAir resmi membuka rute penerbangan internasional Singapura-Yogyakarta PP. Selama tiga kali dalam seminggu, maskapai penerbangan anak perusahaan regional Singapore Airlines tersebut melayani rute penerbangan itu, yakni setiap Senin, Jumat dan Minggu. Oleh sebab itulah, pria asal Negeri Singa yang cukup fasih berbahasa Indonesia ini mulai menikmati Yogyakarta.

“Ya, ini memang masih awal, jadi sementara tiga kali dalam satu minggu. Kami tentu masih butuh waktu untuk merencanakan hal-hal yang lain. Mengingat okupansinya lumayan, sekitar 80 persen yang keluar-masuk Yogyakarta ini, memang ada kemungkinan nantinya akan dapat melayani penerbangan setiap hari,” terang Fabian Jeremiah, Manajer SilkAir Yogyakarta ini ketika berbincang dengan Kabare di Royal Ambarrukmo Hotel pertengahan Desember lalu.

Sebelum ditugaskan di Yogyakarta, Fabian tinggal di Solo selama 4 tahun 6 bulan. Pastinya, paling tidak sejak saat itu, ia secara langsung telah merasakan, melihat, dan mengenal budaya Jawa. Dan ketika sampai di Yogyakarta, Fabian sepertinya lebih mencermatinya.

“Saya sudah keliling di mana tempat, dan setiap daerah di Indonesia yang saya singgahi punya keistimewannya masing-masing. Tentu, istimewanya Yogyakarta juga berbeda dengan yang lain. Dan keistimewaan setiap daerah itu tidak dapat dibandingkan antara satu dengan yang lainnya. Di Jogja, yang saya buktikan dan rasakan adalah kekeluargaan, serta budi bahasa orang-orangnya lembut. Yang seperti itu bagi saya adalah sesuatu yang membuat saya senang, membahagian saya,” akunya ketika ditanya opininya tentang Yogyakarta.

Itulah yang dapat diungkapkannya meski baru sebentar tinggal di Yogyakarta. Karakter semacam itulah, menurut Fabian, yang luar biasa dari Yogyakarta.

Teks: FA Herru; Foto: Albert

Monday, January 27, 2014

H.E. Mr. David Taylor dan Mrs.Theresa Taylor: Tradisi Ciri Karakteristik Budaya Bangsa



Adat adalah aturan dan perbuatan yang lazim dituruti atau dilakukan sejak dahulu kala. Timbulnya adat berawal dari usaha orang-orang dalam suatu masyarakat di daerah yang menginginkan terciptanya ketertiban di masyarakat. Adat istiadat adalah tata kelakuan yang kekal dan turun temurun dari generasi ke generasi sebagai warisan sehingga kuat hubungan dan penyatuannya dengan pola – pola perilaku masyarakat.

Sangat penting suatu bangsa untuk mempertahankan tradisi adatnya, jangan sampai adat istiadat bangsa itu terkikis oleh modernisasi. Hal ini diungkapkan oleh Duta Besar New Zealand HE.Mr. David Taylor dalam perbincangan dengan Kabare. “Adat istiadat yang dimiliki oleh Indonesia dan New Zealand memiliki banyak persamaan, hal ini terlihat dari adat istiadat yang dimiliki oleh suku Maori yang merupakan suku asli New Zealand dengan adat istiadat suku-suku di Indonesia,” ujar HE.Mr. David Taylor, dalam suatu kesempatan bersama Kabare.

New Zealand sangat menghargai dan mempertahankan tradisi suku Maori, karena ini adalah kekayaan budaya bangsa dan salah satu faktor yang dapat meningkatkan sektor pariwisata New Zealand. HE.Mr. David Taylor juga mengatakan kalau Indonesia sebagai bangsa yang memiliki tradisi adat yang unik dan berbeda dari bangsa lainnya. Menurutnya keanekaragaman tradisi dan budaya merupakan sebuah keunggulan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Banyak tradisi budaya bangsa Indonesia yang dapat melahirkan karya seni tradisional yang menarik untuk diminati dan dipelajari.

“Banyak karya seni budaya yang saya kagumi, diantaranya batik, wayang, gamelan dan tari-tarian. Satu kota yang mengesankan menurut saya adalah Yogyakarta. Bagi saya, kota tersebut adalah kota sejuta seni dan pusat peradaban budaya bangsa yang pernah saya kunjungi. Di sana saya bisa melihat bagaimana rumitnya orang membuat batik, agungnya Gunung Merapi, nikmatnya berwisata kuliner hingga pesona bangunan candi-candi yang ada di sana,” kenangnya.

Kesan lainnya tentang Yogyakarta ketika dirianya dan keluarga membeli cokelat Monggo sebagai buah tangan. Menurutnya cokelat Monggo adalah cokelat yang memiliki rasa yang khas dan unik karena dibuat dengan campuran rempah-rempah khas Indonesia membuat rasanya berbeda dari cokelat lainnya. Pemandangan pegunungan yang ada pun mengingatkannya akan nuansa keindahan alam di New Zealand yang hampir sebagian daerahnya dikelilingi oleh gunung dan bukit-bukit hijau yang indah.

Selama tiga tahun menjadi Duta Besar New Zealand untuk Indonesia dan Asia Tenggara HE.Mr.David Taylor sangat menyukan masakan-masakan pedas khas Indonesia, diantaranya makanan pedas khas Manado dan Sumatera. Ia dan sang istri juga menyenangi dunia olahraga, hobinya bermain golf bersama dengan sang istri, membuat ia telah mengunjungi hampir semua padang golf yang ada di Indonesia, khususnya Merapi Golf.

Di akhir perbincangan, HE.Mr. David Taylor juga mengatakan hubungan kerjasama bialateral antara Indonesia dan New Zealand sudah berjalan dengan baik khususnya di bidang pertanian, pendidikan dan pariwisata. Baginya, suatu keharusan untuk bekerjasama dengan Indonesia yang notabenenya bertetangga dengan New Zealand. Dengan begitu, kesatuan dan persatuan antar negara tetap terjaga.

Teks: Herlan; Foto: Rama

Monday, January 20, 2014

Yorri Karebet: Berawal dari Mimpi

Nasib berbeda dengan takdir. Jika takdir sudah digariskan oleh Sang Kuasa, maka nasib ditentukan oleh kemauan, usaha dan upaya tak kenal lelah untuk merubah suatu keadaan, misalnya pekerjaan dan kekayaan. Merubah nasib dari yang tak punya apa-apa menjadi bisa memiliki segalanya sepertinya sudah dilakukan oleh sosok pengusaha muda Yorri Karebet. Salah satu pemilik dari PT. Qualita Prima Pariwara dan perusahaan event organizer U Know Me ini banyak bercerita mengenai kisah hidupnya yang benar-benar berproses.

Alumni Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta jurusan Managemen ini mengatakan bahwa keberhasilan hidupnya bisa dikatakan berawal dari keberaniannya bermimpi. Sebelumnya, tak pernah terbersit di benak Yorri untuk berkecimpung di bidang broadcasting. Keinginannya bekerja di bidang event organizer berawal ketika dirinya melihat peluang untuk bekerjasama dengan Konimex, salah satu perusahaan obat terbesar untuk menggelar sebuah event bertajuk Saturday on Stage dan Sunday on Stage di UGM beberapa tahun lalu. Sukses dengan event tersebut, dirinya memutuskan hijrah ke Jakarta untuk mencari peluang yang lebih besar di bidang yang sama.

Sunday, January 19, 2014

Eunike Martanti: Senantiasa Merenovasi

Perhotelan lama menjadi dunianya. Tak berlebihan rasanya jika dibilang sudah jadi napas hidupnya. Telah 16 tahun ibu yang satu ini berbasah-kering di sana. Mungkin aka nada yang berkata, belasan tahun belumlah cukup dikatakan lama. Tetapi karena kariernya dimulai dari bawah, lalu proses pembelajaran dan juga suka-duka yang dijalaninya hingga mencapai posisi dengan tanggung jawab besar, membuat guliran waktu sekian itu menjadi pantas disebut demikian karena telah membuat Nike terasah dan tajam di bidangnya.

Kariernya dimulai tahun 1997, sebagai reception staff di Ibis Yogyakarta Malioboro Hotel, sampai ia dipercaya menjadi Public Relations Manager holding company yang membawahi Ibis Yogyakata Malioboro Hotel, Malioboro Mall, Solo Square, Mercure Kuta Bali Hotel. Jabatan terakhir sebelum di tahun 2011 memutuskan untuk meninggalkannya dan mulai mengelola bisnis keluarga.

Ia mengaku pernah merasakan berat menjalani. Ia juga bilang jika banyak mendapat pengalaman yang membuka wawasannya lebih luas. “Tapi semua itu asyik, penuh tantangan, dan menarik. Berkenalan dan bersinergi dengan banyak orang itu suatu yang sangat luar biasa,” tambah Nike.

Sejak megelola bisnis hotel keluarga, pastinya tugas Nike tidak menjadi lebih mudah. Di sinilah justri kemampuannya diuji. “Saya harus terus banyak belajar karena ini rumit. Di sini saya bukan karyawan yang menerima order pekerjaan untuk dilaksanakan saat ini, tetapi mengelola semuanya,” ujar mantan runner up Diajeng Yogyakarta 1991 ini.

Dieng Kledung Pass Hotel & Restaurant di Wonosobo, nama bisnis keluarganya. Untuk lanjut meningkatkan mutu dan kualitas, Nike mengaku senantiasa melakukan renovasi. Pastinya, itu dari sisi pelayanan juga bangunan fisiknya. Dengan begitu, harapan Nike saat ini tentu hotelnya semakin banyak dikunjungi sebagai imbas dari semakin dikenalnya Wonosobo.

“Sebagai hotel yang terletak tepat di gerbang masuk Kota Wonosobo, saya berharap pariwisata Wonosobo makin dikenal sehingga hotel pun makin ramai. Sebab Wonosobo punya banyak daya tarik wisata yang dapat dikunjungi. Sebagai mantan Duta Wonosobo dan Jawa Tengah, masih terasa jiwa untuk terus membawa pariwisata Wonosobo makin dikenal di manapun,” ujar Nike mengakhiri.

Teks: FA Herru; Foto: Ist.

Thursday, January 16, 2014

L. Sudarsana: Kreatif Berkat Pergaulan

Loyalitas kerja yang tinggi dan profesionalisme dalam berkarya terlihat jelas dari sosok pria kelahiran Dusun Bolawen, Mlati, Sleman Yogyakarat, 10 Januari ini. Melihat perjalanan kariernya di dunia perhotelan selama 23 tahun ini, L. Sudarsana sudah membuktikan kerja kerasnya hingga bisa sukses menduduki puncak kariernya sebagai general manager Royal Ambarrukmo Yogyakarta (RAY). Bekerja di industri ini bukanlah cita-citanya sejak kecil. Semasa kecil, justru dirinya ingin sekali menjadi seorang dosen. Namun rupanya kariernya malah melesat di bidang perhotelan ini.

Sambil mengenang kisah masa lalu, L. Sudarsana mengatakan bahwa kariernya dimulai menjadi tukang cuci di Graha Santika Hotel Semarang. “Lulus dari Akademi Buana Wisata Yogyakarta tahun 1990, saya langsung diterima kerja di Graha Santika Hotel Semarang. Berawal dari tukang cuci, kemudian naik menjadi waiter, F & B Manager hingga menjadi general manager di hotel yang sama, semua pernah saya jalani,” ujarnya ketika berbincang dengan Kabare.

Wednesday, January 15, 2014

Sistho A. Sreshtho: Semangat Kelola Budget Hotel

Meski berlatar belakang industrial engineering, ketekunan, ketelatenan dan perjuangan seorang Sistho A. Sreshtho dalam meniti karier di dunia perhotelan patut diacungi jempol. Pencapaian kariernya bisa dikatakan lancar dan cepat di bidang ini. Sistho mengisahkan bahwa awalnya dirinya mengawali kariernya di Novotel Hotel Semarang di pertengahan tahun 2005 sebagai sales executive.

Sistho mengatakan jika awalnya cukup sukar baginya untuk menekuni pekerjaan yang tidak ada sangkut pautnya dengan latar belakang pendidikannya. Namun berkat dukungan keluarga dan timnya, Sistho pun berhasil menduduki posisi tertinggi di Sales & Marketing termuda di usia 28 tahun. Kemudian Sistho pun mengembangkan kariernya dengan bekerja di grup hotel lainnya seperti Aston Hotel Samarinda dan mendapatkan penghargaan bergengsi The Best Sales Leader 2012.

“Di akhir September 2012, head office memberikan kepercayaan kepada saya untuk memegang operasional Fave Hotel Solo Baru hingga saat ini. Jujur saya merasa sangat bahagia, bangga dan tertantang karena Fave Solo Baru adalah salah satu Fave Hotel di Indonesia yang memiliki tantangan terbesar dalam pengelolaannnya selama ini. Berada di lokasi yang masih berkembang dan belum memiliki feeder market yang tetap menjadikan ini sebagai tantangan yang lebih besar untuk saya,” ungkap Sistho.

Di bawah kendali Sistho, banyak perubahan yang dilakukan oleh Fave Hotel Solo Baru. Sistho yakin jika kota Solo telah menjadi main destinatioan area bagi para tamu dalam hal business and leisure. Sistho menyatakan bahwa inilah saatnya menjadikan Solo Baru sebagai tujuan yang sama ke depannya.

Teks: Anis RN.

Saturday, January 11, 2014

Erik Meijer: Indonesia, Negara Sejuta Potensi



Rasanya tidak banyak kita menemukan sosok pengusaha ekspatriat seperti Frederik Johannes Meijer atau yang akrab dengan nama Erik Meijer. Pria kelahiran Belanda, 6 September 1970 ini terbilang sukses dalam mengawal tiga perusahaan telekomunikasi di Indonesia. Kini, Erik diminta oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk menduduki jabatan yang cukup strategis di PT. Garuda Indonesia Tbk., sebagai Direktur Komersial. Rentang waktu 20 tahun rupanya sudah dilalui Erik dalam perjalanan kariernya di Indonesia. Berawal dari ditugaskan selama dua pekan oleh sebuah perusahaan operator Belanda bernama KPN Royal Dutch Telecom pada tahun 1993 untuk mengembangkan bisnis, menjalin kerjasama dan pemasaran di Indonesia, Erik pun tak pernah menyangka jika kariernya kemudian melesat di negeri ini.

Wednesday, January 8, 2014

Hj. Sri Wahyuni, SE, MM.: Peran Gender Luar Biasa

Masuk juga pada seputar gender saat nenek empat cucu ini berbincang seputar perkembangan usaha perusahaan dan perkebunan teh Tambi yang berada di Wonosobo, Jawa Tengah. Entah bagaimana, tapi bisa jadi Hj. Sri Wahyuni sangat kagum dan menghormati para petani pekerja perkebunan the Tambi, khususnya mereka yang perempuan. Saat menikungkan obrolan itu, raut wajah dan sinar matanya tampak sedikit berubah, memendarkan rasa penghargaannya kepada mereka.

Sejak tahun 2009, Hj. Sri Wahyuni telah menjabat Direktur Utama di PT Perkebunan Tambi. Ia diminta Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Wonosobo untuk “berkebun”, memimpin dan mengurus usaha perkebunan the yang memang separuh sahamnya dimiliki oleh Pemda Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, dan separuh lagi milik PT. Indo Global Galang Pamitra.

Sebelum itu, Hj. Sri Wahyuni telah lebih dari 30 tahun mengabdikan diri di Pemda Wonosobo. Setelah purna tugas tahun 2005, ia sempat diminta untuk menjadi Direktur Utama PDAM Wonosobo selama 4 tahun. Dan semasa usianya menapak 60 tahun, ia pun purna tugas dari sana. Mungkin karena kemampuannya memimpin, tak lama setelah itu, ia lantas ditunjuk untuk mengelola perkebunan the Tambi. Memang, di masa kepemimpinannya, perkebunan Tambi dapat bertambah maju. Sejak awal ia menjabat hingga sekarang, PT Perkebunan Tambi selalu dapat meningkatkan jumlah produksi the keringnya.

“Saya bersyukur, meski tidak muda lagi, saya masih dipercaya mengelola perkebunan,” ujarnya. Menurutnya, bekerja mengelola perkebunan the Tambi sekaligus dapat refreshing. Meski sibuk, ia tak jarang luangkan waktu menengok langsung lokasi perkebunan. Dan mungkin dari situlah, ia menyaksikan secara langsung bagaimana para petani bekerja.

“Luar biasa orang-orang pabrik dan kebun di sini. Para pemitik misalnya, yang kebanyakan adalah ibu-ibu, sejak jam lima pagi sudah datang ke kebun untuk memetik di tengah hawa gunung yang pastinya sangat dingin. Semangatnya bekerja dan loyalitasnya luar biasa. Unggah-ungguhnya juga sangat baik. Bagi saya, tidak ada pekerja yang seloyal dan sesopan pekerja perkebunan itu, terutama ibu-ibu itu. Jadi peran gender di sini sangat luar biasa, dan saya mengapresiasi itu,” katanya.

Teks: FA Herru; Foto: Budi Prast

Monday, January 6, 2014

Siti Indriyani Siddik: Semua Karena Cinta

Benarlah jika cinta akan budaya tanah kelahiranlah yang membuat ibu empat putra ini memutuskan untuk pulang dan tinggal selamanya di Indonesia. Siti Indriyani Siddik atau lebih akrab disapa Indy, seorang ibu asal Klaten, Jawa Tengah, ini sejak kecil hingga dewasanya hidup di Belanda. Ia mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi di negeri kincir angin itu.

Suatu kali, di tahun 1980-an, di awal tahun studinya di perguruan tinggi, Indy berkesempatan menjadi tour guide sebuah biro perjalanan di Belanda yang memiliki paket tur nostalgia ke Indonesia. Dari situlah, ia berkesempatan melihat Indonesia beserta kebudayaannya lagi. Dan dari situlah, selepas menyelesaikan studi, kira-kira di tahun 1989, Indy lantas memutuskan untuk pulang kembali ke tanah kelahirannya dan tinggal selamanya di Indonesia. Menurutnya, karena budaya Indonesia yang dilihatnya, Indy kemudian rindu dan cinta, serta punya keinginan untuk itu.
Copyright © Album Nama - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.