
Lirik-lirik yang diciptakannya seperti syair kehidupan. Potret rakyat jelata, pigura alam, serta degup jantungnya pada negeri tercinta. Semua tercipta dari tapak kaki yang menuntunnya dari ujung ke ujung jalan.
Selepas 80-an, waktu laksana sampan yang dikayuhnya ke tepian. Sosok Leo Kristi hampir tak pernah terlihat lagi di televisi hingga saat ini. Dunia populer perlahan ditinggalkan, seiring berubahnya gaya melagu para seniman musik. Sendiri, ia telah menemukan jalurnya dan menikmatinya. Ia memilih mendayung sampan di tepian, di sungai kecil yang tak banyak ikan. Di situ ia tetap melagu, menyuarakan rasa yang menggelora ketika melihat serak-serak kehidupan yang dilewatinya.
Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 145, Juli 2014








