Sebagai salah satu profesional yang terjun di bidang otomotif, Rudy Handoko, SE., mengatakan bahwa sistem transportasi di Jogja sudah mengalami kemajuan yang cukup pesat. Jika dulu masyarakat Jogja lebih dikenal suka mengendarai sepeda onthel sebagai moda transportasi sehari-hari, kini kita bisa dengan mudahnya melihat kendaraan bermesin baik roda dua maupun roda empat berlalu lalang di jalanan kota gudeg tersebut. Rudy yang merupakan President Director Honda Anugerah Sejahtera yang berada di Jalan Magelang Km. 7, 5, Sendangadi, Mlati, Sleman, tersebut mengatakan bahwa perkembangan transportasi yang pesat di Jogja menunjukkan bahwa tingkat perekonomian masyarakat kota tersebut semakin meningkat.
Tuesday, December 31, 2013
Thursday, December 26, 2013
Yuli Priyono: Kekuatan Brand adalah Kuncinya
Menjadi sebuah tantangan tersendiri tak kala dipercaya untuk mengemban tugas di suatu daerah yang baru. Namun hal itu tak menyurutkan semangat Yuli untuk berkarya di property yang saat ini dipimpinnya. Berbagai startegi ia lakukan agar semuanya bisa berjalan dengan baik. Apalagi pengalaman selama 20 tahun bergabung di Santika Group, bukanlah hal yang sulit baginya untuk mengelola Hotel Santika Purwokerto yang baru berdiri sekitar Mei 2013 yang lalu.
“Karakter kota Purwokerto berbeda dengan kota-kota yang pernah saya kunjungi, sebagai kota Kabupaten, Purwokerto merupakan kota yang unik, kota transit namun juga ada beberapa industri kecil disini. Berbagai pendekatan kami lakukan agar masyarakat disini lebih aware dengan keberadaan kami. Salah satunya adalah dengan mengundang mereka untuk datang dan menikmati fasilitas kami, ungkap Yuli.
“Karakter kota Purwokerto berbeda dengan kota-kota yang pernah saya kunjungi, sebagai kota Kabupaten, Purwokerto merupakan kota yang unik, kota transit namun juga ada beberapa industri kecil disini. Berbagai pendekatan kami lakukan agar masyarakat disini lebih aware dengan keberadaan kami. Salah satunya adalah dengan mengundang mereka untuk datang dan menikmati fasilitas kami, ungkap Yuli.
Saturday, December 21, 2013
Ir. H. Krisniantara WP.: Menjaga Kepercayaan
“Siapa orang Jogja yang tak bangga jika keluarga Keraton Yogyakarta berkenan menggunakan dan mempercayai jasanya.” Itulah kata-kata Ir. H. Krisniantara WP, Direktur Utama Karunia Katering. Untuk hal itu, ia mengakui bahwa ada perasaan bangga ketika orang nomor satu di Yogyakarta mau menggunakan jasa kateringnya untuk melayani helatan royal wedding tempo hari. Tampaknya, bukan sekali saja Karunia Katering melayani royal wedding.
Pria yang satu ini adalah putra menantu pendiri Karunia Katering yang kini memegang dan mengendalikan bisnis katering yang sudah didirikan sebelum tahun 1970 itu. Kris beserta sang istri adalah generasi kedua Karunia Catering, bisnis katering Bu Sayid. Selama ini, Karunia Katering berjalan dan berkembang cukup baik. Itu terbukti bahwa sampai kini Karunia Katering masih sering melayani bermacam acara yang membutuhkan ketersediaan hidangan darinya.
Pria yang satu ini adalah putra menantu pendiri Karunia Katering yang kini memegang dan mengendalikan bisnis katering yang sudah didirikan sebelum tahun 1970 itu. Kris beserta sang istri adalah generasi kedua Karunia Catering, bisnis katering Bu Sayid. Selama ini, Karunia Katering berjalan dan berkembang cukup baik. Itu terbukti bahwa sampai kini Karunia Katering masih sering melayani bermacam acara yang membutuhkan ketersediaan hidangan darinya.
Monday, December 16, 2013
Aning Katamsi: Berharap Seriosa Lebih Diminati
Aning Katamsi adalah salah satu soprano Indonesia yang konsisten meniti karier di bidang musik klasik. Ratna Kusumaningrum atau dikenal sebagai Aning Katamsi, perempuan kelahiran Cilacap, 3 Juni 1969 ini memiliki karakter vokal sopran. Aning adalah putri dari Pranawengrum Katamsi, yang juga seorang penyanyi seriosa. Ia adalah buah hasil didikan Catharina Leimena, yang juga adalah penyanyi seriosa Indonesia yang pernah menuntut ilmu di Conservatorio di Musica “Giuseppe Verdi”, Milan, Italia.
Saat ini, Aning adalah salah satu pelatih Paduan Suara Mahasiswa Universitas Indonesia Paragita. Selain bernyanyi, Aning juga adalah seorang pemain piano andal. Ia pernah belajar pada Iravati M. Sudiarso, salah satu sesepuh dalam dunia musik klasik Indonesia.
Saat ini, Aning adalah salah satu pelatih Paduan Suara Mahasiswa Universitas Indonesia Paragita. Selain bernyanyi, Aning juga adalah seorang pemain piano andal. Ia pernah belajar pada Iravati M. Sudiarso, salah satu sesepuh dalam dunia musik klasik Indonesia.
Friday, December 13, 2013
Ira Natalisa Ayodhia: Tanamkan Rasa Cinta Tanah Air Sejak Dini
Indonesia dikenal sejak dulu sebagai bangsa yang kaya akan keanekaragaman budaya, suku dan bahasa. Inilah yang menciptakan kerukunan dan persatuan yang erat pada kehidupan masyarakat Indonesia. Hal tersebut yang menjadi unggulan Indonesia untuk menjadi bangsa yang menjunjung tinggi nilai persatuan dan kesatuan serta menjaga lestarinya khasanah budaya bangsa. Menjunjung tinggi nilai persatuan dan melestarikan budaya bangsa bisa diapresiasikan dalam kehidupan sehari-hari, menurut Ira Natalisa Ayodhia yang lebih akrab disapa dengan Lisa Ayodhia.
Menurut Ibu dari 3 putera dan 1 puteri serta 4 orang cucu ini, persatuan dan lestarinya budaya Indonesia memang harus dipertahankan dan dijaga dengan sepenuh hati. Karena menurutnya kita sebagai masyarakat Indonesia harus melihat Indonesia sebagai jiwa dan raga kita, agar dengan sendirinya timbul kesadaran untuk mencintai dan melindungi bangsa ini sebagai bangsa yang menjunjung tinggi persatuan dan kerukunan. Selain itu Lisa Ayodhia juga memberikan wejangan dan arahan kepada putra-putri serta cucu-cucunya untuk selalu menghormati dan menghargai perbedaan-perbedaan yang ada di Indonesia. Karena dari sebuah perbedaan akan tercipta suatu persamaan prinsip yang membangun rasa kebersamaan.
“Saya membiasakan diri mendidik putera–puteri maupun cucu agar membiasakan lebih memilih karya atau produk buatan dalam negeri. Dengan menggunakan produk atau karya buatan dalam negeri kita sudah mendukung bangsa ini untuk menjadi yang terdepan dan menjadi panutan bagi bangsa lainnya. Bagi saya, cinta kepada tanah air harus dipupuk sejak dini, agar kesadaran cinta tanah air ini dapat tertanam di jiwa putra-putri Indonesia. Orang tua sangat berperan penting dalam mendidik putra-putrinya untuk bisa berguna bagi bangsa dan negara,” tuturnya kepada Kabare.
Menurut Ibu dari 3 putera dan 1 puteri serta 4 orang cucu ini, persatuan dan lestarinya budaya Indonesia memang harus dipertahankan dan dijaga dengan sepenuh hati. Karena menurutnya kita sebagai masyarakat Indonesia harus melihat Indonesia sebagai jiwa dan raga kita, agar dengan sendirinya timbul kesadaran untuk mencintai dan melindungi bangsa ini sebagai bangsa yang menjunjung tinggi persatuan dan kerukunan. Selain itu Lisa Ayodhia juga memberikan wejangan dan arahan kepada putra-putri serta cucu-cucunya untuk selalu menghormati dan menghargai perbedaan-perbedaan yang ada di Indonesia. Karena dari sebuah perbedaan akan tercipta suatu persamaan prinsip yang membangun rasa kebersamaan.
“Saya membiasakan diri mendidik putera–puteri maupun cucu agar membiasakan lebih memilih karya atau produk buatan dalam negeri. Dengan menggunakan produk atau karya buatan dalam negeri kita sudah mendukung bangsa ini untuk menjadi yang terdepan dan menjadi panutan bagi bangsa lainnya. Bagi saya, cinta kepada tanah air harus dipupuk sejak dini, agar kesadaran cinta tanah air ini dapat tertanam di jiwa putra-putri Indonesia. Orang tua sangat berperan penting dalam mendidik putra-putrinya untuk bisa berguna bagi bangsa dan negara,” tuturnya kepada Kabare.
Thursday, December 12, 2013
Dino Patti Djalal: "Good to Great"
Good to great. Itulah kata yang menjadi harapan dan cita-cita Dr. Dino Patti Djalal untuk bangsa dan negaranya, Indonesia. Pastinya, putra bangsa kelahiran Beograd, Yugoslavia, 48 tahun yang lalu ini menginginkan negerinya kian maju dan semakin powerfull di kancah internasional. Dari pandangannya, ia meyakini Indonesia mampu untuk mewujudkan itu. “Sekarang kita telah berada pada posisi yang bagus. Tapi sekarang sudah tiba masanya kita bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi. Dari good to great. Dari bagus ke hebat,” papar diplomat ulung Indonesia ini.
Nama Dino Patti Djalal belakangan makin kerap diperbincangkan orang. Pun bermacam media di tanah air makin santer memunculkan sosoknya. Ya, Dino Patti Djalal adalah satu dari sebelas nama yang turut serta dalam konvensi capres Partai Demokrat. Tentu, bukan tanpa dasar dan alasan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat yang akhir Desember 2013 resmi lepas dari jabatannya ini, mengikuti itu.
Menurut mantan juru bicara Presiden SBY dan staf khusus urusan internasional ini, ia merasa terpanggil dan bertanggung jawab secara moral kepada bangsa, khususnya generasi muda. Ia berniat membuktikan diri tak hanya bisa menjadi diplomat sukses, namun juga menjadi seorang pemimpin dan politisi yang andal. Dino memang menegaskan bahwa tak ada target lain atau menginginkan jabatan strategis lain, kecuali ingin maju dalam percaturan pemilihan presiden.
Nama Dino Patti Djalal belakangan makin kerap diperbincangkan orang. Pun bermacam media di tanah air makin santer memunculkan sosoknya. Ya, Dino Patti Djalal adalah satu dari sebelas nama yang turut serta dalam konvensi capres Partai Demokrat. Tentu, bukan tanpa dasar dan alasan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat yang akhir Desember 2013 resmi lepas dari jabatannya ini, mengikuti itu.
Menurut mantan juru bicara Presiden SBY dan staf khusus urusan internasional ini, ia merasa terpanggil dan bertanggung jawab secara moral kepada bangsa, khususnya generasi muda. Ia berniat membuktikan diri tak hanya bisa menjadi diplomat sukses, namun juga menjadi seorang pemimpin dan politisi yang andal. Dino memang menegaskan bahwa tak ada target lain atau menginginkan jabatan strategis lain, kecuali ingin maju dalam percaturan pemilihan presiden.
Tuesday, December 10, 2013
Sidarto Danusubroto dan Sri Artiwi Sidarto: "Kemandirian Bangsa Kunci Keberhasilan Bangkitnya Indonesia"
Saat Kabare bertemu pertama kali dengan Sidarto Danusubroto, jiwa nasionalis dan patriotisme terlihat jelas di wajah tokoh yang saat ini menjabat sebagai Ketua MPR Republik Indonesia, menggantikan almarhum Taufik Kiemas. Sidarto Danusubroto memang sangat pantas untuk disebut sebagai salah satu tokoh nasionalis Indonesia, karena selama 51 tahun hidupnya didedikasikan untuk bangsa ini. Mulai dari menjadi ajudan presiden pertama Republik Indonesia Soekarno, hingga pernah menjabat sebagai Kapolda. Nasionalisme dan Patriotisme ini benar-benar ia dapatkan saat mengemban tugas menjadi ajudan seorang pejuang, proklamator, dan Presiden Republik Indonesia yaitu Ir. Soekarno.
Bung Karno memang menjadi panutan baginya dan ia juga mengatakan bahwa pengabdiannya terhadap bangsa ini terinspirasi dari perjuangan Sang Proklamator. Hal ini ia visualisasikan ke dalam sebuah buku yang berjudul Sisi Sejarah Yang Hilang. Buku ini menceritakan memoar atau pengalaman hidup dari seorang Sidarto Danusubroto selama ia menjabat sebagai ajudan presiden pertama RI.
Sidarto Danusubroto lahir di Pandeglang 11 Juni 1936 di rumah Dinas Kehutanan yang terletak di alun-alun kota. Ayahnya Danusubroto merupakan Sinder kehutanan di Karasidenan Banten. Ayahnya memiliki darah bangsawan keturunan pendiri Mataram, Panembahan Senopati dengan Garwo Retno Dumilah. Sedangkan ibunya merupakan keturunan langsung dari Sultan Hamengkubwono II Yogyakarta.
KRHT. Drs. H. Istidjab M. Danunagoro, MM.: Industri Hotel di DIY Harus Merata
Nama KRHT. Drs. H. Istidjab M. Danunagoro, MM., tampaknya tak bisa dilepaskan dari dunia perhotelan Yogyakarta. Sepertinya, Tuhan memang telah menggariskan hidupnya untuk mengabdi di industri hospitality tersebut. Sebagai General Manager Grand Quality Hotel Yogyakarta serta Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) wilayah DIY. Kecintaan Istidjab dengan dunia perhotelan sudah dirasakan sejak dirinya lulus dari SMA di Jakarta. Keinginannya menjadi pilot akhirnya kandas karena larangan dari kedua orangtuanya yang khawatir akan resiko bertugas di udara.
“Kedua orangtua saya mengarahkan untuk masuk Akademi Kepolisian, namun akhirnya saya memilih melanjutkan kuliah di Akademi Perhotelan Bandung. Meski jarang diminati orang, tapi saya sangat bangga kuliah di sana karena selain kuliah, saya juga diberi uang saku tiap bulannya,” kenang pria kelahiran Solo, 11 Agustus 1946 ini kepada Kabare.
“Kedua orangtua saya mengarahkan untuk masuk Akademi Kepolisian, namun akhirnya saya memilih melanjutkan kuliah di Akademi Perhotelan Bandung. Meski jarang diminati orang, tapi saya sangat bangga kuliah di sana karena selain kuliah, saya juga diberi uang saku tiap bulannya,” kenang pria kelahiran Solo, 11 Agustus 1946 ini kepada Kabare.
Monday, December 9, 2013
Samuel Wattimena: Kita Hidup Hanya untuk Bahagia
Megawali karir sejak masih duduk di bangku SMA sekitar tahun 1979, mengantar seorang Samuel Wattimena menjadi salah satu designer professional di Indonesia. Karya-karyanya pun telah mengantarkan banyak penyanyi Indonesia menjuarai berbagai festival baik nasional dan internasional.
Sebut saja di tahun 1980an ia pernah menangani penyanyi seperti Rafika Duri, Harvey Malaiholo, Likes Sister, Andi Meriam Mattalata, Broery Pesolima, Vina Panduwinata,Grace Simmon, Hetty Koes Endang Kemudian di era 90-an ada Ruth Sahanaya,AB Three dan masih banyak lagi. Bahkan untuk saat ini, Bung Sammy sapaan akrab Samuel Wattimena, masih dipercaya menangani group D’Masiv untuk image barunya.
“Sejak tahun 1980 sampai dengan Tahun 90’an, setiap tahun saya menangani berbagi festival music sebagai orang yang mendandani kostum mereka, jadi pada saat itu sempat ada fenomena kalau mau ikut festival pop song yang dandanin saya pasti jadi pemenang, “ tutur Sammy.
Terlahir dari keluarga sederhana menempa seorang Sammy menjadi sosok yang mandiri. Bungsu dari 5 bersaudara ini mengaku tak pernah mendapatkan uang jajan. Untuk mendapatkan uang jajan dari sang ayah yang kebetulan menjadi bendahara RT, Sammy harus membantu sang ayah menjalanin iuran RT. “Warisan terbesar yang diberikan oleh keluarga saya adalah karakter. Jadi, walaupun kami dari keluarga menengah ke bawah kami tidak pernah kehilangan rasa syukur dan bahagia,” kata Sammy.
Sebut saja di tahun 1980an ia pernah menangani penyanyi seperti Rafika Duri, Harvey Malaiholo, Likes Sister, Andi Meriam Mattalata, Broery Pesolima, Vina Panduwinata,Grace Simmon, Hetty Koes Endang Kemudian di era 90-an ada Ruth Sahanaya,AB Three dan masih banyak lagi. Bahkan untuk saat ini, Bung Sammy sapaan akrab Samuel Wattimena, masih dipercaya menangani group D’Masiv untuk image barunya.
“Sejak tahun 1980 sampai dengan Tahun 90’an, setiap tahun saya menangani berbagi festival music sebagai orang yang mendandani kostum mereka, jadi pada saat itu sempat ada fenomena kalau mau ikut festival pop song yang dandanin saya pasti jadi pemenang, “ tutur Sammy.
Terlahir dari keluarga sederhana menempa seorang Sammy menjadi sosok yang mandiri. Bungsu dari 5 bersaudara ini mengaku tak pernah mendapatkan uang jajan. Untuk mendapatkan uang jajan dari sang ayah yang kebetulan menjadi bendahara RT, Sammy harus membantu sang ayah menjalanin iuran RT. “Warisan terbesar yang diberikan oleh keluarga saya adalah karakter. Jadi, walaupun kami dari keluarga menengah ke bawah kami tidak pernah kehilangan rasa syukur dan bahagia,” kata Sammy.
Friday, October 11, 2013
Yuswohady: Menemukan Dunia dengan Mempelajari Hal-hal Baru
Menengok latar belakang pendidikan dan aktifitasnya semasa menempuh pendidikan di Jogja, siapa sangka pria kelahiran Purwodadi, Jawa Tengah ini, kini lebih banyak dikenal di kalangan bisnis, utamanya dunia pemasaran di Indonesia. Adalah Yuswohady, sosok yang dikenal luas sebagai salah satu konsultan sekaligus penulis terkemuka yang dikenal sangat produktif.
Tulisan-tulisannya seputar bisnis dan pemasaran tersebar di berbagai media massa ternama. Hampir 50 judul buku telah ditulisnya, sebagian besar menjadi rujukan berharga dan melahirkan terminologi populer di kalangan praktisi pemasaran, seperti “Marketing in Venus”, “Crowd, Marketing Becomes Horizontal”, “Consumer 3000”, dan “Womanology, The Art of Marketing to Woman”.
Tulisan-tulisannya seputar bisnis dan pemasaran tersebar di berbagai media massa ternama. Hampir 50 judul buku telah ditulisnya, sebagian besar menjadi rujukan berharga dan melahirkan terminologi populer di kalangan praktisi pemasaran, seperti “Marketing in Venus”, “Crowd, Marketing Becomes Horizontal”, “Consumer 3000”, dan “Womanology, The Art of Marketing to Woman”.
Tuesday, October 8, 2013
Maribeth Pascua: 100 Persen Cinta Indonesia
Masih ingat lagu Denpasar Moon? Lagu yang sempat hits di awal tahun 1990an ini memang cukup legendaris di kalangan generasi pada masa itu. Sang penyanyi, Maribeth Pascua bahkan jatuh cinta dengan Indonesia berkat lagu tersebut. Nama Maribeth memang sangat tenar karena lagu Denpasar Moon meledak di pasar musik Indonesia dua puluh dua tahun yang lalu. Ketika berbincang dengan Kabare beberapa waktu lalu, Maribeth banyak menceritakan pengalamannya tinggal di Indonesia selama hampir 22 tahun lamanya. Tak hanya itu, Maribeth bahkan mengungkapkan kecintaannya terhadap Indonesia melebihi apapun. Keinginannya juga ingin menghabiskan akhir hayatnya di Nusantara ini.
Wednesday, October 2, 2013
Jessica Uekermann: Betah Tinggal di Jogja
Bekerja di industri hospitality membuat Jessica seringkali merasakan tinggal di berbagai negara dalam jangka waktu tertentu. Begitu pula ketika dirinya ditugaskan di sebagai General Manager di Novotel Hotel Yogyakarta. Jessica mengaku banyak sekali mendapatkan wawasan mengenai budaya serta adat istiadat Jawa yang begitu kental di Jogja. “Saya sangat senang mendapatkan kesempatran berada di Kota Jogja. Saya merasa memiliki keluarga baru dan beruntung sekali bisa mengetahui keunikan budaya dan nilai historis yang ada dalam tradisi Jawa,” ungkap wanita asal Jerman ini kepada Kabare.
Jessica yang sudah menjabat sebagai GM Hotel Novotel Yogyakarta sejak Oktober 2011 lalu ini mengatakan bahwa dirinya selalu merasa antusias dalam membuat berbagai program dan promosi untuk meningkatkan okupansi hotelnya. Sebelum bertugas di Novotel Yogyakarta, dirinya telah memiliki pengalaman mengelola dua hotel di Asia dalam beberapa tahun terakhir seperti Ibis Arcadia Jakarta dan Mercure Hue Herbera Vietnam.
Jessica yang sudah menjabat sebagai GM Hotel Novotel Yogyakarta sejak Oktober 2011 lalu ini mengatakan bahwa dirinya selalu merasa antusias dalam membuat berbagai program dan promosi untuk meningkatkan okupansi hotelnya. Sebelum bertugas di Novotel Yogyakarta, dirinya telah memiliki pengalaman mengelola dua hotel di Asia dalam beberapa tahun terakhir seperti Ibis Arcadia Jakarta dan Mercure Hue Herbera Vietnam.
Teks: Della Yuanita; Foto : Albert
Monday, September 23, 2013
Muhammad Isa Ismail Rauf: Pariwisata Indonesia Harus Punya Cahaya
Dalam sepuluh tahun terakhir, fenomena industry pariwisata di Indonesia seperti layaknya air bah yang tidak dapat dibendung lagi. Secara ekonomi hal ini sangat bagus, namun yang terpenting adalah kesiapan stake holder secara keseluruhan. “Pariwisata kita harus punya sign (cahaya), sehingga orang menjadi tertarik untuk kesini,” kata Muhammad Isa Ismaul Rauf, General Manager Mesa Stila Hotel dan Resort.
Cukup kenyang makan asam garam di dunia perhotelan, alumnus Victoria University Australia ini mengungkapkan tantangan terbesar bekerja di industry pariwisata adalah bagaimana dapat memberikan kontribusi bukan hanya kepada local tapi kepada dunia. Merasa punya tanggung jawab akan property yang dikelolanya, menorehkan banyak kesan dalam dirinya. Bagi Isa, sense of challenge harus ada. Untuk itulah ia sangat bangga manakala bisa menjadikan sebuah property yang tidak banyak dikenal kemudian menjadi sangat terkenal bahkan leading akibat dari campur tangannya. “Saya berguna belum buat orang lain, kalau belum berguna, nggak ada gunanya,” demikian pedoman hidup Isa.
Demikian halnya saat dipercaya memimpin Mesa Stila, Isa berharap dengan memberikan misi pelayanan secara wellness destination, yakni level terakhir dari mice traveler dapat mengedukasi kepada masyarakat akan pentingnya smart traveling yakni bagaimana agar mereka lebih mengerti tentang makna liburan sehingga dapat memilih destinasi liburan yang tepat.
Cukup kenyang makan asam garam di dunia perhotelan, alumnus Victoria University Australia ini mengungkapkan tantangan terbesar bekerja di industry pariwisata adalah bagaimana dapat memberikan kontribusi bukan hanya kepada local tapi kepada dunia. Merasa punya tanggung jawab akan property yang dikelolanya, menorehkan banyak kesan dalam dirinya. Bagi Isa, sense of challenge harus ada. Untuk itulah ia sangat bangga manakala bisa menjadikan sebuah property yang tidak banyak dikenal kemudian menjadi sangat terkenal bahkan leading akibat dari campur tangannya. “Saya berguna belum buat orang lain, kalau belum berguna, nggak ada gunanya,” demikian pedoman hidup Isa.
Demikian halnya saat dipercaya memimpin Mesa Stila, Isa berharap dengan memberikan misi pelayanan secara wellness destination, yakni level terakhir dari mice traveler dapat mengedukasi kepada masyarakat akan pentingnya smart traveling yakni bagaimana agar mereka lebih mengerti tentang makna liburan sehingga dapat memilih destinasi liburan yang tepat.
Teks: Anis RN
Thursday, September 12, 2013
Musa Widyatmodjo: Motif Batik Inspirasi Para Desainer
Motif batik memiliki jiwa, yang membuat kain tersebut menjadi suatu mahakarya yang sangat berharga dan bernilai tinggi. Hal ini diungkapkan oleh salah satu desainer kondang Indonesia Musa Widyatmodjo saat acara Launching Ecobatik Signature Collection. Pria kelahiran Jakarta 13 November ini selalu menjadikan batik sebagai sumber inspirasinya untuk merancang sebuah desain busana. “Motif batik tidak hanya sekedar gambar yang dibuat oleh sang penciptanya tetapi memiliki banyak arti dan filosofi dari perjalanan sebuah kehidupan,” ujar Musa kepada Kabare.
Adanya batik sebetulnya merupakan karunia bagi para desainer Indonesia untuk menciptakan sebuah desain yang memiliki ciri khas tersendiri dan ini yang merupakan syarat utama untuk bisa dikenal di seluruh dunia. Oleh karena itu dalam acara Launching Ecobatik Signature Collection, Musa menciptakan rancangan busana pria yang terdiri dari aksen dan motif batik yang unik. Apa yang dilakukan Musa juga mendapat dukungan dari banyak pihak. Dalam acara tersebut, Musa bekerjasama dengan para pengrajin batik UKM binaan CBI dari berbagai daerah di Jawa Tengah.
Adanya batik sebetulnya merupakan karunia bagi para desainer Indonesia untuk menciptakan sebuah desain yang memiliki ciri khas tersendiri dan ini yang merupakan syarat utama untuk bisa dikenal di seluruh dunia. Oleh karena itu dalam acara Launching Ecobatik Signature Collection, Musa menciptakan rancangan busana pria yang terdiri dari aksen dan motif batik yang unik. Apa yang dilakukan Musa juga mendapat dukungan dari banyak pihak. Dalam acara tersebut, Musa bekerjasama dengan para pengrajin batik UKM binaan CBI dari berbagai daerah di Jawa Tengah.
Teks & Foto: Herlan
Monday, September 2, 2013
Shinta, SPd, Msi, MA: Menggugah Diri untuk Masyarakat
Apalah artinya memiliki ilmu, tanpa ada kegunaan yang dapat dirasakan masyarakat luas. Setidaknya itulah yang pernah membuncah di pikiran ibu muda bernama Shinta ini. Karena itu, dengan segala ilmu yang diperolehnya dari bangku pendidikan, Shinta kemudian berbagi ilmunya dengan masyarakat. Belakangan ia mendirikan sebuah lembaga yang dinamakan Bunda Cinta Parenting Center. Sebuah lembaga di Jogja yang memberikan pendidikan bagi para orangtua tentang bagaimana mendidik anak secara benar.
Sewaktu kuliah, Ibu kelahiran 9 Februari 1975 ini memang tercatat sebagai lulusan terbaik dan tercepat di almamaternya, UGM. Selepas itu, Shinta bekerja sebagai pengajar di beberapa universitas swasta di Jogja. “Sampai pada satu titik, saya kemudian merasa kurang puas dengan apa yang saya kerjakan. Sebab ilmu yang saya dapat di bangku pendidikan tak sepenuhnya dapat saya tuangkan, dan manfaatnya tidak dapat dirasakan masyarakat banyak.” Itulah sebabnya, Shinta kemudian menggugah diri untuk berbuat sesuatu untuk masyarakat, sampai akhirnya tercipta satu lembaga psikologi tersebut.
“Saya pun mengajak teman-teman yang seperti saya ini, untuk mau bangun dan bergerak. Sebab, ternyata masyarakat itu banyak yang membutuhkan tenaga dan ilmu kita. Begitu banyak masalah pada anak yang ternyata pangkalnya bermula dari masalah orangtua sendiri. Namun orangtua tidak pernah menyadarinya. Yang justru disadarinya adalah masalah-masalah yang terjadi pada anak,” katanya.
Menurutnya, Bunda Cinta Parenting Center ia dirikan sebagai sebuah lembaga yang memberikan pendidikan dan pengetahuan seputar anak. Bagaimana mendidik mereka dengan baik, bagaimana memahami mereka, dan menjadi orangtua yang baik bagi anak. Disadari atau tidak, ternyata masyarakat membutuhkan lembaga-lembaga seperti ini.
Sewaktu kuliah, Ibu kelahiran 9 Februari 1975 ini memang tercatat sebagai lulusan terbaik dan tercepat di almamaternya, UGM. Selepas itu, Shinta bekerja sebagai pengajar di beberapa universitas swasta di Jogja. “Sampai pada satu titik, saya kemudian merasa kurang puas dengan apa yang saya kerjakan. Sebab ilmu yang saya dapat di bangku pendidikan tak sepenuhnya dapat saya tuangkan, dan manfaatnya tidak dapat dirasakan masyarakat banyak.” Itulah sebabnya, Shinta kemudian menggugah diri untuk berbuat sesuatu untuk masyarakat, sampai akhirnya tercipta satu lembaga psikologi tersebut.
“Saya pun mengajak teman-teman yang seperti saya ini, untuk mau bangun dan bergerak. Sebab, ternyata masyarakat itu banyak yang membutuhkan tenaga dan ilmu kita. Begitu banyak masalah pada anak yang ternyata pangkalnya bermula dari masalah orangtua sendiri. Namun orangtua tidak pernah menyadarinya. Yang justru disadarinya adalah masalah-masalah yang terjadi pada anak,” katanya.
Menurutnya, Bunda Cinta Parenting Center ia dirikan sebagai sebuah lembaga yang memberikan pendidikan dan pengetahuan seputar anak. Bagaimana mendidik mereka dengan baik, bagaimana memahami mereka, dan menjadi orangtua yang baik bagi anak. Disadari atau tidak, ternyata masyarakat membutuhkan lembaga-lembaga seperti ini.
Teks: FA Herru
Saturday, August 31, 2013
Felix Loho: Jogja Kota yang Unik
Sebagai salah satu bank milik pemerintah yang terbesar di Indonesia, Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang mempunyai tagline “Melayani Dengan Sepenuh Hati” ini mempunyai visi untuk mengutamakan kepuasan nasabah. “Acara ini untuk mengukur kualitas layanan ke nasabah. Untuk menghargai nasabah dan memberikan informasi yg update,” ungkap Felix Loho, Head of Product Development Priority Banking Department BRI, dalam acara BRI Prioritas ‘Living in Harmony’ di Ruang Gadri, Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, 14 Juni 2013 lalu.
Sebagai kepala bagian pengembangan bisnis, ia bertugas untuk mengembangkan produk-produk BRI, layanan, dan privilege. Hal tersebut juga mengharuskannya untuk keluar kota dalam mengembangkan bisnis-bisnis BRI. Salah satu kota yang disinggahinya adalah Jogja.
Felix mengaku tidak begitu sering ke Jogja, namun dia menilai bahwa Jogja kota yang unik. “Jogja pasti kotanya unik karena saya suka sekali dengan hal-hal yang ada unsur sejarahnya. Kaya tadi saya datang ke hotel saya masuk ke dalam Museum (Royal Ambarrukmo),” jelasnya kepada Kabare. Selain itu, menurut Felix keunikan Jogja sangat terlihat dengan unsure-unsur budaya dan sakralnya yang begitu ketara. “Mungkin kota lain belum punya unsur yg seperti itu,” ujarnya menambahkan.
Sebagai kepala bagian pengembangan bisnis, ia bertugas untuk mengembangkan produk-produk BRI, layanan, dan privilege. Hal tersebut juga mengharuskannya untuk keluar kota dalam mengembangkan bisnis-bisnis BRI. Salah satu kota yang disinggahinya adalah Jogja.
Felix mengaku tidak begitu sering ke Jogja, namun dia menilai bahwa Jogja kota yang unik. “Jogja pasti kotanya unik karena saya suka sekali dengan hal-hal yang ada unsur sejarahnya. Kaya tadi saya datang ke hotel saya masuk ke dalam Museum (Royal Ambarrukmo),” jelasnya kepada Kabare. Selain itu, menurut Felix keunikan Jogja sangat terlihat dengan unsure-unsur budaya dan sakralnya yang begitu ketara. “Mungkin kota lain belum punya unsur yg seperti itu,” ujarnya menambahkan.
Teks: Veronika Sekar; Foto: Albert.
Monday, August 26, 2013
Prof. Peter Carey: Melengkapi Kepincangan
Indonesia, baginya adalah rumah kedua. Di sinilah pria berkewarganegaraan Inggris ini menemukan satu sisi hidup yang dianggapnya sangat penting bagi kehidupannya. Tradisi dan budaya timur yang banyak dipahaminya di Indonesia, mengajari pria kelahiran Burma (Myanmar) ini mengerti akan kehidupan spiritual.
Pria bernama lengkap Peter Brian Ramsey Carey ini dikenal sebagai seorang sejarawan. Ia memang telah lama mengenal Indonesia. Di tahun 1970, Peter Carey dating ke Indonesia untuk menyelesaikan thesisnya. “Saat itu saya dating pertama kali ke Palembang untuk belajar bahasa Indonesia. Waktu saya dari S1 mau ke S2 dan S3, saya memang disarankan untuk ambil kebijakan di areal Asia Tenggara khusus pulau Jawa, untuk membuat judul skripsi mengenai zaman Raffles dan Daendels,” katanya, menceritakan awal mula ia mengenal Indonesia.
Akunya, di saat menyelesaikan tugasnya itu, Peter lantas mengenal sosok Diponegoro, seorang pangeran yang masuk daftar pahlawan bagi bangsa Indonesia. Kemuudian, Peter juga serius membuat penelitian tentang sosok Pangeran Diponegoro hingga akhirnya berujung menjadi sebuah buku.
Bukan hanya sehubungan dengan penelitian thesisnya saja Peter Carey menjejakkan kaki di Indonesia. Sejak ia mengambil pensiun muda dari Oxford sebagai dosen di Trinity College pada Oktober 2008, Peter lantas dating lagi ke Indonesia dalam rangka menjadi country director dan project director Cambodia Trust, sebuah yayasan yang bergerak memperjuangkan hak-hak orang cacat. Di samping itu, ia juga menjadi asisten profesor di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.
Memang bukanlah sejarah yang singkat Peter Carey mengenal Indonesia. Selama bersinggungan dengan budaya ketimuran, Peter Carey mengaku mendapatkan “roti hidup” dari Indonesia, khususnya saat mendalami budaya Jawa, terlebih di kala ia mendalami penelitiannya tentang sosok Diponegoro.
“Boleh dikatakan waktu saya pergi sebagai anak muda dari Oxford ke Amerika, saya dibuka dengan wawasan politik, di mana saya mulai mengerti dunia luar. Dan waktu saya datang ke Indonesia, saya seperti ada pikiran yang agak aneh. Saya merasa seperti pulang ke rumah sendiri. Dan ini pembukaan saya secara batin,” akunya.
Di Indonesia, Peter Carey mengaku mulai mengenal dan bersinggungan dengan kehidupan spiritual atau batiniah. Selama ini dia hanya mengenal kehidupan lahiriah yang didapatnya dari kehidupan di Barat, di mana semua diukur dari logika. “Pemahaman hidup di Barat, everything is very logical. Jadi saya betul-betul berkembang diIndonesia. Bukan gagasan politik atau ilmiah, tapi gagasan dengan penyentuhan dunia spiritual. Dunia yang melengkapi sesuatu yang instan di Barat,” tambahnya.
Wawasan batiniah warisan leluhur bangsa Indonesia, khususnya Jawa, menurutnya merupakan satu keunggulan budaya timur, kecerdasan manusia Jawa. Dan wawasan dan gagasan batiniah inilah yang menurutnya sangat penting bagi hidup, sebab manusia tidak hanya hidup dari roti duniawi, tapi juga dari roti spiritual.
"Jadi kita bukan hanya orang yang berorientasi pada materi atau hanya hidup dari suatu karier, tapi sejatinya ada inner life yang sebenarnya harus diberi makanan juga agar berkembang. Wawasan dan gagasan batiniah, seperti filsafat hidup orang Jawa, itu melengkapi gagasan saya untuk dapat lebih mengerti hidup dan apa tegesipun hidup. Dari ini, kita punya kesempatan dalam satu hidup untuk pencerahan. Melengkapi pemahaman logika atau hidup yang logis dengan wawasan spiritual. Semua agar hidup menjadi lengkap dan tidak pincang,” pungkasnya.
Pria bernama lengkap Peter Brian Ramsey Carey ini dikenal sebagai seorang sejarawan. Ia memang telah lama mengenal Indonesia. Di tahun 1970, Peter Carey dating ke Indonesia untuk menyelesaikan thesisnya. “Saat itu saya dating pertama kali ke Palembang untuk belajar bahasa Indonesia. Waktu saya dari S1 mau ke S2 dan S3, saya memang disarankan untuk ambil kebijakan di areal Asia Tenggara khusus pulau Jawa, untuk membuat judul skripsi mengenai zaman Raffles dan Daendels,” katanya, menceritakan awal mula ia mengenal Indonesia.
Akunya, di saat menyelesaikan tugasnya itu, Peter lantas mengenal sosok Diponegoro, seorang pangeran yang masuk daftar pahlawan bagi bangsa Indonesia. Kemuudian, Peter juga serius membuat penelitian tentang sosok Pangeran Diponegoro hingga akhirnya berujung menjadi sebuah buku.
Bukan hanya sehubungan dengan penelitian thesisnya saja Peter Carey menjejakkan kaki di Indonesia. Sejak ia mengambil pensiun muda dari Oxford sebagai dosen di Trinity College pada Oktober 2008, Peter lantas dating lagi ke Indonesia dalam rangka menjadi country director dan project director Cambodia Trust, sebuah yayasan yang bergerak memperjuangkan hak-hak orang cacat. Di samping itu, ia juga menjadi asisten profesor di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.
Memang bukanlah sejarah yang singkat Peter Carey mengenal Indonesia. Selama bersinggungan dengan budaya ketimuran, Peter Carey mengaku mendapatkan “roti hidup” dari Indonesia, khususnya saat mendalami budaya Jawa, terlebih di kala ia mendalami penelitiannya tentang sosok Diponegoro.
“Boleh dikatakan waktu saya pergi sebagai anak muda dari Oxford ke Amerika, saya dibuka dengan wawasan politik, di mana saya mulai mengerti dunia luar. Dan waktu saya datang ke Indonesia, saya seperti ada pikiran yang agak aneh. Saya merasa seperti pulang ke rumah sendiri. Dan ini pembukaan saya secara batin,” akunya.
Di Indonesia, Peter Carey mengaku mulai mengenal dan bersinggungan dengan kehidupan spiritual atau batiniah. Selama ini dia hanya mengenal kehidupan lahiriah yang didapatnya dari kehidupan di Barat, di mana semua diukur dari logika. “Pemahaman hidup di Barat, everything is very logical. Jadi saya betul-betul berkembang diIndonesia. Bukan gagasan politik atau ilmiah, tapi gagasan dengan penyentuhan dunia spiritual. Dunia yang melengkapi sesuatu yang instan di Barat,” tambahnya.
Wawasan batiniah warisan leluhur bangsa Indonesia, khususnya Jawa, menurutnya merupakan satu keunggulan budaya timur, kecerdasan manusia Jawa. Dan wawasan dan gagasan batiniah inilah yang menurutnya sangat penting bagi hidup, sebab manusia tidak hanya hidup dari roti duniawi, tapi juga dari roti spiritual.
"Jadi kita bukan hanya orang yang berorientasi pada materi atau hanya hidup dari suatu karier, tapi sejatinya ada inner life yang sebenarnya harus diberi makanan juga agar berkembang. Wawasan dan gagasan batiniah, seperti filsafat hidup orang Jawa, itu melengkapi gagasan saya untuk dapat lebih mengerti hidup dan apa tegesipun hidup. Dari ini, kita punya kesempatan dalam satu hidup untuk pencerahan. Melengkapi pemahaman logika atau hidup yang logis dengan wawasan spiritual. Semua agar hidup menjadi lengkap dan tidak pincang,” pungkasnya.
Teks: FA Herru; Foto: Albert
Rudy Hadisuwarno: Perjalanan Sang Maestro

Sang maestro, telah tersemat pada sosok Rudy Hadisuwarno. Ia memang telah menjadi ikon tersendiri di dunia salon dan tata rambut di negeri ini. Puluhan tahun menjalani dunianya ini hingga akhirnya berhasil mengembangkan usaha dan kemampuan diri, sukses memang layak menjadi hak miliknya. Di kala telah mendapatkan itu, lantas hal apakah yang dapat diserap Rudy dari perjalanannya selama ini?
Sosok Rudy Hadisuwarno dikenal tidak hanya sebagai penata rambut professional. Tapi ia juga dikenal sebagai pengajar dan pengembang jaringan lembaga pendidikan tata rambut, serta pembuat produk kosmetika rambut. Salon yang mengambil nama dirinya telah tersebar di setiap sudut kota di seluruh Indonesia. Ia pun rasanya pantas dinamai maha guru tata rambut dan juga pengusaha hebat di bidangnya.
Semua sandangan nama yang layak baginya itu, tentu tak didapatnya dengan mudah dan cepat. Pastinya ada awal, kreativitas dan kemampuan mengembangkan, serta kesabaran, atau hal-hal lain yang musti dilalui untuk dapat memetik buah keberhasilan. Baginya, semua itu adalah proses yang butuh waktu. Sejak mula, ia pun tak memusingkan kendala, rintangan dan hal-hal lain yang bakal dilaluinya selama menjalankannya. Dan apa yang telah dicapainya saat ini adalah buah dari kesabaran dan kerjanya.
Rudy Hadisuwarno lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 64 tahun yang lalu. Ia mengawali karier di dunia salon dan tata rambut sejak tahun 1968 di Jakarta, terdorong oleh keadaan ekonomi keluarga serta pekerjaan sang ibunda yang memang pernah membuka usaha salon di rumahnya.
“Waktu itu saya selesai SMA, dan ekonomi sedang sulit sekali. Saya ingin melanjutkan pendidikan tapi tidak punya biaya untuk kuliah. Jadi akhirnya, saya harus mencari jalan supaya mendapatkan uang dan bisa kuliah. Saya lalu buka salon di rumah. Karena paling tidak, dari kecil saya sudah tau dunia salon dari ibu. Pikiran saya waktu itu, usaha ini bisa disambi sekolah, tidak harus full time,” cerita putra tertua empat bersaudara dari pasangan Iskandar dan Tresna Lestari ini.
Selagi menunggu saat-saat masuk kuliah, Rudy menyempatkan kursus pada seorang penata rambut di daerah Blok M selama satu tahun. Selang tiga tahun berjalan, salon perdana Rudy yang tanpa nama di bilangan Roxy, Jakarta Barat, tepat di gang buntu, bertambah maju. Rudy pun dilematis antara terus kuliah atau bekerja, hingga akhirnya pilihan kedua dipilihnya.
Ia berhenti kuliah dan menerusakan menjalankan usaha salonnya. Hasil yang didapatnya waktu itu lumayan. Ia bisa membantu biaya sekolah adik-adiknya serta bisa membuatnya pergi ke Inggris untuk belajar lebih lanjut mengenai tata rambut. Selama enam bulan di Inngris, Rudy belajar di dua institusi pendidikan terbaik di sana.
Sepulang dari Inggris dan melanjutkan usahanya, di saat itu pulalah usaha yang dirintisnya melaju pesat. Dalam perjalanannya, ia membuka kursus pelatihan, membuka cabang pertamanya di Duta Merlin, shopping center paling mewah waktu itu dengan nama salon persis seperti namanya. Nama Rudy Hadisuwarno lantas semakin dikenal dengan kreasi-kreasi tata rambut yang modern. Apalagi di saat ia dapat menangani tata rambut para model, bintang film, dan orang-orang kaya ketika itu. Bahkan, Rudy dapat lanjut mempertajam keahliannya di Tokyo, Paris, dan San Fransisco.
Di tahun 1977, Rudy Hadisuwarno berhasil mendapat pengakuan internasional pertama atas kreasi-kreasi tata rambutnya. Ia diangkat menjadi anggota Intercoiffure, perhimpunan ahli-ahli tata rambut professional sedunia yang berpusat di Paris. Pengakuan internasional yang didapat di tahun-tahun selanjutnya, ia juga menjadi salah satu anggota Comité Artistique de la Coiffure Française (CACF), suatu wadah organisasi di Paris bagi para penata rambut dengan reputasi tinggi.
Kemudian, memperoleh Medaille de Chevalier de la Chevalerie Intercoiffure Mondial, suatu penghargaan terhormat untuk kontribusinya mengembangkan profesi tata rambut di dunia dari ICD Mondial. Penghargaan World Master of the Craft Award dari The Art & Fashion Group International, sebuah wadah organisasi dunia dalam bidang tata rambut yang berpusat di New York, juga didapatnya dan berbagai penghargaan lainnya.
Tak hanya dari luar negeri. Di Indonesia pun Rudy Hadisuwarno mendapat penghargaan dari Departemen Pendidikan dan Kebudyaan, dan Satya Lencana Pembangunan dari Presiden Soeharto atas kiprahnya mengembangkan pendidikan luar sekolah.
“Belakangan, saya ikut juga mendirikan satu yayasan yang pusatnya di Paris untuk memberikan pendidikan, sponsor buat anak-anak mudaya untuk belajar tata rambut. Jadi menyekolahkan anak muda ke Paris, bukan hanya untuk belajar rambut, tapi juga budaya mengenai rambut secara internasional. Saat ini saya menjabat sebagai wakil ketua untuk organisasi ini se-Asia,” ujarnya. Kini pula, Rudy Hadisuwarno telah berhasil menjalankan dan mengembangkan bisnis salonnya melalui Rudy Hadisuwarno Organization (RHO) yang mengelola 140 outlet yang terdiri dari salon, sekolah kecantikan, spa dan kosmetika, di seluruh Indonesia.
Begitulah sang waktu membawa Rudy. Kerja keras, kegigihan dan keinginannya untuk terus berkembang, akhirnya berbuah demikian. Tak terhitung rasanya kontribusi yang diberikannya pada perkembangan dunia tata rambut di tanah air. Namun demikian, ia tak pernah berhenti berkarya. Terus mengembangkan usahanya dan terutama mau berbagi pada orang lain
Di usianya yang tak lagi muda, Rudy memang tidak lagi terjun secara langsung mengurus usahanya. Ia tentu saja melakukan regenerasi kepada para keponakannya. Dan di saat-saat sekarang inilah, Rudy Hadisuwarno justru lebih mengedepankan kegiatan untuk berbagi ilmu. Berkali-kali ia keliling Indonesia untuk mengajarkan sesuatu perihal rambut kepada masyarakat, seperti melalui seminar-seminar.
“Kalau kita bicara mengenai kehidupan, untuk hidup yang dikatakan berhasil dan membawakan kebahagiaan, kedamaian, itu tidak cukup sukses di karier saja. Terkenal saja tidak cukup. Tapi yang penting, dengan reputasi nama yang kita miliki, sudah seharusnya kita berbagi kepada orang lain. Bagaimana pengetahuan yang saya miliki dibagikan kepada masyarakat,” kata Rudy.
Seperti yang dikatakan Rudy, semakin banyak kita memberi kepada orang lain, semakin banyak juga kita mendpatkan rezeki. Hidup manusia memang seperti bejana yang isinya harus selalu dialirkan dan salurkan, supaya bejana itu tetap diisi dan selalu terjaga kepenuhannya.
“Kita ini sebenarnya mirip saluran. Bagikan apa yang kita punya, dan dengan sendirinya kita pun akan menerima. Bisa jadi misalnya mendapat visi-visi baru ataupun ide-ide baru. Karena manusia hidup tidak hanya kebutuhan fisik yang musti dipenuhi, emosionalnya pun harus ada kepuasan. Jadi, inilah kenapa di usia saya saat ini, saya mau capek-capek keliling Indonesia,” tuturnya, menutup.
Teks: FA Herru; Foto: Budi Prast
Wednesday, August 21, 2013
Emeraldo B. Parengkuan: Manajemen Lokal Mampu Bersaing dengan Asing
Pertumbuhan properti di Indonesia khususnya di bidang perhotelan akhir-akhir ini cukup signifikan. Seiring maraknya pertumbuhan tersebut, kebutuhan akan pengelolan managemen yang profesional pun semakin meningkat pula. Trend yang berkembang akhir-akhir ini, investor menyerahkan sepenuhnya property yang ia miliki untuk dikelola operator lain. Untuk mengelola sebuah properti kuncinya bukan hanya profesionalisme saja, namun harus dibekali dengan konsistensi agar properti yang dikelola semakin berkembang. Hal itu diungkapkan Emeraldo B.Parengkuan, Vice Director of Operations Metropolitan Golden Management yakni perusahaan operator hotel dan building management yang dipercaya mengelola brand Horison,@Hom dan Aziza.
Pria kelahiran Jakarta keturunan Manado ini cukup bangga dengan perusahaan tempatnya bernaung. Meski MGM merupakan management local namun mampu bersaing dengan internasional chance. Kemampuan tersebut didasari dengan penerapan standar MGM bagi staff yang akan bergabung. Melalui program service excellent, sebagai cikal bakal untuk memanage secara high service beyond expectation. Yakni service yang diberikan semua unit mampu melebihi standar service yang yang sudah dilakukan. “Bedanya management local dan internasional sebenarnya hanya dalam hal pengelolaannya saja, namun untuk service kita bisa bersaing,” ungkap Aldo.
Lulusan program Managing Director San Diego Amerika ini mengatakan,selama dipercaya sebagai operator building dirinya tidak banyak menemukan kesulitan. Kuncinya, mampu mengenali pangsa pasar termasuk juga dengan competitor, tahu selling point dari unit property, apa yang membedakan unit property ini dengan yang lain. Dan yang terpenting, selalu melakukan innovasi agar pasar tidak jenuh. ”Create something different-lah”,kata Aldo.
Pria kelahiran Jakarta keturunan Manado ini cukup bangga dengan perusahaan tempatnya bernaung. Meski MGM merupakan management local namun mampu bersaing dengan internasional chance. Kemampuan tersebut didasari dengan penerapan standar MGM bagi staff yang akan bergabung. Melalui program service excellent, sebagai cikal bakal untuk memanage secara high service beyond expectation. Yakni service yang diberikan semua unit mampu melebihi standar service yang yang sudah dilakukan. “Bedanya management local dan internasional sebenarnya hanya dalam hal pengelolaannya saja, namun untuk service kita bisa bersaing,” ungkap Aldo.
Lulusan program Managing Director San Diego Amerika ini mengatakan,selama dipercaya sebagai operator building dirinya tidak banyak menemukan kesulitan. Kuncinya, mampu mengenali pangsa pasar termasuk juga dengan competitor, tahu selling point dari unit property, apa yang membedakan unit property ini dengan yang lain. Dan yang terpenting, selalu melakukan innovasi agar pasar tidak jenuh. ”Create something different-lah”,kata Aldo.
Teks: Anis
Friday, August 16, 2013
I Ketut Mardjana: Berhasil Bangunkan Raksasa Tidur
Sepak terjang I Ketut Mardjana dalam mengembangkan PT. Pos Indonesia dapat dibilang cukup membanggakan. Meski harus berakrobat agar perseroannya dapat mencetak laba, namun kini dirinya dan seluruh anak buah yang ada di dalam PT. Pos Indonesia dapat menuai buah yang manis atas kerja keras mereka selama dua tahun lebih ini. Memang, sejak ada oknum petinggi PT. Pos yang terjerat kasus korupsi, sebagian pimpinan tak berani mengambil terobosan bisnis karena takut melakukan kesalahan. Pada akhirnya, hal ini membuat rasa percaya diri para pegawai kian menurun.
Ketika Ketut diberi amanah memegang kendali PT. Pos Indonesia pada Agustus 2009, dirinya punmenyiapkan sejumlah langkah revitalisasi termasuk memperbaiki infrastruktur perseroan. Ketut melakukan perbaikan infrastruktur secara fisik dan virtual. Perbaikan fisik dilakukan untuk mendongkrak citra perusahaan duantaranya dengan merenovasi gedung-gedung kantor pos yang kurang terawat. Tentunya, hal ini sengaja dilakukan untuk meningkatkan brand perusahaan sekaligus mengirim sinyal bahwa PT. Pos telah berubah warna menjadi kian modern dan dinamis. Upaya Ketut tak hanya sebatas tampilan fisik saja, namun juga infrastruktur teknologi informasi juga diperbaiki. Kini, semua kantor pos yang berjumlah lebih dari 3000 di Indonesia, kini terhubung dengan jaringan online.
“Sebenarnya saya mengembangkan PT. Pos dengan satu pola yakni bagaimana melibatkan para bawahan untuk terlibat memberikan kontribusi terhadap pengambilan suatu keputusan. Jadi semua kita berdayakan. Ini akan berlawanan dengan otoritatif manajemen style. Karena saya menganut patisipatif management, maka langkah-langkah saya memang banyak ke lapangan untuk melakukan berbagai sosialisasi internal dan eksternal,” ujar Ketut.
Ketut mengatakan bahwa awalnya banyak orang mengatakan bahwa PT. Pos adalah sunset industry seiring bermunculannya email. Namun dengan berjuang, memiliki visi, disiplin dan kerja keras, Ketut justru menjadikan tantangan tersebut sebagai motivasi untuk kembali bangkit menjadi sunrise industry. Pada akhirnya, pria kelahiran 18 Maret 1951 ini berhasilkan membangunkan raksasa tidur itu. Pada tahun 2008 tercatat kerugian perseroan mencapai Rp. 70. 749 miliar, namun di tangan Ketut perseroan langsung emncetak laba sebesar Rp. 98. 266 miliar dan tahun 2012 perseroan mencatat laba Rp. 212 miliar.
“Dalam mengembangkan PT. Pos, saya mengkomunikasikan tiga hal, yakni entrepreneurship spirit, business owner mentality dan behavior, serta transcommisioner leadership. Selain itu juga sikap sebagai entrepreneur kreatif, inovatif dan berani mengambil resiko juga saya pertahankan. Saya ingin membuat suatu sikap kepemimpinan yang selalu mendengungkan perubahan. Dan di situ harus ada keberanian dan semua elemen harus ikut terlibat,” papar pria yang terpilih menjadi CEO BUMN Pilihan Tempo 2012 ini kepada Kabare.
Untuk kedepannya, Ketut mengatakan bahwa BUMN yang dipimpinnya ini kini sedang bergerak dari postal company menuju network company. Jaringan bisnis yang diperluas akan membuat pergeseran menuju ke arah yang positif. PT. Pos juga membuka peluang bagi masyarakat umum yang ingin menjalin kemitraan bisnis dengan PT. Pos.
Ketika Ketut diberi amanah memegang kendali PT. Pos Indonesia pada Agustus 2009, dirinya punmenyiapkan sejumlah langkah revitalisasi termasuk memperbaiki infrastruktur perseroan. Ketut melakukan perbaikan infrastruktur secara fisik dan virtual. Perbaikan fisik dilakukan untuk mendongkrak citra perusahaan duantaranya dengan merenovasi gedung-gedung kantor pos yang kurang terawat. Tentunya, hal ini sengaja dilakukan untuk meningkatkan brand perusahaan sekaligus mengirim sinyal bahwa PT. Pos telah berubah warna menjadi kian modern dan dinamis. Upaya Ketut tak hanya sebatas tampilan fisik saja, namun juga infrastruktur teknologi informasi juga diperbaiki. Kini, semua kantor pos yang berjumlah lebih dari 3000 di Indonesia, kini terhubung dengan jaringan online.
“Sebenarnya saya mengembangkan PT. Pos dengan satu pola yakni bagaimana melibatkan para bawahan untuk terlibat memberikan kontribusi terhadap pengambilan suatu keputusan. Jadi semua kita berdayakan. Ini akan berlawanan dengan otoritatif manajemen style. Karena saya menganut patisipatif management, maka langkah-langkah saya memang banyak ke lapangan untuk melakukan berbagai sosialisasi internal dan eksternal,” ujar Ketut.
Ketut mengatakan bahwa awalnya banyak orang mengatakan bahwa PT. Pos adalah sunset industry seiring bermunculannya email. Namun dengan berjuang, memiliki visi, disiplin dan kerja keras, Ketut justru menjadikan tantangan tersebut sebagai motivasi untuk kembali bangkit menjadi sunrise industry. Pada akhirnya, pria kelahiran 18 Maret 1951 ini berhasilkan membangunkan raksasa tidur itu. Pada tahun 2008 tercatat kerugian perseroan mencapai Rp. 70. 749 miliar, namun di tangan Ketut perseroan langsung emncetak laba sebesar Rp. 98. 266 miliar dan tahun 2012 perseroan mencatat laba Rp. 212 miliar.
“Dalam mengembangkan PT. Pos, saya mengkomunikasikan tiga hal, yakni entrepreneurship spirit, business owner mentality dan behavior, serta transcommisioner leadership. Selain itu juga sikap sebagai entrepreneur kreatif, inovatif dan berani mengambil resiko juga saya pertahankan. Saya ingin membuat suatu sikap kepemimpinan yang selalu mendengungkan perubahan. Dan di situ harus ada keberanian dan semua elemen harus ikut terlibat,” papar pria yang terpilih menjadi CEO BUMN Pilihan Tempo 2012 ini kepada Kabare.
Untuk kedepannya, Ketut mengatakan bahwa BUMN yang dipimpinnya ini kini sedang bergerak dari postal company menuju network company. Jaringan bisnis yang diperluas akan membuat pergeseran menuju ke arah yang positif. PT. Pos juga membuka peluang bagi masyarakat umum yang ingin menjalin kemitraan bisnis dengan PT. Pos.
Teks: Della Yuanita ; Foto: Albert.
Wednesday, August 14, 2013
Trie Utami diantara Kain-Kain yang Bercerita
Lama tak terdengar kabarnya, bukan berarti kesibukan penyanyi mungil bersuara emas Trie Utami menjadi berkurang. Justru kesibukannya di berbagai bidang masih sangat menyita waktunya sebagai seorang penyanyi, dosen serta salah satu anggota dari masyarakat adat. Sosok yang dikenal sebagai penyanyi dan akrab disapa Iie ini bahkan dalam waktu dekat ini sedang menyiapkan sebuah project besar bersama Krakatau. Krakatau merupakan sebuah band beraliran jazz yang digawangi oleh Indra Lesmana, Dwiki Dharmawan, Gilang Ramadhan, Prabudi Dharma, Donny Suhendar dan Iie sendiri.
Iie mengatakan bahwa project ini berawal dari reuni, namun rupanya ini bukan sekadar reuni biasa. Tapi akhirnya Krakatau Band memutuskan untuk membuat album lagi karena rupanya respon dari penggemar sangat luar biasa. Sehingga akhirnya membuat album lagi bahkan tour keliling Indonesia untuk menyapa para penggemar setia mereka. Iie mengatakan bahwa Krakatau memang bukan sekadar ada, tapi harus hadir kembali di blantika musik tanah air.
Iie mengatakan bahwa project ini berawal dari reuni, namun rupanya ini bukan sekadar reuni biasa. Tapi akhirnya Krakatau Band memutuskan untuk membuat album lagi karena rupanya respon dari penggemar sangat luar biasa. Sehingga akhirnya membuat album lagi bahkan tour keliling Indonesia untuk menyapa para penggemar setia mereka. Iie mengatakan bahwa Krakatau memang bukan sekadar ada, tapi harus hadir kembali di blantika musik tanah air.
Sunday, August 11, 2013
Keizo Okue: Senang Produknya Disukai di Indonesia
Membawahi perusahaan yang bergerak di bidang otomotif membutuhkan kejelian. Kejelian itu bertujuan agar market yang akan dibidik sesuai dengan target. Meskipun produk yang ditawarkan sedikit berbeda dengan produk-produk sejenis, namun dengan kejelian maka akan tercipta market yang potensial.
Sejak dipercaya menjabat sebagai Presiden Direktur Mazda Motor Indonesia kurang lebih dua tahun ini Keizo Okue menyadari bahwa produk dibawah kepemimpinannya memiliki keunikan dibanding produk otomotif sejenis. Keunikan itulah yang membuat Okue yakin bahwa produknya memiliki market yang unik pula yakni mereka yang senang berkendara dan senang mengendarai kendaraan mereka. Terlebih jika mereka memiliki emosi kuat dengan apa yang mereka kendarai.
Ditemui disela-sela pembukan showroom Mazda Jogja, Okue mengungkapkan , visi yang ditanamkan MMI adalah memposisikan produk Mazda sebagai produk yang unik dan berada di kelas premium. “Premium bukan berarti mahal. Namun lebih berarti bahwa image dan harga sesuai dengan apa yang konsumen dapatkan,” tutut Okue.
Menurut pandangan Okue, Indonesia memiliki market yang cukup bagus untuk perkembangan bisnis otomotif. Sebagai contoh di Jakarta, banyak customer yang menyukai produknya karena premium positioning, model unik dan nyaman saat dikendarai. Okue yakin dibawah kepemimpinannya, produknya akan terus berkembang dan penjualan akan terus meningkat. “Dibanding brand Jepang lain, Mazda memang unik”, pungkas Okue.
Sejak dipercaya menjabat sebagai Presiden Direktur Mazda Motor Indonesia kurang lebih dua tahun ini Keizo Okue menyadari bahwa produk dibawah kepemimpinannya memiliki keunikan dibanding produk otomotif sejenis. Keunikan itulah yang membuat Okue yakin bahwa produknya memiliki market yang unik pula yakni mereka yang senang berkendara dan senang mengendarai kendaraan mereka. Terlebih jika mereka memiliki emosi kuat dengan apa yang mereka kendarai.
Ditemui disela-sela pembukan showroom Mazda Jogja, Okue mengungkapkan , visi yang ditanamkan MMI adalah memposisikan produk Mazda sebagai produk yang unik dan berada di kelas premium. “Premium bukan berarti mahal. Namun lebih berarti bahwa image dan harga sesuai dengan apa yang konsumen dapatkan,” tutut Okue.
Menurut pandangan Okue, Indonesia memiliki market yang cukup bagus untuk perkembangan bisnis otomotif. Sebagai contoh di Jakarta, banyak customer yang menyukai produknya karena premium positioning, model unik dan nyaman saat dikendarai. Okue yakin dibawah kepemimpinannya, produknya akan terus berkembang dan penjualan akan terus meningkat. “Dibanding brand Jepang lain, Mazda memang unik”, pungkas Okue.
Teks: Anis
Saturday, August 3, 2013
Ganjar Pranowo dan Siti Atikoh Supriyanti: Mengabdi Untuk Republik
Sosok Ganjar Pranowo kini menjadi perbincangan hangat. Sosok muda yang terjun di dunia politik ini beberapa waktu lalu terpilih dalam pemilihan calon gubernur Jawa Tengah. Semasa kecil, pria yang lahir di Karang Anyar, 28 Oktober 1968 ini dikenal sebagai pribadi yang cerdas, aktif berorganisasi dan memiliki rasa percaya diri. Maka tak heran jika kualitas Ganjar sebagai sosok yang cerdas mampu membawanya terpilih menjadi gubernur Jawa Tengah dengan masa periode 2013-2018. Kepada Kabare, Ganjar mengatakan bahwa tak pernah ada motivasi apapun untuk mencalonkan diri menjadi gubernur, namun dirinya hanya mengikuti penugasan dari partai.
Karier politik Ganjar memang semakin moncer manakala dirinya resmi bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) bersama Megwati Soekarno putri. Kegigihan dan keberaniannya untuk bersuara menjadikan reputasinya meningkat di kancah politik tanah air. Ganjar yang dulu bersekolah di SD dan SMP Kutoarjo Jawa Tengah serta menghabiskan masa SMA di BOPKRI 1 Yogyakarta ini dinilai sebagai politikus yang berprinsip. Penggemar musik rock semacam Dream Theather, Metallica dan Led Zeppelin ini pun dipercaya menduduki jabatan Wakil Ketua Komisi II untuk urusan dalam negeri hingga 2014 nanti, serta menjadi panitia angket pengusutan kasus Bank Century.
Karier politik Ganjar memang semakin moncer manakala dirinya resmi bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) bersama Megwati Soekarno putri. Kegigihan dan keberaniannya untuk bersuara menjadikan reputasinya meningkat di kancah politik tanah air. Ganjar yang dulu bersekolah di SD dan SMP Kutoarjo Jawa Tengah serta menghabiskan masa SMA di BOPKRI 1 Yogyakarta ini dinilai sebagai politikus yang berprinsip. Penggemar musik rock semacam Dream Theather, Metallica dan Led Zeppelin ini pun dipercaya menduduki jabatan Wakil Ketua Komisi II untuk urusan dalam negeri hingga 2014 nanti, serta menjadi panitia angket pengusutan kasus Bank Century.
Thursday, August 1, 2013
Caterina Hapsari: Batik Juga Bisa Modis
Batik tidak hanya sebuah kain yang hanya dapat digunakan untuk moment resmi dan dan selalu beraksen klasik atau kuno,tetapi menurut desainer muda yang lahir dan besar di Yogya ini, Batik adalah sebuah mahakarya bangsa yang memiliki nilai dan keunikan yang cukup tinggi.
Dari sebuah Batik kita bisa menciptakan berbagai macam inovasi-inovasi desain yang dapat bersaing dengan desain-desain para perancang dunia. Batik menurut Caterina Hapsari juga dapat dipakai dengan penampilan yang modist dan sexy,tetapi tidak meninggalkan keciriannya sebagai karya tradisional bangsa Indonesia.
Dengan desain yang lebih modist dan unik Batik dapat lebih diminati oleh para kaum muda dan remaja di Indonesia,dam itu merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan dan menyebarkan keunikan Budaya Batik Indonesia kepada banyak orang dan mungkin seluruh dunia serta seluruh lapisan masyarakat., tuturnya.
Dari kecil ia dibesarkan oleh keluarga yang mencintai dan mengagumi Batik,dan ini yang menjadikan batik sebagai sumber inspirasi utama dan dasar filosofi rancangannya.
Dari sebuah Batik kita bisa menciptakan berbagai macam inovasi-inovasi desain yang dapat bersaing dengan desain-desain para perancang dunia. Batik menurut Caterina Hapsari juga dapat dipakai dengan penampilan yang modist dan sexy,tetapi tidak meninggalkan keciriannya sebagai karya tradisional bangsa Indonesia.
Dengan desain yang lebih modist dan unik Batik dapat lebih diminati oleh para kaum muda dan remaja di Indonesia,dam itu merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan dan menyebarkan keunikan Budaya Batik Indonesia kepada banyak orang dan mungkin seluruh dunia serta seluruh lapisan masyarakat., tuturnya.
Dari kecil ia dibesarkan oleh keluarga yang mencintai dan mengagumi Batik,dan ini yang menjadikan batik sebagai sumber inspirasi utama dan dasar filosofi rancangannya.
Teks & Foto: Herlan
Saturday, July 27, 2013
Farida Fusiawati: Nikmati Dunia Bisnis
Melabuhkan hidupnya di dunia bisnis bukanlah impiannya sejak mula. Ia merasa tak punya kemampuan untuk untuk menetapkan lakunya di sana, di saat orangtua memintanya untuk membantu mereka mengurus usaha. Namun perjalanan hidup ke depan siapa yang bisa menebak. Kini, ibu yang satu ini justru keasyikan bermain di dunia itu.
Alumnus Universitas Islam Indonesia ini kini tampak amat menikmati pekerjaannya. Ia seolah lupa dengan apa yang dirasakannya dulu. Sebaliknya, ia pun sekarang justru merasa seolah 24 jam kurang untuk mengurus bisnis-bisnisnya. Beberapa bidang bisnis atau usaha, seperti restoran, toko oleh-oleh, SPBU, produksi makanan khas Jogja, juga pabrik penyuplai kedai-kedai es teler untuk wilayah Jogja, Jateng, Jatim, hingga Bali, telah dijalankannya bersama suaminya. Karena warga Jogja, kebanyakan bisnis yang dijalankan berada di Jogja.
“Memang dulu saya justru ingin bekerja sebagai pegawai kantoran. Tidak ada niatan berbisnis, dan orangtua saya yang menganjurkan saya membantu bisnisnya, selalu saya tolak, saya mentahkan. Tapi di kala saya benar-benar harus membantu pekerjaan orangtua, lama-lama saya mengetahui bahwa ada sesuatu yang memang tidak bisa diurus orang lain,” ujar pebisnis asal Jogja ini.
Seiring waktu berjalan, akhirnya Farida justru dapat memulai bisnis-bisnis baru yang dipegangnya hingga kini. “Lama-lama saya sendiri akhirnya dapat merasa enjoy juga berbisnis. Mungkin saja ini karena saya kualat sama orangtua saya karena dulu ngeyel pada mereka,” lanjutnya, sembari bergurau.
Farida saat ini telah dapat melebarkan sayap bisnisnya ke beberapa bidang. Yang terbaru saat ini, ia bersama suami sedang membangun sebuah hotel berbintang tiga di daerah Pojok Benteng Wetan, Jogja. Menurutnya, bidang usaha hospitality di Jogja sampai saat ini masih sangat diperlukan. Mengingat Jogja selalu dipenuhi wisatawan, terlebih di waktu-waktu liburan. Dengan usaha yang sedang dalam proses pembangunan ini, ia memang ingin meramaikan perindustrian pariwisata di Jogja. “Agar kepariwisataan Jogja semakin tidak ada matinya,” Katanya, mengakhiri.
Alumnus Universitas Islam Indonesia ini kini tampak amat menikmati pekerjaannya. Ia seolah lupa dengan apa yang dirasakannya dulu. Sebaliknya, ia pun sekarang justru merasa seolah 24 jam kurang untuk mengurus bisnis-bisnisnya. Beberapa bidang bisnis atau usaha, seperti restoran, toko oleh-oleh, SPBU, produksi makanan khas Jogja, juga pabrik penyuplai kedai-kedai es teler untuk wilayah Jogja, Jateng, Jatim, hingga Bali, telah dijalankannya bersama suaminya. Karena warga Jogja, kebanyakan bisnis yang dijalankan berada di Jogja.
“Memang dulu saya justru ingin bekerja sebagai pegawai kantoran. Tidak ada niatan berbisnis, dan orangtua saya yang menganjurkan saya membantu bisnisnya, selalu saya tolak, saya mentahkan. Tapi di kala saya benar-benar harus membantu pekerjaan orangtua, lama-lama saya mengetahui bahwa ada sesuatu yang memang tidak bisa diurus orang lain,” ujar pebisnis asal Jogja ini.
Seiring waktu berjalan, akhirnya Farida justru dapat memulai bisnis-bisnis baru yang dipegangnya hingga kini. “Lama-lama saya sendiri akhirnya dapat merasa enjoy juga berbisnis. Mungkin saja ini karena saya kualat sama orangtua saya karena dulu ngeyel pada mereka,” lanjutnya, sembari bergurau.
Farida saat ini telah dapat melebarkan sayap bisnisnya ke beberapa bidang. Yang terbaru saat ini, ia bersama suami sedang membangun sebuah hotel berbintang tiga di daerah Pojok Benteng Wetan, Jogja. Menurutnya, bidang usaha hospitality di Jogja sampai saat ini masih sangat diperlukan. Mengingat Jogja selalu dipenuhi wisatawan, terlebih di waktu-waktu liburan. Dengan usaha yang sedang dalam proses pembangunan ini, ia memang ingin meramaikan perindustrian pariwisata di Jogja. “Agar kepariwisataan Jogja semakin tidak ada matinya,” Katanya, mengakhiri.
Teks: FA Herru.
Friday, July 26, 2013
Lita Sutjipto: Cinta Tanah Air, Cinta Produk Dalam Negeri

Arti dari cinta tanah air adalah cinta kepada bangsa dan negara tempat di mana kita dilahirkan, dibesarkan, dan memperoleh kehidupan di dalamnya. Karena dari negara kita tersebut, semua yang kita butuhkan akan kita dapatkan. Cinta tanah air sama saja rela berkorban demi kepentingan negara. Memajukan kehidupan bangsa, mencerdaskan diri sebagai wahana keikutsertaan dalam rangka proses pembangunan tanah air atau negara.
Menghayati arti dari cinta tanah air memanglah bukan perkara yang mudah. Perlu kesabaran dan kerendahan hati untuk mewujudkannya. Karena dalam prosesnya, akan banyak ancaman, tantangan dan rintangan yang kita hadapi datang dari mana saja, baik dari dalam diri sendiri maupun luar diri kita, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Namun jika kita tetap memiliki rasa dan kikap mencintai tanah air dengan sepenuh hati, adalah bentuk perbuatan yang merupakan bagian dari iman.
Dengan mencintai produk dalam negeri, misalnya. Hal ini sudah merupakan keharusan bagi setiap warga negara. Banyak alasan untuk mencintai produk dalam negeri, salah satunya yaitu agar produk dalam negeri sendiri bisa bersaing di kancah internasional.
Thursday, July 25, 2013
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat: Jaya Bersaing atau Mati Tergilas

Tentang Indonesia, cendekiawan ini mengaku kagum. Menurutnya, Indonesia adalah sebuah keajaiban. Alamnya kaya raya, budayanya beragam, dan tetap menjadi NKRI. “Indonesia bangsa yang unik. Padanya terdapat keajaiban budaya, keajaiban geografis, dan sebagainya. Ini sangat luar biasa, dan merupakan asset bangsa yang hebat,” katanya.
Pak Komar, sapaannya, mengilustrasikan, kalau peta Indonesia diletakkan di Eropa bagian timur atau barat, mungkin luasnya bisa mencakup 40 negara di Eropa. “Ini merupakan anugerah Tuhan. Anugerah semesta yang membuat iri bangsa lain. Indonesia ini kaya sekali, luar biasa melimpah sumber daya. Jadi kita memang harus pandai-pandai mengelola dengan baik. Sebab jika tidak, ini justru menjadi sumber malapetaka,” imbuhnya.
Sunday, July 21, 2013
Maria Tomassa: Kagum dengan Kuliner dan Kerajinan Indonesia
Masakan Indonesia memang terkenal lezat, bahkan rendang kini menjadi digadang-gadang menjadi salah satu menu masakan Indonesia yang terlezat di dunia. Istri Duta Besar Filipina untuk Brunei Darussalam, Maria Tomassa mengatakan bahwa Indonesia dan Filipina memiliki persamaan dalam hal menciptakan kuliner. Masakan yang kaya akan rempah menjadikan masakan Indonesia dan Filipina banyak dikenal di luar negeri.
“Saya beruntung bisa secara langsung menikmati aneka kuliner khas Indonesia seperti rendang, sate ayam, gudeg dan lainnya. Rupanya Indonesia tak hanya terkenal akan keindahan alam dan kerajinannya, namun juga aneka kuliner yang lezat,” papar Maria ketika ditemui Kabare di Rumah Batik Kedaton Yogyakarta.
Dalam kesempatannya berkunjung ke Jogja kali ini, Maria ingin berbelanja batik. Bagi Maria, batik merupakan salah satu kain tradisional khas Jogja yang harus dimilikinya. Baginya, ini merupakan kesempatan berharga untuk melihat sentra batik di Jogja secara langsung, sehingga kesempatan berbelanja batik takkan disia-siakan.
“Saya beruntung bisa secara langsung menikmati aneka kuliner khas Indonesia seperti rendang, sate ayam, gudeg dan lainnya. Rupanya Indonesia tak hanya terkenal akan keindahan alam dan kerajinannya, namun juga aneka kuliner yang lezat,” papar Maria ketika ditemui Kabare di Rumah Batik Kedaton Yogyakarta.
Dalam kesempatannya berkunjung ke Jogja kali ini, Maria ingin berbelanja batik. Bagi Maria, batik merupakan salah satu kain tradisional khas Jogja yang harus dimilikinya. Baginya, ini merupakan kesempatan berharga untuk melihat sentra batik di Jogja secara langsung, sehingga kesempatan berbelanja batik takkan disia-siakan.
Teks: Della Yuanita; Foto: Albert.
Saturday, July 20, 2013
Dr. Ir. Tumiran, M.Eng.: Pengembangan Energi Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Lahir dan besar di sebuah desa kecil di Deli Serdang, rupanya tak membuat sosok akademisi ini patah arang untuk melanjutkan mimpi besarnya untuk berkecimpung dalam bidang teknik. Meski sebelumnya bercita-cita bekerja di bidang ekonomi, namun Pusat Pembangkit Listrik Tenaga Air Sigura-gura Asahan, Sumatera Barat, mengubah jalan pikiran Dr. Ir. Tumiran, M.Eng., ketika pada akhirnya dirinya bermimpi ingin meneruskan pendidikannya di bidang teknik. Sebagai anak seberang, Tumiran pun memantapkan niatnya untuk mengikuti tes di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan mengambil jurusan Teknik Elektro. Siapa mengira mimpi itupun terwujud, bahkan dirinya mendapatkan kesempatan menjadi dosen di jurusan tersebut.
Mimpi Tumiran pun tak terhenti di situ. Berbekal tekad dan kemauan, dirinya kemudian mengikuti seleksi pendidikan di luar negeri untuk lebih meningkatkan ilmu yang dimilikinya. Tumiran beruntung, mimpinya tak sia-sia. Dirinya lolos seleksi pendidikan S2 Teknik Elektro di Saitama University Jepang pada tahun 1993. Sosoknya yang humble dan disukai banyak teman, membuat Tumiran pun terpilih menjadi Ketua Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang dalam medio tahun 1993.
Mimpi Tumiran pun tak terhenti di situ. Berbekal tekad dan kemauan, dirinya kemudian mengikuti seleksi pendidikan di luar negeri untuk lebih meningkatkan ilmu yang dimilikinya. Tumiran beruntung, mimpinya tak sia-sia. Dirinya lolos seleksi pendidikan S2 Teknik Elektro di Saitama University Jepang pada tahun 1993. Sosoknya yang humble dan disukai banyak teman, membuat Tumiran pun terpilih menjadi Ketua Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang dalam medio tahun 1993.
Monday, July 15, 2013
William Wongso: Pembela Keaslian Nusantara
Saat Indonesia sedang dibuai aksi kuliner para celebrity chef, William Wongso justru tampil dengan konsep berbeda. Tiga puluh tahun kenyang melanglang buana di dunia kuliner internasional, William justru terpanggil untuk melindungi keaslian rasa dan nama kuliner Indonesia. Dengan mempertahankan keaslian rasa dan nama, ia yakin kuliner Nusantara akan berjaya di mancanegara.
Om Will, begitu dia akrab disapa, memang berhasrat mengangkat derajat kuliner Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi. Baginya, kuliner adalah soal tasting dan menggali keunikan dari rasa sebuah masakan, bukan sekadar jalan-jalan dan makan-makan sebagaimana yang banyak dilakukan orang pada umumnya. Memori rasa dari sebuah masakan akan menjadi kekayaan tersendiri yang tidak bisa dipelajari secara akademis. “Even when you go to the best culinary school in the world,” tegas pemilik Vineth Bakery dan William Kafe Artistik itu.
Kekayaan akan rasa inilah yang menurutnya penting untuk dimiliki mereka yang ingin belajar kuliner. Rasa yang tersimpan dalam ingatan jadi modal berharga. Seseorang bisa menimbang-nimbang kepantasan sebuah harga makanan dan mengerti cara menikmati sebuah makanan bila ia mengerti dan mengenal rasanya, begitu ia berpendapat. Maka dari itu, ia lebih memilih dipanggil filantropis rasa dibanding sekadar ahli kuliner biasa.
Om Will, begitu dia akrab disapa, memang berhasrat mengangkat derajat kuliner Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi. Baginya, kuliner adalah soal tasting dan menggali keunikan dari rasa sebuah masakan, bukan sekadar jalan-jalan dan makan-makan sebagaimana yang banyak dilakukan orang pada umumnya. Memori rasa dari sebuah masakan akan menjadi kekayaan tersendiri yang tidak bisa dipelajari secara akademis. “Even when you go to the best culinary school in the world,” tegas pemilik Vineth Bakery dan William Kafe Artistik itu.
Kekayaan akan rasa inilah yang menurutnya penting untuk dimiliki mereka yang ingin belajar kuliner. Rasa yang tersimpan dalam ingatan jadi modal berharga. Seseorang bisa menimbang-nimbang kepantasan sebuah harga makanan dan mengerti cara menikmati sebuah makanan bila ia mengerti dan mengenal rasanya, begitu ia berpendapat. Maka dari itu, ia lebih memilih dipanggil filantropis rasa dibanding sekadar ahli kuliner biasa.
Saturday, July 13, 2013
Mara Sophie: Inner Beauty Cerminan Kecantikan Wanita
Penyanyi multitalenta, penulis lagu dan voice over actress asal Belanda, Mara Sophie, baru-baru ini datang ke Indonesia. Mara Sophie sengaja berkunjung ke Indonesia karena kini dirinya didaulat sebagai brand ambassador sebuah brand kosmetik produksi Indonesia. Sebagai penyanyi jazz ternama, Mara Sophie tak hanya sekadar memiliki paras yang cantik dan bentuk tubuh ideal. Namun dirinya juga memiliki kepribadian down to earth. Sebagai seorang wanita, Mara sangat memahami arti kecantikan sangat penting untuk kaum hawa.
“Meski demikian, seorang wanita harus bisa membangun inner beauty. Tampil cantik memang penting namun akan lebih baik jika ditunjang dengan kecantikan dari dalam. Karena bagi saya cantik yang abadi adalah kecantikan dari dalam (inner beauty) bukan hanya cantik dari luar saja. Inner beauty adalah keindahan nyata yang tak lekang oleh waktu. Inner beauty is the real beauty,” demikian ujar Mara Sophie kepada Kabare di Indische Coffee, Benteng Vredeburg beberapa waktu lalu.
Kepada para wanita, Mara Sophie berpesan hendaknya kita dapat membangun kecantikan dari dalam karena hal itu adalah asset berharga dan jika kita memiliki hal tersebut maka kita akan menjadi manusia paling indah di muka bumi ini.
“Meski demikian, seorang wanita harus bisa membangun inner beauty. Tampil cantik memang penting namun akan lebih baik jika ditunjang dengan kecantikan dari dalam. Karena bagi saya cantik yang abadi adalah kecantikan dari dalam (inner beauty) bukan hanya cantik dari luar saja. Inner beauty adalah keindahan nyata yang tak lekang oleh waktu. Inner beauty is the real beauty,” demikian ujar Mara Sophie kepada Kabare di Indische Coffee, Benteng Vredeburg beberapa waktu lalu.
Kepada para wanita, Mara Sophie berpesan hendaknya kita dapat membangun kecantikan dari dalam karena hal itu adalah asset berharga dan jika kita memiliki hal tersebut maka kita akan menjadi manusia paling indah di muka bumi ini.
Teks: Della Yuanita; Foto: Veronika Sekar
Tuesday, July 9, 2013
HE. Mr. Mourad Belhassen dan Mrs. Houda Zaibi Belhassen: Solidaritas Tali Saudara
Timur Tengah sejak lama menjadi kawasan terpenting di dunia. Secara geografis, kawasan Timur Tengah dianggap strategis, karena berada pada pertemuan benua Eropa, Asia, dan Afrika. Kawasan Timur Tengah didiami negara-negara yang secara umum kondisi sosial politiknya terhubung satu sama lain. Mengenai Timur Tengah ini, bagi Indonesia, kawasan itu selalu menarik perhatian.
Pergolakan yang tidak henti-hentinya makin menjadi perhatian sekaligus keprihatinan bangsa Indonesia. Salah satu faktor penyebab tingginya perhatian Indonesia pada kawasan itu adalah adanya kedekatan emosional (keagamaan) antara bangsa Indonesia dengan negara-negara di Timur Tengah. Selain itu, masyarakat Indonesia umumnya mempunyai cukup pengetahuan mengenai kawasan Timur Tengah, dan secara khusus adalah negara Tunisia.
Hubungan antara Indonesia dengan negara-negara di Timur Tengah, khususnya Tunisia, memang sudah lama terjalin. Secara makro, Indonesia melihatnya sejak masuknya Islam ke Indonesia. Hubungan itu diperkuat melalui pertemuan-pertemuan resmi, dengan keikut sertaan organisasi-organisasi Islam di Indonesia dalam kongres-kongres Islam.
Pergolakan yang tidak henti-hentinya makin menjadi perhatian sekaligus keprihatinan bangsa Indonesia. Salah satu faktor penyebab tingginya perhatian Indonesia pada kawasan itu adalah adanya kedekatan emosional (keagamaan) antara bangsa Indonesia dengan negara-negara di Timur Tengah. Selain itu, masyarakat Indonesia umumnya mempunyai cukup pengetahuan mengenai kawasan Timur Tengah, dan secara khusus adalah negara Tunisia.
Hubungan antara Indonesia dengan negara-negara di Timur Tengah, khususnya Tunisia, memang sudah lama terjalin. Secara makro, Indonesia melihatnya sejak masuknya Islam ke Indonesia. Hubungan itu diperkuat melalui pertemuan-pertemuan resmi, dengan keikut sertaan organisasi-organisasi Islam di Indonesia dalam kongres-kongres Islam.
Thursday, July 4, 2013
Harry Juwono: Sukses Berkat Warisi Keahlian Sang Ayah

Salah satu warisan kebudayaan China yang hingga kini masih eksis dan diakui dunia adalah pengobatan tradisionalnya. Pengobatan tradisional China bahkan dinilai sebagai salah satu pengobatan alternatif medis saat ini. Pada prakteknya, pengobatan tradisional yang telah berkembang selama ribuan tahun lamanya ini menggunakan bahan-bahan alami yang dipercaya berkhasiat bagi kesehatan ragawi. Berawal dari keahlian menjadi sinshe secara turun temurun inilah, sosok Harry Juwono memantapkan diri untuk mengembangkan usaha yang semula dirintis oleh kedua orangtuanya pada tahun 1952 di Magelang.
Wednesday, July 3, 2013
Sri Handayani: Bantu Promosikan Indonesia
Menjadi istri seorang duta besar mengharuskan Sri Handayani atau yang akrab disapa Nani ini untuk mengikuti suami ke Brunei Darussalam untuk menjalankan tugas. Meski menemani sang suami Handriyanto Kusumo Priyo di Brunei, bukan berarti Nani sepi dari kesibukan. Justru dirinya banyak bersosialisasi dengan masyarakat Brunei maupun bergaul dengan para istri duta besar dari Negara lain yang juga mengikuti tugas sang suami.
“Banyak kegiatan untuk mempromosikan Indonesia yang kami gelar seperti acara Halal Bihalal ketika Lebaram, undangan jamuan makan siang atau makan malam dengan menu-menu a la Indonesia serta gathering untuk lebih mengakrabkan diri dengan para duta besar maupun kolega lainnya,” ungkapnya.
Nani mengungkapkan bahwa dengan bertemu dan bersosialisasi serta membina hubungan persahabatn dengan para koleganya di Brunei semakin memudahkan dirinya dalam mempromosikan kekayaan Indonesia, baik berupa obyek wisata maupun produk kerajinan tangan. Nani pun tak tanggung-tanggung dalam upaya mempromosikan Indonesia kepada para sahabatnya di Brunei. Beberapa waktu yang lalu, dirinya menggelar tour ke Jakarta dan Yogyakarta bersama para istri duta besar lainnya untuk menikmati keindahan alam dan keragaman budaya Indonesia yang sangat menarik untuk dikunjungi.
“Banyak kegiatan untuk mempromosikan Indonesia yang kami gelar seperti acara Halal Bihalal ketika Lebaram, undangan jamuan makan siang atau makan malam dengan menu-menu a la Indonesia serta gathering untuk lebih mengakrabkan diri dengan para duta besar maupun kolega lainnya,” ungkapnya.
Nani mengungkapkan bahwa dengan bertemu dan bersosialisasi serta membina hubungan persahabatn dengan para koleganya di Brunei semakin memudahkan dirinya dalam mempromosikan kekayaan Indonesia, baik berupa obyek wisata maupun produk kerajinan tangan. Nani pun tak tanggung-tanggung dalam upaya mempromosikan Indonesia kepada para sahabatnya di Brunei. Beberapa waktu yang lalu, dirinya menggelar tour ke Jakarta dan Yogyakarta bersama para istri duta besar lainnya untuk menikmati keindahan alam dan keragaman budaya Indonesia yang sangat menarik untuk dikunjungi.
Teks: Della Yuanita; foto: Albert
Sunday, June 30, 2013
Anie Hashim Djojohadikusumo: Dedikasikan Hidup Untuk Berderma

Benar kiranya sebuah ungkapan bahwa kebahagiaan hidup tak dapat diukur dengan banyaknya harta, namun ada hal lain yang bisa membuat hidup lebih mulia. Berderma, hal itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi sosok wanita bernama Anie Hashim Djojohadikusumo. Kebahagiannya adalah senyum, tawa dan bahagia dari kaum akar rumput yang selama ini menjadi perhatian istri pengusaha Hashim Djojohadikusumo ini. Bagi wanita yang semasa kecilnya tinggal di Walikukun, sebuah kota kecil di Kabupaten Ngawi ini, dirinya sudah terbiasa membantu sesama sejak kecil. Sang nenek, merupakan salah satu sosok yang dikenal ringan tangan dalam membantu para tetangganya. Menginjak usia sekolah, Anie pun ikut bersama kedua orangtuanya dan tinggal di Desa Gemarang kemudian pindah ke Desa Dagangan, arah Tuban, Jawa Timur.
Thursday, June 27, 2013
Setyono Djuandi Darmono dan Rosylawati Dewi: Budaya Jawa Akar Peradaban Bangsa

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya dan tradisi yang luar biasa. Di antara ragam budaya yang ada, budaya Jawa dapat dikatakan sebagai yang tertua hingga menjadi sumber panutan. Budaya Jawa yang kita peroleh dari akulturasi budaya sejak berabad-abad silam dinilai sarat akan nilai kehidupan. Akulturasi budaya ini jelas menghasilkan suatu tradisi turun temurun yang penuh nilai moral nan luhur. Nilai-nilai tersebut mencakup norma, keyakinan, kebiasaan, konsepsi dan simbol-simbol yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Jawa. Beberapa di antaranya toleransi, kasih sayang, gotong royong, andhap asor, kemanusiaan, saling menghormati dan tahu berterima kasih.
Tuesday, June 18, 2013
Indra W. Supriyadi: Bantu Usaha Mikro Hingga Naik Kelas

Potensi Usaha Kecil dan Menengah atau UKM kini tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Sebagai salah satu usaha yang dikembangkan oleh masyarakat, UKM dinilai memiliki potensi ekonomi yang sangat layak untuk mendapatkan perhatian dari pemerintah. Kemudahan permodalan dan luasnya pemasaran harus digagas menjadi salah satu solusi untuk mengembangkan potensi UKM. Di sisi lain, potensi UKM dapat menyerap tenaga kerja dengan jumlah yang cukup besar. Berangkat dari pemikiran bahwa usaha mikro, kecil dan menengah mampu memperbaiki ekonomi bangsa, maka Indra Wijaya Supriyadi memantapkan kariernya untuk berkecimpung di dunia koperasi dan perbankan yang fokus utamanya adalah membangun UKM agar mereka bisa tumbuh dan membangkitkan perekonomian.
Sosok Indra bukan orang baru dalam dunia ekonomi. Sosok pekerja keras ini memulai kariernya sebagai asisten dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan junior researcher di World Bank. Setelah lulus dari FE UI tahun 1991, Indra pun bergabung dengan Citibank. Kemudian, dirinya pindah ke GE Capital pada tahun 1998 hingga 2008 dengan posisi akhir sebagai Dewan Komisaris. Kepada Kabare, Indra mengaku cukup lama berkecimpung di bagian consumer & corporate banking, khususnya di bagian business development. Pada 1 Juli 2008, Indra memutuskan untuk bergabung di Sampoerna. Dan kini dipercaya untuk mengemban amanah sebagai CEO Bank Sahabat Sampoerna.
Thursday, June 6, 2013
Ardian Purwoseputro: Berkarya Sebagai Ujud Rasa Syukur
“Kalau ingin berguna bagi bangsa dan negara ini, berkaryalah.” Nasehat singkat dari orangtuanya ini terekam dan melekat erat dalam benaknya, sekaligus menjadi pedoman Ardian Purwoseputro, satu diantara sedikit generasi muda Tionghoa yang terjun langsung menekuni budaya Nusantara. Baginya, Kepedulian terhadap eksistensi budaya Nusantara tak cukup hanya sebatas wacana, namun harus diwujudkan dalam karya dan langkah nyata. “Berkarya dalam bidang dan kemampuan apapun yang kita miliki, sebetulnya adalah bentuk rasa syukur terhadap Ilahi atas anugerah Nusantara ini”, kata pria Surabaya kelahiran Blitar ini.
Keraguan orang lain akan kemampuan untuk berkarya tak harus dipandang sebagai hal yang terlalu serius. “Siapa lagi anak muda yang mau peduli dengan urusan-urusan nasionalisme, budaya, pluralisme, atau sejarah, jika kita tidak beraksi?” tambahnya. Dan kepedulian itu telah diwujudkannya dalam berbagai aktifitas seni budaya yang diprakarsainya, khususnya di bidang riset, dokumentasi, penulisan, serta produksi program dokumenter.
Satu diantaranya adalah keterlibatannya sebagai penggagas, periset sekaligus narasumber dalam episode dokumenter “Naga dari Timur”, salah satu episode program Metro Files yang berkisah tentang sejarah Tionghoa di Surabaya dan sempat ditayangkan hingga tiga kali di Metro TV awal 2012 lalu. Sementara pada Januari 2013 lalu, buku hasil karyanya yang berjudul “Wayang Potehi Peranakan Tionghoa Indonesia”habis terjual dalam waktu singkat. Buku yang tergolong langka ini mengupas tuntas keberadaan Wayang Potehi sebagai salah satu warisan adiluhung budaya Nusantara.
Saat ini, disamping menyelesaikan buku keduanya tentang Wayang Potehi, Ardian sedang mempersiapan pameran dan pagelaran Wayang Potehi Indonesia yang akan digelar di Volkenkunde Museum Leiden, Belanda, awal 2014 nanti. Ia juga sedang mempersiapkan drama musikal kolosal yang mengangkat kisah nyata dari abad ke-18, yaitu kisah asmara dua anak manusia di Surabaya yang berbeda suku dan status sosialnya di tengah gonjang-ganjing peperangan di Pulau Jawa. Semoga tak ada aral melintang, drama ini akan dipentaskan di Surabaya pada bulan November 2013 nanti.
Keraguan orang lain akan kemampuan untuk berkarya tak harus dipandang sebagai hal yang terlalu serius. “Siapa lagi anak muda yang mau peduli dengan urusan-urusan nasionalisme, budaya, pluralisme, atau sejarah, jika kita tidak beraksi?” tambahnya. Dan kepedulian itu telah diwujudkannya dalam berbagai aktifitas seni budaya yang diprakarsainya, khususnya di bidang riset, dokumentasi, penulisan, serta produksi program dokumenter.
Satu diantaranya adalah keterlibatannya sebagai penggagas, periset sekaligus narasumber dalam episode dokumenter “Naga dari Timur”, salah satu episode program Metro Files yang berkisah tentang sejarah Tionghoa di Surabaya dan sempat ditayangkan hingga tiga kali di Metro TV awal 2012 lalu. Sementara pada Januari 2013 lalu, buku hasil karyanya yang berjudul “Wayang Potehi Peranakan Tionghoa Indonesia”habis terjual dalam waktu singkat. Buku yang tergolong langka ini mengupas tuntas keberadaan Wayang Potehi sebagai salah satu warisan adiluhung budaya Nusantara.
Saat ini, disamping menyelesaikan buku keduanya tentang Wayang Potehi, Ardian sedang mempersiapan pameran dan pagelaran Wayang Potehi Indonesia yang akan digelar di Volkenkunde Museum Leiden, Belanda, awal 2014 nanti. Ia juga sedang mempersiapkan drama musikal kolosal yang mengangkat kisah nyata dari abad ke-18, yaitu kisah asmara dua anak manusia di Surabaya yang berbeda suku dan status sosialnya di tengah gonjang-ganjing peperangan di Pulau Jawa. Semoga tak ada aral melintang, drama ini akan dipentaskan di Surabaya pada bulan November 2013 nanti.
Teks: Agus Yuniarso; Foto: Istimewa.
Subscribe to:
Posts (Atom)


























