Alumnus Universitas Islam Indonesia ini kini tampak amat menikmati pekerjaannya. Ia seolah lupa dengan apa yang dirasakannya dulu. Sebaliknya, ia pun sekarang justru merasa seolah 24 jam kurang untuk mengurus bisnis-bisnisnya. Beberapa bidang bisnis atau usaha, seperti restoran, toko oleh-oleh, SPBU, produksi makanan khas Jogja, juga pabrik penyuplai kedai-kedai es teler untuk wilayah Jogja, Jateng, Jatim, hingga Bali, telah dijalankannya bersama suaminya. Karena warga Jogja, kebanyakan bisnis yang dijalankan berada di Jogja.
“Memang dulu saya justru ingin bekerja sebagai pegawai kantoran. Tidak ada niatan berbisnis, dan orangtua saya yang menganjurkan saya membantu bisnisnya, selalu saya tolak, saya mentahkan. Tapi di kala saya benar-benar harus membantu pekerjaan orangtua, lama-lama saya mengetahui bahwa ada sesuatu yang memang tidak bisa diurus orang lain,” ujar pebisnis asal Jogja ini.
Seiring waktu berjalan, akhirnya Farida justru dapat memulai bisnis-bisnis baru yang dipegangnya hingga kini. “Lama-lama saya sendiri akhirnya dapat merasa enjoy juga berbisnis. Mungkin saja ini karena saya kualat sama orangtua saya karena dulu ngeyel pada mereka,” lanjutnya, sembari bergurau.
Farida saat ini telah dapat melebarkan sayap bisnisnya ke beberapa bidang. Yang terbaru saat ini, ia bersama suami sedang membangun sebuah hotel berbintang tiga di daerah Pojok Benteng Wetan, Jogja. Menurutnya, bidang usaha hospitality di Jogja sampai saat ini masih sangat diperlukan. Mengingat Jogja selalu dipenuhi wisatawan, terlebih di waktu-waktu liburan. Dengan usaha yang sedang dalam proses pembangunan ini, ia memang ingin meramaikan perindustrian pariwisata di Jogja. “Agar kepariwisataan Jogja semakin tidak ada matinya,” Katanya, mengakhiri.
Teks: FA Herru.










