
Tentang Indonesia, cendekiawan ini mengaku kagum. Menurutnya, Indonesia adalah sebuah keajaiban. Alamnya kaya raya, budayanya beragam, dan tetap menjadi NKRI. “Indonesia bangsa yang unik. Padanya terdapat keajaiban budaya, keajaiban geografis, dan sebagainya. Ini sangat luar biasa, dan merupakan asset bangsa yang hebat,” katanya.
Pak Komar, sapaannya, mengilustrasikan, kalau peta Indonesia diletakkan di Eropa bagian timur atau barat, mungkin luasnya bisa mencakup 40 negara di Eropa. “Ini merupakan anugerah Tuhan. Anugerah semesta yang membuat iri bangsa lain. Indonesia ini kaya sekali, luar biasa melimpah sumber daya. Jadi kita memang harus pandai-pandai mengelola dengan baik. Sebab jika tidak, ini justru menjadi sumber malapetaka,” imbuhnya.
Kekaguman Pak Komar ini, tentu juga menjadi gambaran bagi rakyat Indonesia tentang negerinya. Dan pastinya, tak ada yang menginginkan jika kekayaan Nusantara justru menjadi sumber petaka. Oleh karenanya, pengelolaan yang baik dan benar merupakan jalur utama untuk membangun Indonesia yang besar. Membangun Indonesia besar, memang sebuah mimpi. Namun mimpi yang sangat mungkin dilakukan. “Untuk itu, kita perlu membangun budaya unggul untuk membangun Indonesia yang besar,” ujarnya, mengawali tanya jawab dengan Kabare bulan lalu.
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat adalah akademisi sekaligus Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia merupakan sosok yang tak pernah henti menyemangati bangsanya untuk terus maju. Melalui berbagai kesempatan, baik di televisi maupun dalam diskusi-diskusi, lelaki kelahiran Magelang, Jawa Tengah, 18 Oktober 1953 ini, selalu menyisipkan pesan-pesan untuk bersama-sama membangun Indonesia sebagai sebuah bangsa yang besar. Ia alumnus pesantren modern Pabelan, Magelang dan Pesantren Al-Iman, Muntilan. Gelar sarjana didapatkannya dari IAIN Jakarta. Pada tahun 1990, Komaruddin Hidayat mendapat gelar doktor di bidang Filsafat Barat di Middle East Technical University, Ankara, Turki. Sejak itu, ia pun bergabung dengan Yayasan Wakaf Paramadina di Jakarta. Dan dari sinilah, ia mulai mengguratkan namanya sebagai cendekiawan Muslim yang cukup diperhitungkan.
Selain dalam dunia Islam, pandangan-pandangannya di bidang lain pun semakin melesat jauh. Kepada Kabare, Pak Komar juga menuturkan pandangannya bagaimana membangun negeri ini dan menjadikan Indonesia bangsa yang besar. Untuk tujuan itu, ia mengingatkan kita bahwa bangsa Indonesia juga punya sejarah perjuangan yang sebenarnya merupakan sebuah asset besar. Sebagai asset, sejarah perjuangan bagai kitab besar yang harus selalu tersimpan dalam sanubari kita. Sehingga kita dapat terus membaca, memahami, dan mengambil banyak kutipan penting di dalamnya, dan setidaknya bisa dipakai sebagai pemantik semangat tiap diri pribadi dalam rangka peran serta membangun bangsa dan negara.
Komar mencontohkan bagaimana perjuangan tahun 1928 dan 1945. Semangat, solidaritas, dan cita-cita para pemuda waktu itu untuk menjadi bangsa yang lepas dari penindasan imperialis, akhirnya dapat menciptakan kesadaran dan komitmen bersama untuk melebur menjadi satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Menghilangkan fanatisme dari yang tadinya berupa bangsa-bangsa kecil, seperti bangsa Aceh, bangsa Minang, bangsa Jawa, bangsa Sunda dan sebagainya, lalu menjadi satu yang disebut bangsa Indonesia. “Itu perjuangan yang tidak gampang dan tidak murah. Mereka bertaruh nyawa demi satu tujuan yang besar, yang pada akhirnya diproklamasikan tahun 1945. Yang mereka hadapi, sebenarnya bukan hanya imperialis tapi juga orantuanya dan raja-raja di daerah yang sudah menikmati suatu privilege dan kesuksesan tertentu. Jadi ini subversi bagi penjajah maupun subversi bagi penguasa-penguasa di daerah,” ungkapnya.
Kita, tambahnya, tidak mengalami masa itu, tapi kita bisa membayangkan dan merenungkan bagaimana para pemuda berjuang serta mau melepaskan fanatisme, kepentingan-kepentingan golongannya. “Kembali ke zaman sekarang, ada tidak kesadaran, wawasan, komitmen untuk mengambil risiko berjuang memikirkan bangsa seperti mereka?”
Benar, beda zaman memang beda pula perjuangannya. Dan pastinya, bentuk penjajahan pun tidak seperti dulu. Penjajahan masih berlangsung di zaman sekarang ini, namun dalam bentuk-bentuk yang baru juga tentunya. Dari kisah sejarah itulah, kita bangsa Indonesia, seperti yang diharapkan Komar, bisa menangkap spiritnya, dihayati dan dimanifestasikan ke dalam bentuk yang lain, yang tepat dengan kondisi sekarang.
“Kalau dulu spiritnya hidup atau mati, sekarang menurut saya, spiritnya harusnya kita berjaya bersaing atau mati tergilas. Kita memang harus punya kesadaran, penghayatan, juga mau ikhlas berjuang untuk maju atau bersaing dengan negara lain,” ujarnya.
Dengan tujuan membangun Indonesia menjadi bangsa yang besar, merupakan tanggung jawab kita semua. Yang di atas mau mengelola pemerintahan, negara dan bangsa dengan benar, dan yang di bawah juga harus mau berjuang membantu, dan dengan kesadaran mau dikelola. Dalam hal ini, pada bangsa Indonesia harus ada kebangkitan budaya. Sebab pembangunan pada akhirnya juga membangun kebudayaan dan peradaban.
Apa yang bangsa dan Negara ini punyai merupakan asset yang amat penting dan berguna. Budaya, suku, ras, agama, dan juga modal alam yang melimpah. Untuk mengelolanya dengan baik, kita hanya butuh orang-orang yang mau berjuang, jujur, rela melepaskan fanatisme golongan, dan dengan segenap hati mau bersama-sama menciptakan sebuah sistem yang baik. “Karena yang kita butuhkan adalah maju bersama-sama, makmur bersama-sama, bukan makmur sendiri-sendiri,” tutur Komar, mengakhiri.
Teks: FA Herru; Foto: Budi Prast
