468x60bannerad

Tuesday, December 31, 2013

Rudy Handoko, SE.: Transportasi Massal Harus Nyaman

Sebagai salah satu profesional yang terjun di bidang otomotif, Rudy Handoko, SE., mengatakan bahwa sistem transportasi di Jogja sudah mengalami kemajuan yang cukup pesat. Jika dulu masyarakat Jogja lebih dikenal suka mengendarai sepeda onthel sebagai moda transportasi sehari-hari, kini kita bisa dengan mudahnya melihat kendaraan bermesin baik roda dua maupun roda empat berlalu lalang di jalanan kota gudeg tersebut. Rudy yang merupakan President Director Honda Anugerah Sejahtera yang berada di Jalan Magelang Km. 7, 5, Sendangadi, Mlati, Sleman, tersebut mengatakan bahwa perkembangan transportasi yang pesat di Jogja menunjukkan bahwa tingkat perekonomian masyarakat kota tersebut semakin meningkat.

Thursday, December 26, 2013

Yuli Priyono: Kekuatan Brand adalah Kuncinya

Menjadi sebuah tantangan tersendiri tak kala dipercaya untuk mengemban tugas di suatu daerah yang baru. Namun hal itu tak menyurutkan semangat Yuli untuk berkarya di property yang saat ini dipimpinnya. Berbagai startegi ia lakukan agar semuanya bisa berjalan dengan baik. Apalagi pengalaman selama 20 tahun bergabung di Santika Group, bukanlah hal yang sulit baginya untuk mengelola Hotel Santika Purwokerto yang baru berdiri sekitar Mei 2013 yang lalu.

“Karakter kota Purwokerto berbeda dengan kota-kota yang pernah saya kunjungi, sebagai kota Kabupaten, Purwokerto merupakan kota yang unik, kota transit namun juga ada beberapa industri kecil disini. Berbagai pendekatan kami lakukan agar masyarakat disini lebih aware dengan keberadaan kami. Salah satunya adalah dengan mengundang mereka untuk datang dan menikmati fasilitas kami, ungkap Yuli.

Saturday, December 21, 2013

Ir. H. Krisniantara WP.: Menjaga Kepercayaan

“Siapa orang Jogja yang tak bangga jika keluarga Keraton Yogyakarta berkenan menggunakan dan mempercayai jasanya.” Itulah kata-kata Ir. H. Krisniantara WP, Direktur Utama Karunia Katering. Untuk hal itu, ia mengakui bahwa ada perasaan bangga ketika orang nomor satu di Yogyakarta mau menggunakan jasa kateringnya untuk melayani helatan royal wedding tempo hari. Tampaknya, bukan sekali saja Karunia Katering melayani royal wedding.

Pria yang satu ini adalah putra menantu pendiri Karunia Katering yang kini memegang dan mengendalikan bisnis katering yang sudah didirikan sebelum tahun 1970 itu. Kris beserta sang istri adalah generasi kedua Karunia Catering, bisnis katering Bu Sayid. Selama ini, Karunia Katering berjalan dan berkembang cukup baik. Itu terbukti bahwa sampai kini Karunia Katering masih sering melayani bermacam acara yang membutuhkan ketersediaan hidangan darinya.

Monday, December 16, 2013

Aning Katamsi: Berharap Seriosa Lebih Diminati

Aning Katamsi adalah salah satu soprano Indonesia yang konsisten meniti karier di bidang musik klasik. Ratna Kusumaningrum atau dikenal sebagai Aning Katamsi, perempuan kelahiran Cilacap, 3 Juni 1969 ini memiliki karakter vokal sopran. Aning adalah putri dari Pranawengrum Katamsi, yang juga seorang penyanyi seriosa. Ia adalah buah hasil didikan Catharina Leimena, yang juga adalah penyanyi seriosa Indonesia yang pernah menuntut ilmu di Conservatorio di Musica “Giuseppe Verdi”, Milan, Italia.

Saat ini, Aning adalah salah satu pelatih Paduan Suara Mahasiswa Universitas Indonesia Paragita. Selain bernyanyi, Aning juga adalah seorang pemain piano andal. Ia pernah belajar pada Iravati M. Sudiarso, salah satu sesepuh dalam dunia musik klasik Indonesia.

Friday, December 13, 2013

Ira Natalisa Ayodhia: Tanamkan Rasa Cinta Tanah Air Sejak Dini

Indonesia dikenal sejak dulu sebagai bangsa yang kaya akan keanekaragaman budaya, suku dan bahasa. Inilah yang menciptakan kerukunan dan persatuan yang erat pada kehidupan masyarakat Indonesia. Hal tersebut yang menjadi unggulan Indonesia untuk menjadi bangsa yang menjunjung tinggi nilai persatuan dan kesatuan serta menjaga lestarinya khasanah budaya bangsa. Menjunjung tinggi nilai persatuan dan melestarikan budaya bangsa bisa diapresiasikan dalam kehidupan sehari-hari, menurut Ira Natalisa Ayodhia yang lebih akrab disapa dengan Lisa Ayodhia.

Menurut Ibu dari 3 putera dan 1 puteri serta 4 orang cucu ini, persatuan dan lestarinya budaya Indonesia memang harus dipertahankan dan dijaga dengan sepenuh hati. Karena menurutnya kita sebagai masyarakat Indonesia harus melihat Indonesia sebagai jiwa dan raga kita, agar dengan sendirinya timbul kesadaran untuk mencintai dan melindungi bangsa ini sebagai bangsa yang menjunjung tinggi persatuan dan kerukunan. Selain itu Lisa Ayodhia juga memberikan wejangan dan arahan kepada putra-putri serta cucu-cucunya untuk selalu menghormati dan menghargai perbedaan-perbedaan yang ada di Indonesia. Karena dari sebuah perbedaan akan tercipta suatu persamaan prinsip yang membangun rasa kebersamaan.

“Saya membiasakan diri mendidik putera–puteri maupun cucu agar membiasakan lebih memilih karya atau produk buatan dalam negeri. Dengan menggunakan produk atau karya buatan dalam negeri kita sudah mendukung bangsa ini untuk menjadi yang terdepan dan menjadi panutan bagi bangsa lainnya. Bagi saya, cinta kepada tanah air harus dipupuk sejak dini, agar kesadaran cinta tanah air ini dapat tertanam di jiwa putra-putri Indonesia. Orang tua sangat berperan penting dalam mendidik putra-putrinya untuk bisa berguna bagi bangsa dan negara,” tuturnya kepada Kabare.

Thursday, December 12, 2013

Dino Patti Djalal: "Good to Great"

Good to great. Itulah kata yang menjadi harapan dan cita-cita Dr. Dino Patti Djalal untuk bangsa dan negaranya, Indonesia. Pastinya, putra bangsa kelahiran Beograd, Yugoslavia, 48 tahun yang lalu ini menginginkan negerinya kian maju dan semakin powerfull di kancah internasional. Dari pandangannya, ia meyakini Indonesia mampu untuk mewujudkan itu. “Sekarang kita telah berada pada posisi yang bagus. Tapi sekarang sudah tiba masanya kita bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi. Dari good to great. Dari bagus ke hebat,” papar diplomat ulung Indonesia ini.

Nama Dino Patti Djalal belakangan makin kerap diperbincangkan orang. Pun bermacam media di tanah air makin santer memunculkan sosoknya. Ya, Dino Patti Djalal adalah satu dari sebelas nama yang turut serta dalam konvensi capres Partai Demokrat. Tentu, bukan tanpa dasar dan alasan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat yang akhir Desember 2013 resmi lepas dari jabatannya ini, mengikuti itu.

Menurut mantan juru bicara Presiden SBY dan staf khusus urusan internasional ini, ia merasa terpanggil dan bertanggung jawab secara moral kepada bangsa, khususnya generasi muda. Ia berniat membuktikan diri tak hanya bisa menjadi diplomat sukses, namun juga menjadi seorang pemimpin dan politisi yang andal. Dino memang menegaskan bahwa tak ada target lain atau menginginkan jabatan strategis lain, kecuali ingin maju dalam percaturan pemilihan presiden.

Tuesday, December 10, 2013

Sidarto Danusubroto dan Sri Artiwi Sidarto: "Kemandirian Bangsa Kunci Keberhasilan Bangkitnya Indonesia"


Saat Kabare bertemu pertama kali dengan Sidarto Danusubroto, jiwa nasionalis dan patriotisme terlihat jelas di wajah tokoh yang saat ini menjabat sebagai Ketua MPR Republik Indonesia, menggantikan almarhum Taufik Kiemas. Sidarto Danusubroto memang sangat pantas untuk disebut sebagai salah satu tokoh nasionalis Indonesia, karena selama 51 tahun hidupnya didedikasikan untuk bangsa ini. Mulai dari menjadi ajudan presiden pertama Republik Indonesia Soekarno, hingga pernah menjabat sebagai Kapolda. Nasionalisme dan Patriotisme ini benar-benar ia dapatkan saat mengemban tugas menjadi ajudan seorang pejuang, proklamator, dan Presiden Republik Indonesia yaitu Ir. Soekarno.

Bung Karno memang menjadi panutan baginya dan ia juga mengatakan bahwa pengabdiannya terhadap bangsa ini terinspirasi dari perjuangan Sang Proklamator. Hal ini ia visualisasikan ke dalam sebuah buku yang berjudul Sisi Sejarah Yang Hilang. Buku ini menceritakan memoar atau pengalaman hidup dari seorang Sidarto Danusubroto selama ia menjabat sebagai ajudan presiden pertama RI.

Sidarto Danusubroto lahir di Pandeglang 11 Juni 1936 di rumah Dinas Kehutanan yang terletak di alun-alun kota. Ayahnya Danusubroto merupakan Sinder kehutanan di Karasidenan Banten. Ayahnya memiliki darah bangsawan keturunan pendiri Mataram, Panembahan Senopati dengan Garwo Retno Dumilah. Sedangkan ibunya merupakan keturunan langsung dari Sultan Hamengkubwono II Yogyakarta.

KRHT. Drs. H. Istidjab M. Danunagoro, MM.: Industri Hotel di DIY Harus Merata

Nama KRHT. Drs. H. Istidjab M. Danunagoro, MM., tampaknya tak bisa dilepaskan dari dunia perhotelan Yogyakarta. Sepertinya, Tuhan memang telah menggariskan hidupnya untuk mengabdi di industri hospitality tersebut. Sebagai General Manager Grand Quality Hotel Yogyakarta serta Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) wilayah DIY. Kecintaan Istidjab dengan dunia perhotelan sudah dirasakan sejak dirinya lulus dari SMA di Jakarta. Keinginannya menjadi pilot akhirnya kandas karena larangan dari kedua orangtuanya yang khawatir akan resiko bertugas di udara.

“Kedua orangtua saya mengarahkan untuk masuk Akademi Kepolisian, namun akhirnya saya memilih melanjutkan kuliah di Akademi Perhotelan Bandung. Meski jarang diminati orang, tapi saya sangat bangga kuliah di sana karena selain kuliah, saya juga diberi uang saku tiap bulannya,” kenang pria kelahiran Solo, 11 Agustus 1946 ini kepada Kabare.

Monday, December 9, 2013

Samuel Wattimena: Kita Hidup Hanya untuk Bahagia

Megawali karir sejak masih duduk di bangku SMA sekitar tahun 1979, mengantar seorang Samuel Wattimena menjadi salah satu designer professional di Indonesia. Karya-karyanya pun telah mengantarkan banyak penyanyi Indonesia menjuarai berbagai festival baik nasional dan internasional.

Sebut saja di tahun 1980an ia pernah menangani penyanyi seperti Rafika Duri, Harvey Malaiholo, Likes Sister, Andi Meriam Mattalata, Broery Pesolima, Vina Panduwinata,Grace Simmon, Hetty Koes Endang Kemudian di era 90-an ada Ruth Sahanaya,AB Three dan masih banyak lagi. Bahkan untuk saat ini, Bung Sammy sapaan akrab Samuel Wattimena, masih dipercaya menangani group D’Masiv untuk image barunya.

“Sejak tahun 1980 sampai dengan Tahun 90’an, setiap tahun saya menangani berbagi festival music sebagai orang yang mendandani kostum mereka, jadi pada saat itu sempat ada fenomena kalau mau ikut festival pop song yang dandanin saya pasti jadi pemenang, “ tutur Sammy.

Terlahir dari keluarga sederhana menempa seorang Sammy menjadi sosok yang mandiri. Bungsu dari 5 bersaudara ini mengaku tak pernah mendapatkan uang jajan. Untuk mendapatkan uang jajan dari sang ayah yang kebetulan menjadi bendahara RT, Sammy harus membantu sang ayah menjalanin iuran RT. “Warisan terbesar yang diberikan oleh keluarga saya adalah karakter. Jadi, walaupun kami dari keluarga menengah ke bawah kami tidak pernah kehilangan rasa syukur dan bahagia,” kata Sammy.
Copyright © Album Nama - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.