Nama Dino Patti Djalal belakangan makin kerap diperbincangkan orang. Pun bermacam media di tanah air makin santer memunculkan sosoknya. Ya, Dino Patti Djalal adalah satu dari sebelas nama yang turut serta dalam konvensi capres Partai Demokrat. Tentu, bukan tanpa dasar dan alasan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat yang akhir Desember 2013 resmi lepas dari jabatannya ini, mengikuti itu.
Menurut mantan juru bicara Presiden SBY dan staf khusus urusan internasional ini, ia merasa terpanggil dan bertanggung jawab secara moral kepada bangsa, khususnya generasi muda. Ia berniat membuktikan diri tak hanya bisa menjadi diplomat sukses, namun juga menjadi seorang pemimpin dan politisi yang andal. Dino memang menegaskan bahwa tak ada target lain atau menginginkan jabatan strategis lain, kecuali ingin maju dalam percaturan pemilihan presiden.
Lebih kurang 27 tahun putra Profesor Hasjim Djalal ini mengabdi bagi Indonesia. Ia telah membuktikan diri sebagai diplomat dan negosiator ulung di tingkat nasional dan internasional. Dino pernah berperan besar dalam pemecahan berbagai konflik di Kamboja, konflik Moro di Filipina, sengketa Laut Cina Selatan, dan konflik Timor Timur.
Pengalamannya sebagai diplomat memang merupakan modal bagi Dino. Saat menjadi Duta Besar RI di Amerika Serikat, negara yang merupakan pusat percaturan politik internasional itu, Dino telah berhasil membuat mata Amerika semakin melek dan mengarah pandang ke Indonesia.
“Pandangan Amerika pada kita positif. Antara Indonesia dan Amerika sekarang ada comprehensive partnership untuk pertama kalinya dalam sejarah. Dan dalam kemitraan ini, baik Indonesia maupun Amerika, sama-sama mengakui bahwa hubungan ini strategis. Ini suatu moment yang historis bagi Indonesia ketika ditandatangani perjanjian ini tahun 2010 antara Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan Obama,” papar Dino kepada Kabare.
Ditambahkan Dino, Amerika memang mengakui Indonesia memiliki kekuatan khusus dan sosok negara yang penting baginya. “Dalam arti, sekarang ada pertemuan antara menteri luar negeri dua negara tersebut tiap tahun, dan ada pertemuan enam kelompok kerja yang dibentuk untuk bidang demokrasi dan pemerintahan, energi, pendidikan, lingkungan, pertahanan. Jadi hubungannya sekarang lebih teratur dan lebih terstruktur. Sebelumnya kan tidak demikian,” terangnya.
Sebagai capres, Dino Patti Djalal memang paham betul permasalahan dan tantangan Indonesia di dunia internasional dan konstelasi global. Suami Rosa Rai Djalal ini dikenal memiliki jaringan yang luas dan kuat, baik di luar negeri maupun di dalam negeri.
Dino Patti Djalal memang juga dikenal sebagai seorang yang identik dengan luar negeri. Sejak kecil, ia memang terbiasa hidup di negeri orang. Studinya sampai mencapai gelar doktor pun didapatnya bukan dari universitas dalam negeri. Maklum, Dino memang terlahir dari keluarga diplomat. Namun demikian, ia bukanlah orang Indonesia yang tak kenal bangsa dan negerinya.
Ia tentu amat mengenal dan cinta pada budaya Indonesia. Dino tetap menjadi anak bangsa yang terus berupaya mengangkat budaya bangsa Indonesia di dunia internasional meskipun ia lama tinggal di luar negeri. Misalnya saja, selama menjadi dubes AS, Dino Patti Djalal dan istrinya Rosa Rai Djalal aktif mempromosikan batik ke negara negara sahabat. Diketahui, Dino belum lama ini mengadakan pameran batik dan melombakan desain batik di Amerika Serikat. Ia pun seorang yang menggemari lagu-lagu dan tari-tarian nusantara, di kala banyak pejabat yang lebih menyukai musik-musik barat. Hal-hal semacam itulah yang membuat keindonesiaan lantas tak luntur dari dalam dirinya.
Sebagai tokoh yang mencoba maju dalam percaturan capres, Dino Patti Djalal pastinya memiliki pandangan dan tujuan tersendiri untuk Indonesia. Seandainya kelak benar ia sampai kejatuhan sampur memimpin negara ini, Dino ingin dan akan membawa Indonesia menjadi sosok negara yang mumpuni dan unggul di kancah global. Dengan profil Indonesia yang telah bagus di mata dunia internasional, ia mengajak bangsa ini untuk benar-benar menjaga momentum tersebut. Beberapa buktinya, makin banyaknya investasi asing yang masuk ke Indonesia. Selain itu, Indonesia pun sudah tercatat dan masuk dalam G-20 dan sejajar dengan negara-negara lain dalam menentukan kebijakan ekonomi dunia.
“Intinya saya ingin mengusung apa yang saya namakan Nasionalisme Unggul bagi Indonesia. Yaitu kecintaan terhadap identitas Indonesia dan kebanggan terhadap Indonesia, tapi yang dirintis atau dipraktikkan adalah dengan menambah daya saing Indonesia, menambah keunggulan Indonesia,” ungkap Dino.
Nasionalisme Unggul, menurut Dino, adalah gabungan ideologi persatuan dan ideologi keunggulan. Maksudnya, Indonesia harus tetap memprioritaskan persatuan nasional demi keutuhan NKRI. “Tetapi, persatuan saja tidak cukup untuk menghadapi tantangan zaman era abad 21. Agar mampu unjuk gigi di mata internasional, bangsa ini harus memiliki keunggulan. Keunggulan yang harus dilakukan secara bersama-sama melibatkan seluruh masyarakat,” imbuhnya.
Yang paling penting dalam Nasionalisme Unggul, kata Dino, adalah menjaga keindonesiaan kita. Keindonesiaan adalah hal-hal yang hakiki dalam naluri dan jati diri kita, bangsa Indonesia. Seperti pluralisme, kebhinekaan, kebebasan, toleransi, gotong royong, dan lain sebagainya yang memang telah menjadi wajah budaya Indonesia.
“Kemudian, dalam Nasionalisme Unggul ini, kita juga harus siap beradaptasi dengan perubahan, dan juga harus menjaga Indonesia sebagai bangsa yang terbuka, yang tidak menolak perubahan, tapi justru merangkul perubahan. Bangsa yang bukan hanya pasar yang besar, tapi bisa menjadi produsen yang unggul. Bangsa yang berbudaya tinggi, dan budaya kita juga bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri. Dan budaya kita juga bisa mendunia,” seru Dino.
Dino Patti Djalal tampak bersemangat dan yakin cita-citanya itu bisa terlaksana. Pastinya, harus dengan dukungan dan keinginan yang muncul dari dalam diri masyarakat Indonesia. Menurutnya, bangsa Indonesia selama ini adalah bangsa yang paling adaptif dengan bermacam perubahan. “Jadi saya optimis bahwa bangsa Indonesia mau maju, cinta damai, cinta kebebasan, dan mudah-mudahan juga cinta keunggulan, dan bisa beradaptasi serta melakukan perubahan yang diinginkan,” tutup Dino.
Teks: FA Herru; Foto: Albert

