“Kedua orangtua saya mengarahkan untuk masuk Akademi Kepolisian, namun akhirnya saya memilih melanjutkan kuliah di Akademi Perhotelan Bandung. Meski jarang diminati orang, tapi saya sangat bangga kuliah di sana karena selain kuliah, saya juga diberi uang saku tiap bulannya,” kenang pria kelahiran Solo, 11 Agustus 1946 ini kepada Kabare.
Istidjab memulai kariernya di dunia perhotelan dengan magang di Hotel Indonesia. Istidjab mengaku saat itu memang dunia perhotelan belum tumbuh dan berkembang seperti saat ini. Setelah lulus kuliah, Istidjab sempat mengikuti training dan magang baik di dalam maupun luar negeri. Berbekal pengetahuan mengenai dunia perhotelan tersebut, karier Istidjab dimulai sebagai koki di Hotel Wisata Internasional, Jakarta. Kariernya terus menanjak hingga dirinya dipercaya menjadi Sales Manager Hotel Indonesia Jakarta tahun 1973 – 1980, Public Relations and Sales Manager Samudra Beach Hotel & Resort, Pelabuhan Ratu, Jawa Barat, tahun 1980 – 1984, Public Relations and Sales Manager Hotel Wisata International Jakarta, tahun 1984 dan Director of Sales and Marketing Jayakarta Tower Hotel Jakarta, tahun 1984 – 1991.
Pengalaman Istidjab dalam mengembangkan operasional hotel membawanya menjadi general manager di Hotel Prima Cirebon pada tahun 1991. Inilah saat dimana kecakapan manajerial Istidjab diuji untuk membangun sebuah jaringan hotel sekaligus mengangkat dunia pariwisata Cirebon. Kapabilitas Istidjab dalam membangun jaringan hotel di Cirebon, Indramayu hingga Purwokerto membuatnya dipercaya oleh beberapa pemilik hotel terkemuka di Indonesia untuk mengurusi bisnisnya yang nyaris kolaps. Tahun 1999 hingga sekarang dirinya menduduki jabatan sebagai General Manager Grand Quality Hotel Yogyakarta.
“Ini sudah tahun ke 14 saya bekerja di sini. Sekian tahun berkarier di Jogja dan dua periode menjadi ketua PHRI, saya melihat bahwa perkembangan industri perhotelan di sini tumbuh pesat. Saat ini ada sekitar 20 hotel baru di wilayah kota yang akan beroperasi. Belum lagi di Sleman dan wilayah lainnya, total ada sekitar 50 lebih hotel baru baik yang berbintang maupun melati yang akan berdiri. Berkembangnya agenda budaya dan peta pariwisata di DIY pasti terkait dengan bertambahnya pengunjung atau wisatawan yang datang, sehingga secara langsung atau tidak akan mempengaruhi jumlah okupansi hotel,” papar Istidjab.
Untuk kedepannya, Istidjab berharap Pemda DIY harus terus mengarahkan para investor untuk membangun hotel di wilayah lain, seperti di Kabupaten Bantul, Kulonprogo dan Gunungkidul, agar pembangunan hotel lebih merata. Oleh karenanya infrastruktur di daerah tersebut juga harus ditingkatkan agar mampu menarik investor untuk menginvestasikan dananya ke daerah-daerah tersebut.
Teks: Della Yuanita ;Foto : Albert

