Saat Kabare bertemu pertama kali dengan Sidarto Danusubroto, jiwa nasionalis dan patriotisme terlihat jelas di wajah tokoh yang saat ini menjabat sebagai Ketua MPR Republik Indonesia, menggantikan almarhum Taufik Kiemas. Sidarto Danusubroto memang sangat pantas untuk disebut sebagai salah satu tokoh nasionalis Indonesia, karena selama 51 tahun hidupnya didedikasikan untuk bangsa ini. Mulai dari menjadi ajudan presiden pertama Republik Indonesia Soekarno, hingga pernah menjabat sebagai Kapolda. Nasionalisme dan Patriotisme ini benar-benar ia dapatkan saat mengemban tugas menjadi ajudan seorang pejuang, proklamator, dan Presiden Republik Indonesia yaitu Ir. Soekarno.
Bung Karno memang menjadi panutan baginya dan ia juga mengatakan bahwa pengabdiannya terhadap bangsa ini terinspirasi dari perjuangan Sang Proklamator. Hal ini ia visualisasikan ke dalam sebuah buku yang berjudul Sisi Sejarah Yang Hilang. Buku ini menceritakan memoar atau pengalaman hidup dari seorang Sidarto Danusubroto selama ia menjabat sebagai ajudan presiden pertama RI.
Sidarto Danusubroto lahir di Pandeglang 11 Juni 1936 di rumah Dinas Kehutanan yang terletak di alun-alun kota. Ayahnya Danusubroto merupakan Sinder kehutanan di Karasidenan Banten. Ayahnya memiliki darah bangsawan keturunan pendiri Mataram, Panembahan Senopati dengan Garwo Retno Dumilah. Sedangkan ibunya merupakan keturunan langsung dari Sultan Hamengkubwono II Yogyakarta.
“Kemajuan Indonesia saat ini menurut kacamata saya masih memiliki banyak kekurangan. Karena saat ini kita masih tergantung kepada pemodal asing dan swasta nasional. Sebetulnya sejak dulu bangsa ini merupakan bangsa yang sangat kaya akan sumber daya alam dan keanekaragaman budayanya, tetapi mengapa saat ini kekayaan itu tidak bisa dinikmati sepenuhnya oleh masyarakat Indonesia?, “ ujar Sidharto.
Menurutnya Indonesia dapat bangkit kembali untuk menjadi bangsa yang mandiri, apabila bangsa ini tetap mempertahankan pemikiran dan konsep yang diwariskan oleh Bung Karno yaitu Pancasila dan Trisakti. Dua konsep ini merupakan perwujudan dari simbol kemandirian bangsa, dengan adanya dua konsep tersebut bangsa ini telah berhasil memiliki ideologi negara sendiri. Indonesia juga sangat dihargai serta mendapat tempat terhormat di mata negara-negara lain.
“Fakta memang menunjukkan bahwa sumber daya alam Indonesia seperti minyak, gas, emas, batu bara dan kekayaan alam lainnya semakin banyak beralih dan dikuasai oleh para investor asing dan swasta nasional. Perbankan dan telekomunikasi sudah menjadi domain korporasi multinasional. Pusat – pusat perbelanjaan, mall, maupun hypermarket juga semakin banyak berdiri yang menyedot peluang usaha kecil dan menengah,” paparnya.
Kembali ditegaskan oleh Sidarto Danusubroto bahwa kemandirian bangsa memang sangatlah penting, agar perekonomian bangsa kita tidak didikte oleh pihak lain. Liberalisme ekonomi yang terjadi saat ini yang dapat dikatakan sudah kebablasan harus bisa dihentikan. Semangat yang dikorbankan pemimpin bangsa yang terdahulu harus tetap dikumandangkan. Menurutnya, kita harus senantiasa menggugat ketidakadilan, neo-liberalisme, maupun imperialism dan kapitalisme modern yang jelas-jelas sangat menyengsarakan rakyat.
Selain itu , ia juga mengatakan bahwa kita harus kembali kepada jati diri bangsa yaitu Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara yang terdapat dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945, yaitu Pancasila sebagai Dasar Negara dan pandangan hidup Bangsa Indonesia ; UUD NRI Tahun 1945 sebagai konstitusi negara; Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk Negara yang merupakan komitmen seluruh bangsa Indonesia; dan Bhineka Tunggal Ika sebagai sistem nilai ideal di Indonesia yang menggambarkan bahwa bangsa Indonesia sekalipun terdiri atas beragam suku bangsa, bahasa, adat istiadat, agama, warna kulit bahkan potensi alamnya tetapi tetap merupakan satu kesatuan yaitu Indonesia.
“Indonesia adalah bangsa yang pluralistik, multikultural, multietnik dan multi agama. Di satu sisi , keberagaman yang dimiliki oleh Indonesia adalah aset berharga yang menyimpan berbagai kekayaan lokal. Ini yang menjadi modal kemakmuran dan kesejahteraan bangsa. Namun pada sisi lain, keberagaman ini jika tidak dikelola dengan bijaksana dapat menjadi sumber konflik sosial di masyarakat dan dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa serta keutuhan NKRI. Oleh sebab itu, agar kemandirian bangsa dan keutuhan NKRI tetap terjaga, dibutuhkan seorang pemimpin nasional yang kuat, mampu dan mau melindungi selurh bangsa Indonesia tanpa membedakan suku,agama, etnis dan daerah,” tutur Sidarto Danusubroto kepada Kabare.
Sebelum menutup perbincangan dengan Kabare Sidarto Danusubroto juga membagikan rahasia dirinya tetap terlihat energik dan sehat selalu di setiap kesempatan walaupun di usianya yang ke 77 tahun. Menurutnya ia memiliki 3 tips agar tetap tampil sehat dan bugar adalah selalu tetap berfikir positif, memberikan waktu untuk berolahraga dan sempatkan untuk berkumpul bersama keluarga. Hal ini ia lakukan bersama sang Istri Sri Artiwi Sidarto, keduanya selalu dikenal oleh setiap orang dengan Opa dan Oma muda, karena penampilan mereka yang selalu fress dan segar walaupun di usia senja.
Teks: Herlan; Foto: Rama

