468x60bannerad

Monday, August 26, 2013

Rudy Hadisuwarno: Perjalanan Sang Maestro



Sang maestro, telah tersemat pada sosok Rudy Hadisuwarno. Ia memang telah menjadi ikon tersendiri di dunia salon dan tata rambut di negeri ini. Puluhan tahun menjalani dunianya ini hingga akhirnya berhasil mengembangkan usaha dan kemampuan diri, sukses memang layak menjadi hak miliknya. Di kala telah mendapatkan itu, lantas hal apakah yang dapat diserap Rudy dari perjalanannya selama ini?

Sosok Rudy Hadisuwarno dikenal tidak hanya sebagai penata rambut professional. Tapi ia juga dikenal sebagai pengajar dan pengembang jaringan lembaga pendidikan tata rambut, serta pembuat produk kosmetika rambut. Salon yang mengambil nama dirinya telah tersebar di setiap sudut kota di seluruh Indonesia. Ia pun rasanya pantas dinamai maha guru tata rambut dan juga pengusaha hebat di bidangnya.

Semua sandangan nama yang layak baginya itu, tentu tak didapatnya dengan mudah dan cepat. Pastinya ada awal, kreativitas dan kemampuan mengembangkan, serta kesabaran, atau hal-hal lain yang musti dilalui untuk dapat memetik buah keberhasilan. Baginya, semua itu adalah proses yang butuh waktu. Sejak mula, ia pun tak memusingkan kendala, rintangan dan hal-hal lain yang bakal dilaluinya selama menjalankannya. Dan apa yang telah dicapainya saat ini adalah buah dari kesabaran dan kerjanya.

Rudy Hadisuwarno lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 64 tahun yang lalu. Ia mengawali karier di dunia salon dan tata rambut sejak tahun 1968 di Jakarta, terdorong oleh keadaan ekonomi keluarga serta pekerjaan sang ibunda yang memang pernah membuka usaha salon di rumahnya.

“Waktu itu saya selesai SMA, dan ekonomi sedang sulit sekali. Saya ingin melanjutkan pendidikan tapi tidak punya biaya untuk kuliah. Jadi akhirnya, saya harus mencari jalan supaya mendapatkan uang dan bisa kuliah. Saya lalu buka salon di rumah. Karena paling tidak, dari kecil saya sudah tau dunia salon dari ibu. Pikiran saya waktu itu, usaha ini bisa disambi sekolah, tidak harus full time,” cerita putra tertua empat bersaudara dari pasangan Iskandar dan Tresna Lestari ini.

Selagi menunggu saat-saat masuk kuliah, Rudy menyempatkan kursus pada seorang penata rambut di daerah Blok M selama satu tahun. Selang tiga tahun berjalan, salon perdana Rudy yang tanpa nama di bilangan Roxy, Jakarta Barat, tepat di gang buntu, bertambah maju. Rudy pun dilematis antara terus kuliah atau bekerja, hingga akhirnya pilihan kedua dipilihnya.

Ia berhenti kuliah dan menerusakan menjalankan usaha salonnya. Hasil yang didapatnya waktu itu lumayan. Ia bisa membantu biaya sekolah adik-adiknya serta bisa membuatnya pergi ke Inggris untuk belajar lebih lanjut mengenai tata rambut. Selama enam bulan di Inngris, Rudy belajar di dua institusi pendidikan terbaik di sana.

Sepulang dari Inggris dan melanjutkan usahanya, di saat itu pulalah usaha yang dirintisnya melaju pesat. Dalam perjalanannya, ia membuka kursus pelatihan, membuka cabang pertamanya di Duta Merlin, shopping center paling mewah waktu itu dengan nama salon persis seperti namanya. Nama Rudy Hadisuwarno lantas semakin dikenal dengan kreasi-kreasi tata rambut yang modern. Apalagi di saat ia dapat menangani tata rambut para model, bintang film, dan orang-orang kaya ketika itu. Bahkan, Rudy dapat lanjut mempertajam keahliannya di Tokyo, Paris, dan San Fransisco.

Di tahun 1977, Rudy Hadisuwarno berhasil mendapat pengakuan internasional pertama atas kreasi-kreasi tata rambutnya. Ia diangkat menjadi anggota Intercoiffure, perhimpunan ahli-ahli tata rambut professional sedunia yang berpusat di Paris. Pengakuan internasional yang didapat di tahun-tahun selanjutnya, ia juga menjadi salah satu anggota Comité Artistique de la Coiffure Française (CACF), suatu wadah organisasi di Paris bagi para penata rambut dengan reputasi tinggi.

Kemudian, memperoleh Medaille de Chevalier de la Chevalerie Intercoiffure Mondial, suatu penghargaan terhormat untuk kontribusinya mengembangkan profesi tata rambut di dunia dari ICD Mondial. Penghargaan World Master of the Craft Award dari The Art & Fashion Group International, sebuah wadah organisasi dunia dalam bidang tata rambut yang berpusat di New York, juga didapatnya dan berbagai penghargaan lainnya.

Tak hanya dari luar negeri. Di Indonesia pun Rudy Hadisuwarno mendapat penghargaan dari Departemen Pendidikan dan Kebudyaan, dan Satya Lencana Pembangunan dari Presiden Soeharto atas kiprahnya mengembangkan pendidikan luar sekolah.

“Belakangan, saya ikut juga mendirikan satu yayasan yang pusatnya di Paris untuk memberikan pendidikan, sponsor buat anak-anak mudaya untuk belajar tata rambut. Jadi menyekolahkan anak muda ke Paris, bukan hanya untuk belajar rambut, tapi juga budaya mengenai rambut secara internasional. Saat ini saya menjabat sebagai wakil ketua untuk organisasi ini se-Asia,” ujarnya. Kini pula, Rudy Hadisuwarno telah berhasil menjalankan dan mengembangkan bisnis salonnya melalui Rudy Hadisuwarno Organization (RHO) yang mengelola 140 outlet yang terdiri dari salon, sekolah kecantikan, spa dan kosmetika, di seluruh Indonesia.

Begitulah sang waktu membawa Rudy. Kerja keras, kegigihan dan keinginannya untuk terus berkembang, akhirnya berbuah demikian. Tak terhitung rasanya kontribusi yang diberikannya pada perkembangan dunia tata rambut di tanah air. Namun demikian, ia tak pernah berhenti berkarya. Terus mengembangkan usahanya dan terutama mau berbagi pada orang lain

Di usianya yang tak lagi muda, Rudy memang tidak lagi terjun secara langsung mengurus usahanya. Ia tentu saja melakukan regenerasi kepada para keponakannya. Dan di saat-saat sekarang inilah, Rudy Hadisuwarno justru lebih mengedepankan kegiatan untuk berbagi ilmu. Berkali-kali ia keliling Indonesia untuk mengajarkan sesuatu perihal rambut kepada masyarakat, seperti melalui seminar-seminar.

“Kalau kita bicara mengenai kehidupan, untuk hidup yang dikatakan berhasil dan membawakan kebahagiaan, kedamaian, itu tidak cukup sukses di karier saja. Terkenal saja tidak cukup. Tapi yang penting, dengan reputasi nama yang kita miliki, sudah seharusnya kita berbagi kepada orang lain. Bagaimana pengetahuan yang saya miliki dibagikan kepada masyarakat,” kata Rudy.

Seperti yang dikatakan Rudy, semakin banyak kita memberi kepada orang lain, semakin banyak juga kita mendpatkan rezeki. Hidup manusia memang seperti bejana yang isinya harus selalu dialirkan dan salurkan, supaya bejana itu tetap diisi dan selalu terjaga kepenuhannya.

“Kita ini sebenarnya mirip saluran. Bagikan apa yang kita punya, dan dengan sendirinya kita pun akan menerima. Bisa jadi misalnya mendapat visi-visi baru ataupun ide-ide baru. Karena manusia hidup tidak hanya kebutuhan fisik yang musti dipenuhi, emosionalnya pun harus ada kepuasan. Jadi, inilah kenapa di usia saya saat ini, saya mau capek-capek keliling Indonesia,” tuturnya, menutup.

Teks: FA Herru; Foto: Budi Prast
Copyright © Album Nama - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.