Pria bernama lengkap Peter Brian Ramsey Carey ini dikenal sebagai seorang sejarawan. Ia memang telah lama mengenal Indonesia. Di tahun 1970, Peter Carey dating ke Indonesia untuk menyelesaikan thesisnya. “Saat itu saya dating pertama kali ke Palembang untuk belajar bahasa Indonesia. Waktu saya dari S1 mau ke S2 dan S3, saya memang disarankan untuk ambil kebijakan di areal Asia Tenggara khusus pulau Jawa, untuk membuat judul skripsi mengenai zaman Raffles dan Daendels,” katanya, menceritakan awal mula ia mengenal Indonesia.
Akunya, di saat menyelesaikan tugasnya itu, Peter lantas mengenal sosok Diponegoro, seorang pangeran yang masuk daftar pahlawan bagi bangsa Indonesia. Kemuudian, Peter juga serius membuat penelitian tentang sosok Pangeran Diponegoro hingga akhirnya berujung menjadi sebuah buku.
Bukan hanya sehubungan dengan penelitian thesisnya saja Peter Carey menjejakkan kaki di Indonesia. Sejak ia mengambil pensiun muda dari Oxford sebagai dosen di Trinity College pada Oktober 2008, Peter lantas dating lagi ke Indonesia dalam rangka menjadi country director dan project director Cambodia Trust, sebuah yayasan yang bergerak memperjuangkan hak-hak orang cacat. Di samping itu, ia juga menjadi asisten profesor di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.
Memang bukanlah sejarah yang singkat Peter Carey mengenal Indonesia. Selama bersinggungan dengan budaya ketimuran, Peter Carey mengaku mendapatkan “roti hidup” dari Indonesia, khususnya saat mendalami budaya Jawa, terlebih di kala ia mendalami penelitiannya tentang sosok Diponegoro.
“Boleh dikatakan waktu saya pergi sebagai anak muda dari Oxford ke Amerika, saya dibuka dengan wawasan politik, di mana saya mulai mengerti dunia luar. Dan waktu saya datang ke Indonesia, saya seperti ada pikiran yang agak aneh. Saya merasa seperti pulang ke rumah sendiri. Dan ini pembukaan saya secara batin,” akunya.
Di Indonesia, Peter Carey mengaku mulai mengenal dan bersinggungan dengan kehidupan spiritual atau batiniah. Selama ini dia hanya mengenal kehidupan lahiriah yang didapatnya dari kehidupan di Barat, di mana semua diukur dari logika. “Pemahaman hidup di Barat, everything is very logical. Jadi saya betul-betul berkembang diIndonesia. Bukan gagasan politik atau ilmiah, tapi gagasan dengan penyentuhan dunia spiritual. Dunia yang melengkapi sesuatu yang instan di Barat,” tambahnya.
Wawasan batiniah warisan leluhur bangsa Indonesia, khususnya Jawa, menurutnya merupakan satu keunggulan budaya timur, kecerdasan manusia Jawa. Dan wawasan dan gagasan batiniah inilah yang menurutnya sangat penting bagi hidup, sebab manusia tidak hanya hidup dari roti duniawi, tapi juga dari roti spiritual.
"Jadi kita bukan hanya orang yang berorientasi pada materi atau hanya hidup dari suatu karier, tapi sejatinya ada inner life yang sebenarnya harus diberi makanan juga agar berkembang. Wawasan dan gagasan batiniah, seperti filsafat hidup orang Jawa, itu melengkapi gagasan saya untuk dapat lebih mengerti hidup dan apa tegesipun hidup. Dari ini, kita punya kesempatan dalam satu hidup untuk pencerahan. Melengkapi pemahaman logika atau hidup yang logis dengan wawasan spiritual. Semua agar hidup menjadi lengkap dan tidak pincang,” pungkasnya.
Teks: FA Herru; Foto: Albert
