468x60bannerad

Wednesday, August 14, 2013

Trie Utami diantara Kain-Kain yang Bercerita

Lama tak terdengar kabarnya, bukan berarti kesibukan penyanyi mungil bersuara emas Trie Utami menjadi berkurang. Justru kesibukannya di berbagai bidang masih sangat menyita waktunya sebagai seorang penyanyi, dosen serta salah satu anggota dari masyarakat adat. Sosok yang dikenal sebagai penyanyi dan akrab disapa Iie ini bahkan dalam waktu dekat ini sedang menyiapkan sebuah project besar bersama Krakatau. Krakatau merupakan sebuah band beraliran jazz yang digawangi oleh Indra Lesmana, Dwiki Dharmawan, Gilang Ramadhan, Prabudi Dharma, Donny Suhendar dan Iie sendiri.

Iie mengatakan bahwa project ini berawal dari reuni, namun rupanya ini bukan sekadar reuni biasa. Tapi akhirnya Krakatau Band memutuskan untuk membuat album lagi karena rupanya respon dari penggemar sangat luar biasa. Sehingga akhirnya membuat album lagi bahkan tour keliling Indonesia untuk menyapa para penggemar setia mereka. Iie mengatakan bahwa Krakatau memang bukan sekadar ada, tapi harus hadir kembali di blantika musik tanah air.

”Selain kesibukan off air yang masih berjalan, saya juga masih bekerjasama dengan salah satu toko waralaba dan baru saja saya memproduseri album Sparkling, dimana terdiri dari empat perempuan yang dibentuk dan dilatih secara khusus untuk menyanyi tapi bukan girlband. Selain kesibukan di dunia entertaint, kegiatan saya di penguatan masyarakat adat juga masih terus berjalan,” papar Iie ketika bertemu Kabare beberapa waktu lalu.

Keterlibatan Iie di penguatan masyarakat adat berawal dari keprihatinannya akan betapa banyak sistem dan nilai budaya yang kian tergusur oleh arus modernisasi dan kebijakan pemerintah. Menurut wanita kelahiran 8 Januari 1968 ini, ada banyak kebijakan pemerintah yang tidak pernah berpihak pada keberadaan masyarakat adat sebenarnya menghancurkan hukum positif yang sudah berjalan. Iie mengatakan bahwa hukum positif masyarakat adat pasti sesuai dengan lingkungannya, karena sudah dibangun selama beratus-ratus tahun turun temurun oleh masyarakat di daerah tersebut. Ketika hadir hukum negara dimana hukum tersebut masih diambil dari hukum Belanda pada masa colonial yang tidak fit in di masyarakat adat, tentunya, hal itu pelan-pelan menggerogoti dan menghancurkan masyarakat.

“Nah, saya di sini, sebagai anggota masyarakat adat saya di Jawa Barat, merasakan hal yang sama, sehingga saya bersinergi dengan teman-teman sesame masyarakat adat dari belahan bumi manapun untuk saling bertukar cerita. Saya meyakini bahwa kekuatan masyarakat itu merupakan satu-satunya jalan untuk dapat mempertahankan kekuatan mereka. Jadi kita tidak bisa bergantung dengan hukum pemerintah, namun bukan berarti hukum pemerintah itu tidak boleh diikuti, tapi tidak selalu fit in di kehidupan lingkungan masyarakat tertentu,” paparnya.

Iie kemudian mencontohkan jika dulu ketika ada maling ayam, kejadian tersebut dapat menyadarkan masyarakat bahwa ada kelompok yang keadaan ekonominya masih kekurangan. Tapi kondisi yang terjadi kini malah memprihatinkan. Masyarakat seperti diajari untuk menyerang dan melawan saudaranya sendiri. Seharusnya sanksi moral sudah cukup diberikan, karena sebenarnya Hukum positif masyarakat adat itu yang mengikat orang dalam komunitas. Namun Iie menyayangkan sikap orang-orang yang kadang justru melihat komunitas masyarakat adat sebagai suatu agama. Dalam hukum positif terdapat budaya dan nilai-nilai tradisi yang harus dijaga kelestariannya.

”Banyak hal positif yang saya dapatkan melalui kegiatan ini. Disela-sela kesibukan saya sebagai dosen di Institut Hindu Dharma Nasional di Bali dan dosen terbang di Universitas Jember, saya mendapat kesempatan untuk datang berkunjung ke berbagai tempat untuk mengenal budaya, lingkungan hingga masyarakatnya tanpa menjadi Trie Utami sebagai penyanyi. Dari sinilah saya juga mendapat banyak sekali kain persahabatan. Kain yang tidak hanya indah, namun memiliki nyawa untuk bercerita tentang kehidupan,” ujar wanita yang juga suka mengoleksi batu alam ini.

Kain Nusantara memang terkenal keindahannya, memiliki banyak corak, kain itu tak hanya sekadar indah dipakai namun juga memiliki banyak cerita terpendam di dalam motifnya. Tak hanya kain batik saja yang memiliki banyak filosofi, namun kain-kain dari penjuru Nusantara banyak yang memiliki makna yang mendalam. Kepada Kabare, Iie mengatakan jika kain –kain indah dari hasil lawatannya ke berbagai daerah di Indonesia. Iie pun lebih suka menyebutnya dengan nama kain persahabatan.

”Saya punya banyak kain persahabatan dari berbagai daerah di Nusantara. Banyak pula diantaranya yang berasal dari Indonesia Timur, seperti dari pulau-pulau kecil di gugusan Flores Timur. Saya punya kain persahabatan dari Pulau Adonara, Nusa Tenggara Timur. Ini merupakan kain tenun ikat yang merupakan simbol persahabatan antara saya dengan dua orang suster di sebuah biara di sana. Kain ini tidak datang dengan sendirinya, namun sayalah yang mendatangi kain ini. Ketika saya memakai kain ini, ada banyak cerita di dalamnya yang seringkali saya bagi ke penggemar atau teman-teman saya. Karena merupakan simbol persahabatan, maka kain ini sangat tak ternilai harganya,” jelas Iie kepada Kabare.

Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa pemberian kain persahabatan sudah merupakan kebiasaan masyarakat sejak dahulu kala. Kain bisa juga berarti pengikat, dan masing-masing warna serta corak pun memiliki filosofi tersendiri. Iie menurutkan jika wanita di beberapa daerah seperti Timor menjadi kekuatan masyarakatnya. Kebiasaan mereka menenun dapat dikatakan sebagai yoga karena gerakannya yang konstan dan kain yang ditenun pun merupakan cerita kehidupan mereka sehari-hari. Motif seperti ikan, perahu menggambarkan kehidupan mereka sebagai keluarga nelayan. Selain dari Pulau Adonara, Iie pun memiliki ratusan kain lagi dari berbagai daerah seperti Lamalera Pulau Lembata, Pulau Ende, dan masih banyak yang lainnya. Kain-kain ini dipakainya untuk show di berbagai belahan dunia. Iie tak hanya memakai namun juga menceritakan makna dibalik motif kain yang dipakainya, sehingga masyarakat lokal dan dunia kian mengenal ragam keindahan kain Nusantara.

”Mungkin bisa dikatakan saya anti mainstream, hidup saya suka bereksperimen, musiknya pun begitu. Ada hal-hal yang harus dibuka sekat-sekatnya, pada intinya setiap manusia itu hidup merdeka. Itu masuk ke dalam apapun, terutama muncul untuk tidak mengikuti yang mainstream. Nah, pilihan-pilihan itu yang pada akhirnya membuat saya tampil original. Sebagai diri saya sendiri, saya tidak terkait dengan musim fashion, karena saya membangun diri atas nama kemerdekaan dan keberdaulatan saya sebagai manusia. Artinya saya bebas mencampur ini itunya sejauh itu tidak mengurangi nilai-nilainya. Hidup itu suatu proses asimilasi dan akulturasi satu sama lain selama itu tidak saling mengganggu. Intinya, busana menurut saya harus pas pada tempatnya dan seharusnya mencerminkan pribadi sesorang. Pilihan itu sudah dipengaruhi pikiran entah itu A atau B itu merupakan suatu kedaulatan. Busana menurut saya adalah bagian dari sebuah pola budaya yang didalamnya sebenarnya mengandung unsur filosofi,” pungkasnya.

Teks: Della Yuanita ; Foto : Budi Prast
Copyright © Album Nama - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.