Keraguan orang lain akan kemampuan untuk berkarya tak harus dipandang sebagai hal yang terlalu serius. “Siapa lagi anak muda yang mau peduli dengan urusan-urusan nasionalisme, budaya, pluralisme, atau sejarah, jika kita tidak beraksi?” tambahnya. Dan kepedulian itu telah diwujudkannya dalam berbagai aktifitas seni budaya yang diprakarsainya, khususnya di bidang riset, dokumentasi, penulisan, serta produksi program dokumenter.
Satu diantaranya adalah keterlibatannya sebagai penggagas, periset sekaligus narasumber dalam episode dokumenter “Naga dari Timur”, salah satu episode program Metro Files yang berkisah tentang sejarah Tionghoa di Surabaya dan sempat ditayangkan hingga tiga kali di Metro TV awal 2012 lalu. Sementara pada Januari 2013 lalu, buku hasil karyanya yang berjudul “Wayang Potehi Peranakan Tionghoa Indonesia”habis terjual dalam waktu singkat. Buku yang tergolong langka ini mengupas tuntas keberadaan Wayang Potehi sebagai salah satu warisan adiluhung budaya Nusantara.
Saat ini, disamping menyelesaikan buku keduanya tentang Wayang Potehi, Ardian sedang mempersiapan pameran dan pagelaran Wayang Potehi Indonesia yang akan digelar di Volkenkunde Museum Leiden, Belanda, awal 2014 nanti. Ia juga sedang mempersiapkan drama musikal kolosal yang mengangkat kisah nyata dari abad ke-18, yaitu kisah asmara dua anak manusia di Surabaya yang berbeda suku dan status sosialnya di tengah gonjang-ganjing peperangan di Pulau Jawa. Semoga tak ada aral melintang, drama ini akan dipentaskan di Surabaya pada bulan November 2013 nanti.
Teks: Agus Yuniarso; Foto: Istimewa.

