468x60bannerad

Monday, January 6, 2014

Siti Indriyani Siddik: Semua Karena Cinta

Benarlah jika cinta akan budaya tanah kelahiranlah yang membuat ibu empat putra ini memutuskan untuk pulang dan tinggal selamanya di Indonesia. Siti Indriyani Siddik atau lebih akrab disapa Indy, seorang ibu asal Klaten, Jawa Tengah, ini sejak kecil hingga dewasanya hidup di Belanda. Ia mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi di negeri kincir angin itu.

Suatu kali, di tahun 1980-an, di awal tahun studinya di perguruan tinggi, Indy berkesempatan menjadi tour guide sebuah biro perjalanan di Belanda yang memiliki paket tur nostalgia ke Indonesia. Dari situlah, ia berkesempatan melihat Indonesia beserta kebudayaannya lagi. Dan dari situlah, selepas menyelesaikan studi, kira-kira di tahun 1989, Indy lantas memutuskan untuk pulang kembali ke tanah kelahirannya dan tinggal selamanya di Indonesia. Menurutnya, karena budaya Indonesia yang dilihatnya, Indy kemudian rindu dan cinta, serta punya keinginan untuk itu.

Siti Indriyani Siddik merupakan perempuan yang berpembawaan ceria dan aktif. Ia sering kali menciptakan inisiatif pekerjaannya sendiri. Semenjak tinggal di Indonesia, ia sempat membuka usaha di bidang furnitur di Klaten. Namun kemudian, ia mengaku telah mendapatkan tempat yang cocok untuk tempat tinggalnya, yaitu di Bali.

“Saya seorang yang suka kebebasan. Dan di Indonesia, saya menemukan kebebasan yang saya inginkan. Kebebasan yang amat berbeda dengan kebebasan di Belanda,” ujarnya. Maklum, waktu itu Indy memang masih cukup muda, sehingga hasrat menemukan kebebasan masih sangat besar. Sayangnya, Indy memang tak dengan detail bagaimana sebenarnya kebebasan yang didapatkannya di Indonesia ini.

Di Bali, saat ini ia tinggal. Ia pun mengaku, sepertinya di Balilah rezekinya mengalir. Di pulau dewata itu, selain ia merasa mendapatkan apa yang ia inginkan pada kebebasan, ia pun memiliki beberapa usaha di sana. Di tahun 2004 hingga 2011, Indy pernah mendirikan sebuah restoran yang berada di Seminyak. Dan hingga kini, usaha yang masih dan sedang dijalankannya adalah resort dan vila. Yaitu Alam Warna, sebuah komplek butik vila dan apartemen di Seminyak sebagai co-owner, serta Menjangan Resort.

Selain itu, ia pun menjalankan usaha perkapalan dengan bendera usaha PT Alam Laut sebagai owner sekaligus direkturnya. Dan yang baru saja dibukanya pada tahun 2012 adalah Lotus Arts de Vivre, sebuah usaha di bidang perhiasan. Belum lama ini pula, Indy juga telah ditunjuk pemerintah New Zealand untuk menjadi konsul di Bali, Indonesia. Suaminya, Firdaus Siddik, adalah konsul Brazil untuk Indonesia.

Pada tahun 2005, Indy tercatat masuk dalam La Confrerie de la Chaine des Rotisseurs Indonesia, sebuah komunitas dunia pencinta kuliner yang didedikasikan untuk pendidikan dan apresiasi terhadap seni fine dining. Di komunitas inilah, Indy dan suami menuai banyak teman, sahabat, serta mitra sosialnya. Di sini pulalah, ia mengenal seni kuliner seluruh dunia saat setiap tahun sekali mengadakan kegiatan di berbagai negara.

Sebagai sosialita, tentu saja Indy harus menjaga penampilannya, dan dalam hal ini cara berbusana. Ia mengaku sangat menggemari kebaya. “Saya selalu mengenakan kebaya Jawa atau Bali setiap saat menghadiri pertemuan di luar negeri. Saya senang menunjukkan kekhasan Indonesia, yang tentu saja tak dimiliki atau berbeda negara lain,” ujarnya.

Selain itu, ia juga suka mendesain busananya sendiri atau menggunakan desainer tanah air untuk membuatkan busana-busananya. Meski bahan atau kainnya tidak selalu dengan kain nusantara. “Sejatinya saya bukanlah seseorang yang fashionable. Tapi mengingat pekerjaan saya dan komunitas saya, tentu saja saya sendiri harus menyesuaikan diri. Namun begitu, saya tetap cinta pada budaya Indonesia, suka pada busana-busana khas Indonesia, terlebih kebaya,” ujarnya mengakhiri.

Teks: FA Herru; Foto: Budi Prast
Copyright © Album Nama - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.