468x60bannerad

Sunday, February 2, 2014

RAy. Dian Asfri Nindiani S.: Padukan Tradisi dan Modern



Indahnya kain tradisional sering kali menginspirasi banyak orang untuk berkreasi, salah satunya bagi RAy. Dian Asfri Nindiani S. Wanita cantik yang masih keturunan trah Sri Sultan Hamengku Buwono VIII ini rupanya gemar memadupadankan kain tradisional yang dimilikinya dengan bahan lainnya, di antaranya jins dan sifon. Dian mengatakan bahwa kesadaran masyarakat untuk melestarikan kain tradisional Indonesia sudah semakin meningkat. Apalagi dirinya melihat bahwa kain tradisional tidak hanya cocok dipakai di acara formal, namun juga menjadi busana sehari-hari.

Dalam kesehariannya, Dian merupakan Direktur PT. Vidia Janitra Nusantara, sebuah general trading company yang bergerak di bidang parkir robotic. Kata Dian, perusahaannnya ini merupakan satu-satunya yang mendapat lisensi dari Jepang untuk melakukan pembangunan parkir robotic yang sudah berkembang di negara-negara maju. Kepada Kabare, Dian mengungkapkan parkir robotic dapat mengatasi persoalan parkir di Yogyakarta yang kerap kali menyebabkan kemacetan. Saat ini, banyak badan jalan yang digunakan sebagai tempat parkir akibat lahan yang sangat terbatas, sedangkan jumlah pemilik kendaraan terus meningkat. Oleh karenanya, saat ini Dian tengah sibuk-sibuknya memperkenalkan parkir robot tersebut.

“Untuk menjalankan usaha ini, saya banyak bertemu orang. Sehingga saya sangat memperhatikan penampilan dan cara berbusana yang saya kenakan. Untuk busana, sudah sejak dulu saya suka memadupadankan kain Nusantara dengan bahan lainnya. Bagi saya, kain Nusantara menjadi sumber inspirasi yang tidak akan habis digali untuk dikreasikan. Seni wastra memberi identitas bagi kita yang memakainya. Karena mobilitas saya cukup tinggi, maka saya lebih suka desain baju yang simpel dan nyaman dipakai. Kebanyakan busana yang saya kenakan dalam keseharian adalah kasual namun dikreasikan dari kain tradisional yang diolah lebih modern dan stylish lagi. Beberapa busana saya coba desain sendiri karena lebih pas dengan keinginan saya,” ujar Dian di rumahnya yang asri.

Sebagai salah satu keturunan raja Mataram dan tinggal di Yogyakarta yang notabene kota budaya, inilah salah satu upaya Dian dalam mempertahankan keberadaan kain Nusantara. Salah satunya batik, agar tetap lestari. Beberapa koleksi busananya terbuat dari kain batik tulis, ulos, kain tenun ikat, kain tapis, hingga songket Palembang. Dian mengaku memiliki banyak koleksi kain tradisional dari Sabang sampai Merauke. Beberapa merupakan hadiah dari keluarga dan teman-teman terdekatnya yang memang mengetahui kecintaannya terhadap seni wastra tersebut.

“Biasanya saya memadukan bolero batik dengan celana jins. Atau, kain tenun saya kombinasikan dengan dress berbahan sifon dan yang lainnya. Saya ingin masyarakat bisa mengenal bahwa wastra Nusantara bisa tampil cantik jika dikombinasikan dengan bahan-bahan lainnya. Selain itu, saya juga ingin mengenalkan sebuah makna dari selembar kain semata, namun masyarakat perlu diberi edukasi bahwa kita bisa membuat kain tradisional menjadi busana yang nyaman untuk beraktivitas sehari-hari,” papar ibu dua anak ini.

Dian mengatakan bahwa menggunakan kain tradisional membawa kebanggan tersendiri. Karena kenyataannya, busana asli Indonesia tidak kalah dengan busana-busana tradisional negara-negara lain. Menurutnya, selain terlihat lebih anggun dan cantik, mengoleksi kain tradisional tak ubahnya seperti menyimpan warisan budaya kekayaan dan kebanggaan bangsa Indonesia. Karena di dalamnya tersimpan motif yang memiliki ciri kearifan lokal masing-masing daerah. Warisan budaya ini tidak hanya memiliki estetika ketika digunakan dalam bentuk busana. Tapi juga memiliki nilai historis tersendiri karena masing-masing daerah memiliki catatan sejarah dan proses pembuatan kain tradisional yang berbeda-beda pula oleh para pengrajinnya.

Sebagai wanita modern yang aktif berkarier, pemilik Balirejo Guesthouse ini juga mengaku menyukai berbagai tas branded, seperti Louis Vuitton, Fossil, Hermes dan lainnya. Namun Dian mengatakan, dirinya tidak brand minded, meski kerap memadupadankan busananya dengan berbagai macam tas bermerek. Itu karena Dian selalu membeli sesuai kebutuhannya saja. Dian pun mengaku dirinya tidak menyukai barang replika. Baginya itu sama saja tindakan plagiat dan tidak menghargai karya seni orang lain.

“Tidak dapat dipungkiri jika kita tidak bisa lepas dari tren fesyen dunia. Maka dari itu, saya berusaha memadukan antara kain, tas, sepatu, bahkan dengan perhiasan atau aksesoris juga. Saya merasa bahwa kain Nusantara memang bisa hadir dalam ritme kehidupan modern, baik dengan tampilan klasik maupun modern,” pungkas Dian.
Copyright © Album Nama - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.