468x60bannerad

Tuesday, February 4, 2014

AS. Kobalen: Meretas Jalan Menuju Sukses

Meraih kesuksesan bukanlah suatu perkara yang mudah. Dibutuhkan mental kuat, semangat pantang menyerah, dan ide cemerlang yang didukung kreativitas tinggi dalam membangun keberhasilan diri. Bagi orang yang bermental baja, kesulitan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan. Salah satu tokoh yang memulai kesuksesannya dari nol adalah Ketua Gema Sadhana (Gerakan Masyarakat Sanathana Dharma Nusantara), AS. Kobalen. Putra keenam dari pasangan Alm. S. Arumugam dan Almh. A. Sunthrambal ini termasuk salah seorang figur yang pernah hidup dalam keadaan yang serba kekurangan.

“Pekerjaan ayah saya hanya seorang sopir angkutan di Medan yang bergaji Rp. 25. 000,- per bulan untuk menghidupi istri dan sembilan anaknya. Dengan kondisi seperti itu, tak jarang kami harus tidur tanpa makan malam. Melihat kenyataan tersebut, pada tahun 1974 saat masih kelas 2 SD, saya pun mulai bekerja sebagai pemulung, pedagang kue, penyemir sepatu hingga mengais sampah untuk sekadar menyambung hidup. Tidur di emperan bioskop pun pernah saya jalani demi mencari nafkah,” ujarnya mengenang.

Perjalanan hidup AS. Kobalen memang keras. Selulusnya dari SMA, Kobalen merantau di Jakarta. Perjuangannya kembali dimulai manakala dirinya menghadapi keras kehidupan di ibukota. Tak hanya tidur di emperan toko, namun beberapa terminal bis ibukota pun menjadi tempat yang nyaman untuk dirinya beristirahat. Sampai pada akhirnya, Kobalen bertemu dengan S. Gurusamy yang merupakan ayah dari temannya. Atas bantuan Gurusamy, Kobalen diterima dan diangkat menjadi anak. Tak mau tinggal diam, Kobalen pun mengajar TK Private demi mengumpulkan rupiah untuk bekal kuliahnya kelak.

“Tahun 1998 saya kuliah di Akademi Pimpinan Perusahaan Indonesia. Uang kuliah saya dapatkan dari bekerja menjadi stuntman di sebuah production house. Saya juga mejadi guru bahasa Inggris untuk anak-anak TK di Wahington English Institute di Duta Mas, Jelambar, Jakarta. Karena kerja saya bagus, akhirnya saya diangkat menjadi kepala lembaga tersebut,” ujar pria kelahiran 12 Januari 1966 ini.

Lulus kuliah, Kobalen pun mendapatkan beasiswa master di India atas jaminan salah seorang petinggi Texmaco. Dengan ketekunan dan motivasi diri yang tinggi, hanya dalam waktu 3 tahun, Kobalen dapat menyelasaikan dan membawa pulang dua gelar master dan dua gelar diploma. Kobalen mengaku lebih tertarik untuk mempelajari dan menulis mengenai hal spiritual. Karena keinginannya untuk terus mempelajari tentang filosofi Hindu, maka sepulangnya dari India, Kobalen mengambil program Master Pholosophy di Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, Bali. Kobalen pun menjadi salah satu lulusan terbaik Lemhanas RI di tahun 2010.

Sepanjang perjalanan hidupnya, Kobalen sangat mempedulikan nasib kaum yang dianggap minoritas. Pada akhirnya ini mengantar Kobalen untuk aktif di berbagai organisasi baik dalam dan luar negeri. Kobalen juga menyempatkan diri untuk membina umat di kantong-kantong masyarakat daerah. Ia mengatakan bahwa dirinya ingin memperjuangkan harkat dan martabat kaum yang diminoritaskan bangsa sendiri. Oleh sebab itu, dibutuhkan perjuangan dari segala lini termasuk legislasi.

“Ketika masuk Lemhanas, saya menjalin hubungan yang baik dengan Hashim Djojohadikusumo. Akhirnya dirinya bersama Prabowo Subianto bekerjasama untuk mengangkat kaum etnis minoritas. Oleh Pak Prabowo, yang bersedia mewadahi Perjuangan Pancasila dalam UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika tanpa memandang SARA, saya diangkat menjadi salah seorang Ketua DPP Partai Gerindra Bidang Pengabdian Masyarakat dan dipercaya menjadi Ketua Umum sayap partai yang menaungi masyarakat Hindu Budha yang ingin berkiprah di bidang politik di Gema Sadhana. Gema Sadhana sendiri berarti gerakan masyarakat yang mencari kebenaran sejati demi kejayaan masyarakat Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika Tan Hanna Dharma Mangrwa di negara ini,” papar Kobalen.

Di akhir perbincangan, Kobalen mengatakan bahwa di balik kesuksesannya, ada doa ibu yang senantiasa dipanjatkan untuknya siang dan malam. Kobalen juga mengatakan bahwa dirinya selalu teringat akan nasihat kedua orangtuanya bahwa jangan pernah berbohong karena lapar, jangan pernah berhenti berdoa dan berusaha serta banggalah jadi orang miskin yang bermartabat.

Teks: Della Yuanita
Copyright © Album Nama - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.