
Ketika berdiri di atas panggung dan berorasi, kata-kata dalam pidatonya sangat berapi-api. Kepal tangannya meninju ke angkasa, seperti ingin mendobrak dan mengubah keadaan yang ada. Ya, siapa yang tidak mengenal dirinya? Saat ini, kita semua, memang tidak bisa berandai-andai siapa yang bakal memimpin Indonesia pascapemilu tahun 2014 nanti. Tapi setidaknya, kita dapat berasumsi bagaimana laki-laki ini memiliki keinginan kuat untuk mengembalikan kejayaan dan martabat Indonesia sebagai bangsa besar dan berdaulat. Ia ingin mengembalikan marwah bangsa Indonesia sebagai Macan Asia.
Sebagai seorang mantan jenderal, ia memang harus menghadapi jalan terjal. Langkah kaki dalam karier politiknya hampir selalu dijegal. Namun, laki-laki ini kembali ke panggung politik dengan gagah layaknya seorang panglima pada sebuah medan pertempuran. Ia kembali dengan gagasan visionernya, visi kebangsaan, dan segudang strategi kebudayaannya. Dari sederet bursa nama-nama tokoh nasional atau partai politik yang memunculkan diri ke permukaan sebagai calon presiden Indonesia 2014, mungkin gagasan kepemimpinan visioner ini hanya ditemui pada diri Prabowo Subianto dan belum dijumpai pada capres yang lain.
Anak dari begawan ekonomi Indonesia, Soemitro Djojohadikusumo, Prabowo Subianto memiliki dua kakak perempuan, Bintianingsih dan Mayrani Ekowati, dan satu orang adik laki-laki, Hashim Djojohadikusumo. Saat ini, Hashim dikenal sebagai seorang pengusaha andal dengan bisnis di berbagaibidang usaha.
Prabowo Subianto adalah cucu dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank Negara Indonesia dan Ketua DPAS (Dewan Pertimbangan Agung Sementara) pertama dan anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Darah patriotik Prabowo diwariskan oleh eyangnya Raden Tumenggung Banyakwide atau lebih dikenal dengan sebutan Panglima Banyakwide, salah seorang pengikut setia Pangeran Diponegoro.
Dua orang pamannya, yaitu Subianto dan Suyono yang gugur di pertempuran Lengkong pada tanggal 25 Januari 1946, melengkapi hasrat gejolak batin Prabowo Subianto untuk meneruskan perjuangan membela Tanah Air.
Lalu bagaimana pentingnya arti kebudayaan di mata seorang Prabowo Subianto? Prabowo mengatakan, sebagai bangsa yang besar harus lebih menghormati budaya bangsanya sendiri ketimbang budaya bangsa lain. Sebab, bangsa yang tidak menghargai budayanya sendiri akan menjadi bangsa yang lemah.
Ia menjelaskan, dari dulu sampai sekarang banyak negara-negara asing yang mengirim orangnya bertahun-tahun tinggal di Indonesia untuk mempelajari segala bentuk kebudayaan bangsa ini. Dari olahraga, kesenian, dan kebudayaan-kebudayaan yang lain. "Vietnam sempat menjadi juara olah raga pencak silat dunia karena belajar dari Indonesia. Begitupun Malaysia yang membawa banyak sekali ahli-ahli yang memiliki kemampuan untuk membuat songket ke Malaysia," katanya.
"Ini kelemahan bangsa kita yang tidak bisa mempertahankan warisan budaya bangsa ini di negara sendiri. Tidak ada suatu bangsa mampu berdiri tanpa budayanya, sebab kebudayaan meliputi seluruh sendi kehidupan suatu bangsa," ujar Prabowo.
Perhatian Prabowo terhadap persoalan-persoalan kebudayaan terlihat kongkrit, pada bidang seni teater misalnya, ia memberikan dukungan dana agar sebuah komunitas seni dari Indonesia mampu mengharumkan nama bangsa di kancah pentas teater dunia. Buktinya, dengan bantuan Prabowo, kelompok Teater Tanah Air pimpinan Jose Rizal Manua berhasil mempertahankan gelar "The Best Performance" dalam ajang Festival Teater Anak Dunia atau International Childrens Festival of Performing Arts, pada 5-8 Desember 2013, di New Delhi, India.
Melihat hal tersebut, Prabowo mengaku bangga atas prestasi yang telah diraih anak-anak Indonesia di ajang kejuaraan dunia. Menurutnya, anak-anak Indonesia selaku generasi penerus bangsa, diharapkan dapat terus berprestasi dan mengharumkan nama bangsa di dunia internasional.
“Mereka adalah harapan dan masa depan bangsa dan negara. Ditangan merekalah kemana negara ini akan dibawa. Jika jiwa kebudayaan mereka lemah, dapat dibeli, dan tidak nasionalis maka negara kita akan terus dijajah. Akan tetapi jika jiwa mereka kuat dan mereka memiliki gagasan serta inovasi yang membawa ke arah perubahan sesuai dengan UUD'45 serta Pancasila, maka Indonesia akan menjadi negara kuat, berdaulat, dan berdiri di atas kakinya sendiri,” katanya.
Teks: Wahyu Indro S.
