
Bila berkaca kepada para tokoh pergerakan bangsa Indonesia, maka kita akan menemukan bahwa mereka merupakan para pembelajar yang gigih dan juga pembaca yang tekun. Di antara yang banyak mereka tekuni, sejarah merupakan salah satu yang memesona mereka, dari mana mereka mendapat inspirasi perjuangan yang tak pernah kering. Hal ini yang menjadi pemikiran dari sosok wanita cantik berwajah oriental ini.
Dialah Juli Chitra Dewi, atau lebih akrab disapa Aciel. Sikapnya yang mudah bergaul dengan siapapun, periang, dan humoris, membuat ia dipercayakan sebagai humas di Yayasan Bung Karno. Menurutnya, adalah sebuah anugrah baginya ketika dapat dekat dengan dua keluarga dari tokoh nasional kebanggaan, pendiri negara ini yaitu Bung Karno dan Bung Hatta.
Ia merasa bahwa kedua keluarga tersebut sudah seperti keluarga sendiri, bahkan putra dan putri dari kedua proklamator itu sudah ia anggap seperti kakak bagi dirinya. Oleh karena itu, ia meminta kepada Kabare untuk melaksanakan sesi pemotretan dengan dirinya di dua tempat yang berbeda, yaitu di dua rumah yang memiliki kenagan dengan Bung Karno dan Bung Hatta.
Hal itulah yang membuat ia menyenangi sejarah dari Bangsa ini. Menurutnya, pentingnya pelajaran sejarah agaknya sudah lama diabaikan di negara ini. “Itu semakin terbukti dari kurangnya pengetahuan tentang sejarah yang diketahui para generasi muda bangsa Indonesia saat ini. Semua itu disebabkan oleh kurangnya kesadaran generasi muda Indonesia untuk mempelajari sejarah, dan juga tidak adanya program-program yang mendukung untuk meningkatkan kesadaran sejarah di sekolah-sekolah,” tuturnya kepada Kabare.
Bagi wanita kelahiran Jakarta, 27 Juli 1976 ini, menanamkan kesadaran sejarah pada generasi muda lebih dari sekadar retorika. Membangun kesadaran sejarah bagi generasi muda harus dimulai dari hulu ke hilir, yaitu input yang akan menjadi guru sejarah, proses pendidikan mereka, kurikulum, maupun sistem evaluasi yang tepat. Pembelajaran sejarah haruslah sebuah proses yang mempunyai makna bagi siswa, bukan sekadar menghapal angka tahun dan peristiwa saja. Hanya dengan menjadikan pelajaran sejarah menjadi sesuatu yang bermakna, maka dapat diharapkan siswa memiliki keterikatan dengan masa lalunya untuk diambil pelajarannya di masa depan. Dari sanalah muncul kesadaran sejarah bagi anak-anak muda calon pemimpin bangsa.
Pemikiran ini juga ia tanamkan pada kedua putra dan putrinya. Menurutnya, sejarah harus diberikan sejak dini agar tertanam dan melekat di diri mereka bahwa wajib untuknya menghormati dan mengerti sejarah berdirinya bangsa ini.
Selain sejarah, Aciel juga sangat concern dengan perkembagan fashion tradisional Indonesia. Menurutnya dari bahan dan motif-motif tradisional dan klasik yang kita miliki, bisa tercipta suatu hasil karya mode yang modern dan unik. Ia menambahkan, bahan-bahan fashion tradisional Indonesia, seperti batik, songket atau tenun dapat disandingkan atau diserasikan dengan bahan-bahan modern saat ini. Bahkan terlihat lebih cantik bila mengenakan busana dari hasil modifikasi tersebut.
Pengalaman yang sangat mengesankan bagi dirinya adalah saat Mas Guruh Sukarno Putra memberikan tantangan pada dirinya untuk selalu tampil dengan menggunakan kain di setiap kesempatan. Ternyata dari tantangan tersebut, ia mendapat sebuah ilmu yang bermanfaat, bahwa tidak mudah untuk mengenakan sebuah kain tradisional. Yang sepertinya terlihat mudah, tetapi sulit saat mengenakannya. Dari hal tersebut, ia juga mengetahui bahwa setiap kain memiliki filosofi dan makna tersendiri.
Walaupun Aciel merupakan lulusan perguruan tinggi di Sydney, Australia, rasa nasionalisme dan patriotisme yang ia miliki tidak berkurang sama sekali. Bahkan ia memiliki keinginan mulia untuk membuat film dokumenter yang bercerita tentang sebagian sejarah bangsa ini, dan juga program untuk mengenalkan tempat-tempat yang mempunyai histori dengan kedua proklamator kepada para generasi muda di Indonesia.
Selain itu, di akhir perbincangannya dengan Kabare, ia juga mengatakan bahwa Yogyakarta adalah kota yang berkesan, karena dapat membuat seseorang yang pergi ke sana tidak ingin untuk meninggalkannya dan ingin kembali lagi.
Teks & Foto: Herlan
