
Masyarakat Jawa memang mengagungkan batik sebagai kain tradisional yang memiliki banyak makna. Tak mengherankan karena batik memiliki ragam corak yang dibuat oleh tangan-tangan terampil para pengrajinnya yang rata-rata sudah berusia lanjut. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada sejak zaman Majapahit dan menjadi popular akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Tentu saja batik yang dikenal adalah batik tulis, yang proses pewarnaan kainnya menggunakan malam. Fenomena kepopuleran barik semakin meroket ketika UNESCO menobatkan batik sebagai warisan budaya tak benda pada 2 Oktober 2009 lalu.
Nyi.Ambar Lukitaningsih, SE, MM., merupakan salah satu tokoh wanita yang menghormati keagungan karya seni batik. Kecintaannya akan batik bermula ketika wanita yang akrab disapa Ita Haryo ini melihat sang bunda mengenakan kain batik sebagai busana sehari-harinya. Dari sang bunda pula, Ita mengetahui berbagai macam corak batik beserta maknanya.
“Banyak hal yang saya ketahui mengenai kain batik. Batik, wanita dan Jawa merupakan hal yang menyatu. Sebagai wanita Jawa, Ibu saya memang selalu mengenakan kain batik tulis untuk dipakai sebagai busananya. Tak hanya sebagai busana sehari-hari, namun Ibu saya pun mengenakan batik untuk menghadiri acara formal, dan dari beliau pula saya mengenal berbagai macam motif batik yang memiliki filosofi seperti wahyu tumurun, udan liris, sido mukti luhur dan sebagainya. Oleh karenanya maka secara tidak langsung itu membuat saya otomatis mencintai batik sampai akhirnya saya mendirikan Batik Kedaton pada tahun 2005 di Jalan Rotowijayan demi mewujudkan kecintaan saya pada kain tradisional ini,” papar Ita kepada Kabare.
Wanita yang juga berprofesi sebagai seorang dosen sekaligus Wakil Direktur Pasca Sarjana Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta, dan sedang menempuh pendidikan S3 di salah satu universitas ternama di Yogyakarta ini juga masih menyimpan koleksi-koleksi batik lawasan dari sang Ibunda sebagai kenang-kenangan. Kecintaannya akan batik juga membuat istri dari dr. Haryo Yudono Sarodja, Sp.M., ini sengaja mengambil penelitian tentang batik alam untuk tesisnya.
Ita memang menaruh harapan besar dengan batik alam. Dirinya berharap pemerintah dapat menaikkan kembali pamor batik alam. Meski warnanya tidak secerah batik berbahan kimia, namun batik alam dinilai mampu menjaga keseimbangan lingkungan. Ibu satu anak ini mengatakan bahwa dirinya pernah ditolak oleh Belanda ketika mengirimkan batik-batiknya karena terbuat dari bahan kimia.
“Pemerintah Belanda memang cukup ketat dalam menerima barang ekspor yang menggunakan bahan kimia. Wajar karena kita semua sedang menggalakkan program Go Green. Batik alam termasuk salah satu barang ekspor yang sangat diminati Belanda. Meski hanya menggunakan zat pewarna alam yang umumnya diperoleh dari hasil ekstrak berbagai bagian tumbuh-tumbuhan seperti akar-akaran, kayu, daun, biji ataupun bunga. Beberapa diantaranya yakni indigo yang memberi efek warna biru, kelapa yang memberi warna krem kecoklatan, teh, secang, kunyit dan bawang merah,” ujarnya.
Kepada Kabare, Ita mengatakan bahwa dirinya memang sengaja untuk berusaha mempopulerkan batik alam. Bukan tanpa alasan Ita melakukan hal itu, selain ingin mengangkat batik alam sebagai kebanggaan Indonesia, Ita juga ingin berupaya menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan dari unsur-unsur kimia yang berbahaya. Di showroom batik miliknya, Ita bekerjasama dengan para pengrajin batik yang ada di Jogja seperti di Imogiri, Kulonprogo dan lainnya, untuk mengisi kain-kain batik untuk dijualnya. Selain ingin memberikan ruang bagi para pengrajin untuk berkarya, Ita juga berusaha membatu perekonomian mereka dengan turut membantu memasarkan produk-produk karya mereka. Tak hanya itu, Ita yang juga dosen mata kuliah Seni Menjual dan kuliah praktek kewirausahaan (KPK) ini meyediakan tempat belajar bagi para mahasiswanya untuk bisa praktek secara langsung dalam mengembangkan diri sebelum memasuki dunia kerja yang nyata.
Meski mengaku sangat mencintai batik, namun Ita rupanya juga menggemari berbagai kain tradisional dari berbagai daerah di Indonesia. Manakala dirinya bertugas atau berlibur di luar daerah, Ita selalu menyempatkan membeli berbagai macam kain khas tradisional dari berbagai daerah untuk melengkapi koleksinya. Seperti sesi pemotretan kali ini, Ita mengeluarkan koleksi kain songket, kebaya dengan bordiran khas Tasikmalaya, hingga kain endek Bali. Bagi Ita, inilah kebanggaanya dalam mengapresiasi kain-kain tradsional khas Nusantara yang indah dan bermakna.
Sebagai wanita karier, Ita pun mengaku cukup aktif mengikuti perkembangan fashion tanah air. Tak hanya mengkoleksi berbagai kain tradisional Nusantara saja, namun Ita juga mengaku suka dengan model-model sepatu dan tas branded. Meski tak banyak, namun semuanya original. “Saya suka model-model tas dari Hermes, Louis Vuitton dan Michael Kors karena modelnya long last, dalam artian bisa dipakai sepanjang masa dan dapat dipakai di berbagai suasana. Selain itu kualitasnya juga bagus dan awet,” pungkasnya sambil tersenyum.
Della Yuanita ; Foto : Budi Prast
